MELINDUNGI ANAK DARI TELEVISI BERACUN


Ummu Salamah  

Bisa jadi kita berdecak sambil keheranan ketika mendengar berita tentang Erric Harris (18) dan Dylan Klebold  (17).Keduanya adalah pelajar Columbine High School Di Littletown Colorado AS yang menembak  mati 11 orang teman dan seorang gurunya di sekolah pada 29 April 1999.  Keduanya adalah anak yang mampu berjam-jam main game yang berisi kekerasan. Meski sudah jelas game maupun tayangan televisi  yang berisi kekerasaan seperti smack down berdampak buruk kepada anak, Indonesia malah memberi izin penayangan acara itu.

Walhasil satu demi satu peristiwa kekerasan oleh anak mulai kita saksikan di negara kita sendiri, atau bisa jadi pada tetangga kita sendiri. Reza Ikhsan Fadhilah, siswa kelas III SD Kabupaten Bandung tewas di tangan temannya sendiri ketika meniru gaya smack down. Juga terjadi pada M.Arif (11) siswa kelas V SD Kualatungkal jambi, yang tangannya patah karena sebab yang sama/ Juga Ade Septian Hunga (7)yang cedera parah juga karena meniru gaya acara produksi TV milik World Wrestling Entertainment Di Amerika Serikat. Bisakah kita mengatakan bahwa Indonesia tidak mau belajar dari pengalaman?Padahal sudah ada survey yang dilakukan Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washington memperkuat survai itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV yang juga banyak menayangkan kekerasan di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika Selatan). Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar.Benarkah semata-mata karena tidak mau belajar? KORBAN SISTEM Kita harus jeli melihat akar permasalahan kekerasan oleh anak ini. Apabila kita hanya menyalahkan individu-individu,maka jelas masalah ini tidak akan pernah tuntas. Sebagai negara yang menganut sistem kapitalisme, Indonesia menerapkan prinsip liberalisme dalam sitem ekonominya. Ini sangat dirasakan dalam bidang hiburan, terutama televisi.Media ini tidak memperdulikan apapun dari dampak tayangannya kecuali keuntungan finansial.Kalau di negara aslanya saja tayangan Smack Down ini pendapatannya (revenue) WWE pada tahun fiskal 2006 mencapai USD 400 juta, dengan perkiraan laba bersih sebesar USD 47 juta. Sebuah angka yang fantastis dan keberhasilan yang pasti ingin ditiru oleh pengusaha hiburan  di Indonesia. Negara kapitalis tidak pernah mau peduli terhadap dampak negatif dari tayangan kekerasan atau pornoaksi dan pornografi,sekalipun kian hari, kian tahun menuai penyakit sosial dari masyarakat yang notabene adalah konsumennya sendiri. Yang menjadi fokus perhatian mereka hanyalah keuntungan materi .Sehingga sepanjang tayangan tersebut masih laku dijual,maka ia akan diproduksi. Selera pasar adalah ”raja”bagi pengusaha hiburan.  Kapitalisme sekuler juga sangat mengagungkan nilai-nilai materi sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan.Standar nilai yang diagung-agungkan adalah manfaat jasadiyah. Masyarakat mengadopsi seluruh nilai ini dengan disadari atau tidak. Karena itu permasalahan besar dari dunia hiburan via media televisi ini adalah sistem kehidupan yang diterapkan oleh pemerintah kepada masyarakat. Inilah juga yang menjadi buah simalakama bagi keluarga-keluarga sebagai bagian dari masyarakat kapitalis. Selain televisi juga dibutuhkan sebagai sarana informasi dan hiburan, akan tetapi hiburan ataupun berita-berita yang kita tonton selalu saja sarat informasi kekerasan dan porno. Jadi apa yang harus kita lakukan untuk melindungi generasi kita ? Peran Penting Orang Tua  Anak adalah imitator ulung, apalagi pada usia emas mereka yaitu 1-5tahun.Tidak aneh kalau kemudian ada anak yang tiba-tiba melempar piring hingga pecah, atau tiba-tiba berbicara gagap karena meniru adegan televisi dari tokoh idolanya. Memang begitulah proses tumbuh kembang anak.Sehingga perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi ketika anak kita menonton tayangan televisi: 1. Pilih jenis tayangan televisi yang baik untuk anak . Ini bukan karena orang tua boleh menjadi diktator, akan tetapi karena semata-mata anak dalam usia 1-5 tahun belum dapat melakukan proses berpikir yang sempurna. Sehingga mampu untuk melakukan filterisasi dalam memilih tayangan televisi. Orang tua pun harus mempunyai kesadaran politis yang tinggi sehingga mampu memilihkan tayangan yang tidak berdampak negatif.Ada baiknya apabila remote control televisi dipegang dan dikendalikan oleh orang tua,sehingga apabila tiba-tiba muncul adegan atau iklan kekerasan atau porno,maka harus segera diganti. 2.Jelaskan  kepada anak-anak dengan logis dan syar’i kenapa sebuah tayangan tidak boleh ditonton. Usahakan penjelasannya    dengan cara yang hangat, mudah dimengerti dan menyenangkan.Sehingga anak paham maksud kedua orangtuanya kenapa meraka dilarang menonton sebuah acara televisi. Disinilah pentingnya orang tua mendampingi anak saat menonton. Proses pendampingan ini sekaligus juga akan menghangtkan hubungan komunikasi orangtua dengan anak. Berdiskusilah dengan anak, minta dan tampung pendapatnya. Jangan yang muncul hanya kesan orang tua yang diktator, yang ini dilarang yang itu dilarang. Dengan memahami kenapa sebuah tayangan dilarang untuk ditonton, kesan itu akan hilang.  3.Menjelaskan nilai-nilai Islam dan motivasi kehidupan berupa akidah Islam yang terkandung dalam tayangan tersebut. Apabila bertentangan dengan nilai halal-haram,maka orangtua harus menjelaskan tanpa rasa bosan.Lama kelamaan anak akan memahami bahkan ketika ia dewasa maka dengan kerelaannya ia akan mengadopsi penjelasan orangtuanya tersebut. 4. Berikan tontonan alternatif kepada anak. Kita harus paham dunia anak-anak tidak bisa dilepaskan dari hiburan termasuk menontot tv atau film. Tentu saja orang tua tidak arif melarang total anak untuk menonton tv atau film. Langkah yang lebih bijak adalah mencari film-film alternatif untuk anak , seperti film perjuangan Islam, renungan terhadap keajaiban alam, dan lain-lain. Setelah kita kita diskusi dengan anak kita nilai positif apa yang bisa diambil dari film itu. Kalau perlu buat semacam kuis, dimana pemenangnya diberikan hadiah. Hal ini tentu saja akan menyenangkan anak kita.  Demikianlah langkah praktis orang tua untuk melindungi anak dari bahaya media seperti telivisi. Namun, tentu saja langkah ini tidak cukup. Perlu upaya politis untuk menuntut pemerintah secara serius melarang acara-acara yang buruk. Disinilah letak penting perjuangan perubahan sistem menjadi sistem Islam. Sebab, kalau sistemnya Kapitalis, media massa terutama televisi hanya akan menjadi alat keuntungan kaum kapitalis, tanpa perduli korbannya bergelimpangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: