KEABSAHAN PERANG MELAWAN TERORISME


 

Oleh : Farid Wadjdi

Direktur Forum On Islamic World Studies (FIWS)

Setiap bulan September , rakyat AS kembali memperingati tragedi serangan terhadap gedung kembar WTC. Pemerintah Bush pun menjadikan tanggal itu menjadi ritual baru AS. Rakyat AS pun diajak untuk menyadari bahwa musuh mereka para teroris masih ada. 11 September menjadi moment penting dalam kebijakan luar negeri AS. Sejak itu, Bush  hanya memberikan dua pilihan pada dunia: ikut AS atau ikut teroris dengan resiko akan diperangi oleh Amerika Serikat. 11 September 2001  menjadi tonggak penting AS dalam perang barunya : perang melawan terorisme.

Disisi lain  semakin banyak pihak yang menggugat keabsahan perang melawan terorisme ala AS ini. Bahkan di dalam negeri AS sendiri mulai muncul pertanyaan apakah perang ini memang layak atau tidak. Ada beberapa poin penting yang menjadi dasar mempertanyakan kelayakan perang ini. Yang pertama adalah  peristiwa 11 September 2001 itu sendiri. Muncul pertanyaaan apakah AS memang diserang teroris dari luar atau serangan   ini merupakan rakayasa pihak AS sendiri , dalam hal ini Bush. Ataupun kalau serangan ini dilakukan oleh pihak luar (musuh AS) , kenapa pemerintah Bush tidak mampu mencegahnya. Apakah tidak mungkin Bush membiarkan terjadinya serangan ini ?

 Pertanyaan-pertanyaan kritis ini memang layak untuk diajukan. Terlampau banyak ‘misteri’ yang belum terungkap secara transparan dan belum terjawab secara memuaskan. Antara lain mempertanyakan apakah mungkin konstruksi baja gedung yang demikian kokoh, luluh karena ditabrak oleh pesawat. Serangan terhadap Pentagon pun dipertanyakan, bagaimana mungkin pesawat boing 757 dengan tinggi 15 meter, panjang 51 meter dan bobot 100 ton hanya mengakibatkan lubang sekitar enam meter tanpa serpihan. Hingga kini juga belum ada jawaban memuaskan tentang tidak adanya nama arab dalam daftar penumpang American Airlines no 11 yang menabrak WTC. Padahal pemerintah AS mengatakan pembajaknya adalah warga Saudi. Termasuk kenapa beberapa orang yang dituduh sebagai pembajak, ternyata masih hidup bahkan ada yang sudah mati beberapa tahun sebelum terjadinya serangan itu. Sederet pertanyaan lain pun bermunculan. Dari semua itu yang paling prinsip adalah pertanyaan kenapa pemerintah AS kecolongan, padahal sistem pertahanan AS dikenal canggih  ? Kenapa tidak ada jawaban yang rasional ? Kenapa tidak ada yang bertanggung jawab atas kegagalan sistem pertahanan AS ini ?  Disamping itu begitu banyak kebohongan dalam argumentasi AS dalam perang babak baru ini. Saat menyerang akan menyerang Irak, alasan utama yang paling sering diangkat oleh Bush adalah ancaman senjata pemusnah masal rezim Sadam yang ternyata tidak terbukti. Termasuk kebohongan Bush yang mengkaitkan rezim Sadam dengan Al Qaida yang tidak terbukti sama sekali. Hal ini diperkuat  oleh laporan Kongres AS September 2006 .  Termasuk Bush akhirnya mengakui adanya penjara-penjara rahasia, sesuatu yang jelas bertentangan dengan HAM. Sesuatu yang ditutupi selama ini. Rezim Bush pun bersikukuh tidak melakukan pelanggaran HAM terhadap para tahanan yang dituduh teroris. Padahal sudah banyak lembaga HAM dunia yang menggugat perlakuan AS terhadap tahanan perang di Abu Ghuraib Irak dan Guantanamo Kuba.  Alasan penyebaran demokrasi untuk membendung terorisme pun dipertanyakan banyak pihak. Berulang-ulang Bush mengatakan bahwa terorisme akan bisa dicegah terutama di Timur Tengah dengan membentuk Timur Tengah Baru (The New Middle East) yang demokratis dan menjunjung HAM. Pertanyaannya apakah demokratis memaksakan sistem demokrasi terhadap negara lain ? Tentu saja sulit menerima alasan demi demokrasi untuk melegalkan pembunuhan terhadap rakyat sipil dan pelanggaran HAM terhadap pihak yang dituduh teroris.  Apalagi AS sepertinya tidak benar sungguh-sungguh untuk membangun demokrasi. Terbukti alasan demokrasi hanya ditujukan terhadap Irak , Afghanistan, dan Suriah. Disisi lain, AS tidak banyak berbuat dan terus mendukung pemerintah Saudi dan Mesir yang represif. Hal ini diperkokoh oleh standar ganda AS terhadap HAMAS yang dikucilkan meskipun dipilih oleh rakyatnya secara demokratis. Iran dibawah pimpinan Ahmadi Nejad disebut Bush sebagai pemerintahan Tiran, seakan Bush menutup mati bahwa Ahamadinejad terpilih oleh rakyat Iran lewat pemilu yang demokratis.  Last but not least, sikap standar ganda AS terhadap Israel pun semakin memberikan arah bahwa demokrasi AS adalah demokrasi kepentingan. Artinya, demokrasi akan dipakai kalau sejalan dengan kepentingan AS.  Perang Terhadap Islam ?  

Tidak pelak lagi , alih-alih perang terorisme membawa ketentraman dunia, perang ini justru menimbulkan konflik yang berkepanjangan dengan korban yang paling banyak adalah rakyat sipil. Hingga kini pembunuhan terus berlanjut di Irak dan Afghanistan. AS tentu saja yang paling bertanggung jawab dalam konflik ini, bukankah AS sebagai penguasa yang riil di kawasan tersebut ? Di AS sendiri banyak yang mengatakan justru AS semakin tidak aman dengan kebijakan Bush ini.  

Yang lebih ironis lagi, perang melawan terorisme ala AS ini semakin memperdalam perbedaan antara negara-negara Barat dan dunia Islam. Semakin tampak dan terasa Islam dan umat Islam-lah yang menjadi sasaran utama  dalam perang ini. Sejak awal perang Bush telah mengisyaratkan ini dengan menyebut perang melawan terorisme adalah crusade (perang salib). Meskipun mengaku salah ucap , kata-kata yang senada diulangi lagi oleh Bush dan pejabat di bawahnya. Perang ini pun menjadikan Islam sebagai monster dan iblis . Tampak dari istilah-istilah berkonotasi buruk yang disandingkan dengan Islam oleh Bush untuk menamakan musuhnya seperti istilah islam fasis , islam radikal, atau islam militan. Bush  di depan The National Endowment for Democracy (september 2003) menyebut ideologi teroris dengan istilah ‘the murderous ideology of the Islamic radical’ dan menyamakan perang ini sama dengan perang melawan komunsime.   

 Bush dan sekutunya pun menjadikan konsepsi Islam seperti syariah, jihad dan Khilafah menjadi musuh dalam perang ini. Jihad  yang demikian mulia dalam pandangan Islam pun dikonotasikan jelek dan merusak. Bush dan sekutunya juga sering mengkaitkan bahwa ideologi teroris  yang menurutnya bercita-cita menerapkan syariah Islam dan Khilafah. Bush dalam sebuah pidatonya mengatakan para teroris hendak membangun sebuah imperium radikal Islam dari spanyol sampai Indonesia. Rumsfeld pun mengatakan hal yang sama dengan mengatakan di Irak akan berdiri Khilafah Islam kalau tentara AS ditarik dari sana  (Washintonpost 5/12/2005). Blair sekutu dekat Bush pun lebih jelas lagi dengan menyebut empat ciri ideologi setan para teroris : anti Israel, anti Nilai-nilai Barat, ingin menerapkan syariah Islam, dan mempersatukan umat Islam dengan Khilafah (BBC News 16/07/2005).  Demikian kalau melihat sebagai besar nama orang dan data organisasi yang dianggap teroris adalah orang Islam adan organisasi dengan nama Islam. Lebih-lebih lagi kalau dihitung jumlah  korban yang paling besar justru adalah umat Islam . Perang Irak dan Afghanistan telah menelan ratusan ribu kaum muslim. Bandingkan dengan 3000 korban WTC. Disamping itu negeri-negeri Islam-lah yang menjadi sasaran perang ini seperti Irak dan Afghanista. Sementara Iran dan Suriah sepertinya menunggu giliran berikutnya. Yang pasti kalau AS juga menyerang kedua negara ini, akan semakin sulit negera Paman Sam ini menolak bahwa yang mereka perangi sesungguhnya adalah umat Islam.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: