MUI HARUS SEMAKIN BERANI KOREKSI PENGUASA


 Oleh : Farid Wadjdi Direktur Forum On Islamic World Studies (FIWS) Jakarta MUI baru saja menyelesaikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2006.   Rakernas MUI tahun ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi. Antara lain mendesak pemerintah menindak tegas tanpa pandang bulu semua pelaku perusak lingkungan. Semua pelaku pembalakan liar, penambang liar, dan perilaku yang menimbulkan bencana, dinilai MUI tak boleh dibiarkan dan harus dihukum seberat-beratnya . (Republika 26/07/2006) MUI belakangan tampak semakin tegas sikapnya. Tidak hanya mengeluarkan fatwa haramnya pornograpi dan dukungan pentingnya RUU anti pornograpi dan porno aksi (RUU APP).  MUI pun turun bersama umat dan ormas-ormas Islam mengkampanyekan anti pornograpi/aksi, menyelamatkan moralitas bangsa ini. Aksi yang digerakkan Tim Pengawal RUU APP MUI   ini berhasil mengumpulkan hampir sejuta massa. Aksi ini menuntut keseriusan DPR dan Pemerintah memberantas pornograpi dan pornoaksi di Indonesia yang sudah sangat mengkawatirkan. MUI pun Ahad 21 Mei 2006 bersama ormas Islam lainnya mengeluarkan “Deklarasi Umat Islam” di masjid Istiqlal Jakarta.  Inti dari deklarasi ini adalah menegaskan kembali perlu umat Islam melangkah bersama dalam menghadapi berbagai persoalan keislaman dan kebangsaan. Deklarasi inipun menegaskan pentingnya  koordinasi, sinkronisasi, dan gerak sinergis (tansiq al harakah) di bawah koordinasi MUI. Deklarasi inipun menyoal persoalan politik yaitu kewajiban mempertahankan keutuhan wilayah negara Indonesia dari tindakan pengkhianatan dan sepratisme. Disamping menekankan pentingnya perlindungan terhadap umat dan pemberdayaan umat di bidang ekonomi dan pendidikan.   Perubahan Pradigma MUI ?  Memang belakang ini ada semacam perubahan di tubuh MUI. Kalau dulu banyak yang sinis memandang MUI. Cap Stempel pemerintah pun dilekatkan kepada lembaga Majelis Ulama ini. Dan itu memang dirasakan banyak pihak terutama di masa orde Baru. MUI saat itu sepertinya sering dijadikan legitimasi penguasa untuk kepentingan politiknya. MUI saat itupun tidak berperan besar mengkritik penguasa yang tampak jelas mendzolimi rakyat terutama Islam dengan kebijakan-kebijakannya. Cap ini pun semakin melekat melihat pengurus MUI saat itu banyak merupakan orang-orang birokrat. Hal yang senada disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Amidhan, mengatakan MUI saat ini mengalami pergeseran peran dari semula melayani pemerintah menjadi melayani masyarakat. (Republika 26/07/2006) Adanya perubahan ini juga diamini oleh Ketua MUI KH Makruf Amin. Menurutnya MUI sekarang harus lebih peran menjadi payung dan pelindung  umat dan ormas Islam mulai dari yang agak ‘lembek’ sampai yang ‘keras’. Pengurus MUI sekarangpun mulai semakin berwarna. Tidak hanya kalangan birokrat, beberapa tokoh-tokoh yang sering dicap garis keraspun menjadi pengurus MUI.  Tindakan MUI yang kongkrit menjadi pelindung saat munculnya isu pembubaran ormas Islam. Bersama ormas Islam lain, MUI menegaskan penolakan pembubaran ormas Islam apalagi kalau didasarkan pada tuduh  premanisme atau anarkisme.    Keluarnya fatwa MUI tentang haramnya paham Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme semakin mengokohkan perubahan itu . Meskipun tidak langsung menyerang pemerintah. Fatwa ini sebenarnya bisa dianggap sebagai warning kepada pemerintah sekarang yang semakin Kapitalis-liberal. Kecendrungan  kebijakan pemerintah yang semakin sekuler memang dirasakan saat ini. Peran agama semakin diabaikan pemerintah bahkan disingkirkan. Tampak terlihat dari betapa sulitnya pemerintah menindak majalah porno Play Boy. Kebijakan liberalisme pun semakin menguat, terutama liberalisme ekonomi. Kebijakan pemerintah semakin memihak kepada pengusaha bukan lagi kepada rakyat. Kebijakan liberal ini tampak mulai dari UU Migas, UU Sumber Daya Air, tambahan hutang luar negeri sampai kenaikan BBM.  Tugas Pokok Ulama Menurut Al Ghozali   Memang ulama memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat. Imam al Ghozali menggambarkan kerusakan masyarakat disebabkan oleh dua faktor utama: penguasa dan ulama. Karena itu ada dua tugas pokok ulama menurut Imam al Ghozali : menjaga dan mengkoreksi pemerintah yang menyimpang dari hukum Allah. (Imam al Ghazali Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, VII/92).  Kebijakan penguasa yang tidak tunduk kepada syariah Islam jelas akan membaca bencana.  Hanya saja kondisi ini akan semakin parah  kalau ulama yang seharusnya mengkoreksi penguasa diam tidak perduli. Ulama kemudian lalai menjalankan tugas utamanya seperti yang dijelaskan oleh Imam Al Ghozali mengkoreksi dan menjaga penguasa untuk menjalankan hukum Allah. Bisa dipastikan penguasa yang tamak akan semakin menyimpang dari hukum Allah. Pada gilirannya kerusakan dan penderitaan rakyatpun akan semakin menjadi-jadi. Berbeda dengan kebijakan individu yang menyimpang, paling hanya merugikan dirinya atau beberapa orang terdekat dengannya. Sementara kebijakan penguasa disektor publik akan berpengaruh kepada banyak orang, bukan satu atau dua orang, tapi  seluruh rakyat.  Lihat saja ketika pemerintah menaikkan BBM juta rakyat menderita. Padahal BPS  sudah mengingatkan , BBM naik 35 % saja akan menambah  20 juta rakyat miskin. Pemerintah malah menaikkan hampir 100 %. Bagaimana akibatnya ? Luar biasa. Kemiskinan masyarakat pun semakin bertambah. Sama halnya saat pemerintah menjalankan kebijakan kapitalisasi pendidikan. Bukan hanya satu atau dua orang yang tidak bisa mendapat pendidikan yang layak. Banyak  rakyat harus putus sekolah yang berakibat kepada meluasnya kebodohan. Rakyat juga mati menahan sakitnya yang kronis akibat kapitalisasi kebijakan pemerintah dibidang kesehatan. Pemerintah bisa-bisa menjadi mesin pembunuh rakyatnya sendiri, akibat kebijakannya yang menyimpang.  Tentang peran penting ulama untuk mengkoreksi penguasa yang lalai dan melanggar hukum Allah SWT ini ditegaskan oleh Rosulullah saw. Dalam haditsnya Rosulullah memberikan gelar yang sangat agung kepada ulama yang bahkan harus mengorban nyawanya utuk mengkoreksi penguasa dzolim. Rosul memberikan gelar sayyidu syuhada (pemimpin  para syuhada), gelar yang diberikan Rosulullah kepada paman sekaligus sahabatnya  Hamzah ra. yang syahid dalam perang Uhud. Tidak hanya itu , keberanian melontarkan kata yang hak didepan penguasa ini dikatagorikan sebagai sebaik-baik jihad.  Kedepan MUI harus semakin berani menjalankan fungsi koreksi (muhasabah) ini . Menjaga dan mengkoreksi pemerintah yang menyimpang dari hukum Allah SWT. Menjaga berarti pemerintah harus diajak dan dituntun untuk menegakkan hukum Allah SWT (syariah Islam). Karena hanya dengan tuntutan itulah ulama telah menjaga pemerintah. Mengkoreksi berarti mengkritisi dan menasehati pemerintah kalau kebijakannya meyimpang dari hukum syara’. Memang tugas ini sangat berat. Ulama-ulama di MUI pasti akan mendapat tantangan yang sangat berat. Kelompok-kelompok sekuler dan liberal yang menjadi penjaga sistem kapitalis tentu tidak akan diam. Dan sangat mungkin MUI juga akan bergesekan dengan pemerintah.  Tapi insya Allah, peran ini sangat mulia sekaligus strategis. MUI juga akan dicatat dihati rakyat yang paling dalam, bahwa ulama-ulama memang hirau terhadap masyarakat. Rakyat akan melihat MUI berada bersama mereka membela umat. Ulama-ulama di MUI akan dilihat sebagai pelindung masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi stempel kebijakan penguasa yang merugikan rakyat. MUI akan dicatat dihati rakyat bukan sekedar menyerukan rakyat bersabar saat mereka miskin dan menderita. Tapi bersama rakyat berjuang melawan kebijakan pemerintah yang membuat mereka menjadi miskin. Memberikan solusi berdasarkan syariah Islam yang akan mengurangi bahkan menyelesaikan penderitaan rakyat. MUI akan dicatat sebagai penerang dan sekaligus penyelamat  rakyat seperti yang digambarkan Rosulullah saw. Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberikan petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam maka jalan akan kabur. (HR Ahmad).  Namun pasti ada resiko  ketika menegakkan kebenaran. Bukankah Ulama adalah pewaris  nabi ? Bukan sekedar mewarisi ilmu nabi tapi juga perjuangan dan pengorbanan Rosulullah saw. Mewarisi keberanian Rosulullah saw mengkritik sistem jahiliyah yang rusak saat itu. Termasuk mewarisi pengorbanan Rosulullah yang dihina, dicela dan difitnah. Kita tunggu peran yang lebih berani dari MUI.       

One Response

  1. RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
    BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
    BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
    RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
    yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya. Kenapa ?
    Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
    Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
    lebih beradab dalam era globalisasi ini.

    RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
    karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
    RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
    TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
    TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
    RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
    pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
    dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
    RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
    demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
    bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

    Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
    kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
    Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
    untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
    Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
    yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

    Lihatlah masa depan bangsa…
    lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
    lugu dan mereka sedang giat belajar.
    Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
    Jangan hinakan harga diri mereka karena
    ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.

    Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: