SYARIAH ISLAM ANCAMAN BANGSA ?


Farid Wadjdi Direktur Forum On Islamic World Studies (FIWS)

Kecendrungan daerah-daerah untuk menerapkan syariah Islam belakangan ini semakin sering dipersoalkan Muncul pula polemik tentang  Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) diwarnai sentimen pro-kontra syariat Islam. Termasuk ihwal Perda Pelacuran di Kota Tangerang, raperda Anti-Maksiat di Kota Depok, Raperda Anti-Maksiat untuk DKI Jakarta . Gejala ini oleh beberapa kelompok disebut dapat mengancam bangsa dan  berbahaya buat kesatuan bangsa . Tapi benarkah demikian ?

Sering kali anggapan seperti diatas muncul karena  proses edukasi  yang tidak utuh tentang syariah. Artinya, banyak yang salah tentang syariah Islam. Karena itu penting memahami syariah Islam lebih komprehensip . Beberapa hal diantaranya adalah:   Pertama, syariah Islam dan kesejahteraan rakyat. Kebijakan politik ekonomi berdasarkan syariah Islam sangat jelas, yakni menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat. Negara yang didasarkan kepada syariah Islam tidak akan pernah membiarkan rakyat menderita busung lapar, rumah mereka digusur, atau perpakaian yang tidak layak. Negara Khilafah akan mengurus perindividu kebutuhan mereka. Tidak hanya itu, berdasarkan syariah kebutuhan kolektif strategis rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan, gratis dijamin oleh negara. Jadi rakyat tidak dibebani dengan biaya  hidup tinggi  yang membuat mereka semakin menderita. Justru, kebijakan yang swastanisasi dan komersialisasi  kebutuhan strategis ini yang merupakan adopsi dari kebijakan kapitalisme telah  membuat rakyat semakin menderita.

 Kedua,  masalah keutuhan bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dan keamanan bangsa. Syariat Islam akan menjamin keutuhan dan persatuan bangsa ini, karena negeri Indonesia merupakan bagian dari negeri Islam. Karena itu syariah Islam mengharamkan ada bagian dari negeri Islam yang ingin memisahkan diri (disintegrasi) . Upaya seperti ini bisa dikenakan sanksi bughot atau pembangkangan. Kalau mau obyektif dan jujur, factor Islam merupakan unsur  perekat utama kenapa bangsa Indonesia bersatu.

Ketiga, persoalan kedaulatan dan kewibaan negara. Di bawah syariah Islam, Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya, akan menjadi negara yang berdaulat dan berwibawa. Tidak seperti sekarang , Indonesia demikian lemah. Bayangkan, menghadapi kelicikan Australia saja, kita tidak berani mengambil tindakan tegas. Lihat pula penyelesaian Aceh, kenapa harus menunggu campur tangan  asing ? Belum lagi bicara kedaulatan ekonomi Indonesia, sangat lemah. Asing dengan gampang bahkan diberikan karpet merah (diberikan fasilitas) untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Di Freeport Indonesia hanya dapat royalty 9 % plus pajak, blok Cepu yang cadangannya sangat besar malah didominasi oleh Exxon Mobile. Semua itu membuat sumber-sumber pendapatan negara menjadi tidak optimal digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Kita juga menjadi tidak berdaulat karena hutang luar negeri. Yang sebenarnya bisa dihentikan. Hutang kita juga bisa lunas, kalau kekayaan alam Indonesia benar-benar dikuasai oleh Indonesia bukan asing. Syariah Islam tidak akan membiarkan itu terjadi. Secara tegas salah satu prinsip penting dari syariah Islam  adalah tidak akan membiarkan kekuatan asing menguasai negeri  Islam(lihat QS An Nisa : 141) .

 Syariah Islam juga akan menutup setiap jalan eksploitasi. Tidak akan dibolehkan asing menguasai kekayaan alam Indonesia, karena barang-barang tambah seperti emas dan minyak adalah milik umum (milkiyah amah) yang tidak boleh diserahkan kepada swasta. Syariah Islam juga mengharamkan hutang dengan ribanya (bunga) yang selama ini digunakan sebagai alat intervensi asing.

Keempat,  persoalan keamanan rakyat. Syariah Islam akan benar-benar menjaminnya. Antara lain dengan memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku kriminalitas , tanpa pandang bulu. Bukankah Rosulullah saw sendiri mengatakan seandainya anaknya Fatimah mencuri dia akan memotong tangannya. Sanksinya juga tegas hukuman mati bagi para pembunuh, rajam sampai mati bagi pezina atau pemerkosa, sangki yang keras bagi koruptor dan yang lainnya.

Kelima, bagaimana syariah Islam mengatur non muslim. Syariah Islam  tidak akan melihat warganya dari segi asal-usul bangsa, warna kulit, bahkan agama. Siapapun yan menjadi warga negara akan mendapat jaminan hak dan kewajiban yang sama. Negara akan menjamin kebutuhan pokok tiap warga negara tanpa memandang muslim maupun non muslim, termasuk menjamin kebutuhan kesehatan, pendidikan dan keamanannya. Syariat Islam  tidak akan memaksa orang-orang diluar Islam untuk masuk Islam, Karena prinsip Islam  tidak ada paksaan dalam agama. Bahkan negara menjamin pemeluk diluar Islam untuk beribadah, makan, minum, berpakain sesuai dengan keyakinan agamanya pada komunitasnya . Islam secara prinsip aqidah memang berbeda dengan agama lain tapi bukan berarti hal ini berarti kebolehan melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap non muslim. Dalam Islam ada kewajiban untuk menjamin keamanan ahlul dzimmah (orang kafir yang menjadi warga Daulah Khilafah Islam) dan  keamanan  pihak –pihak yang terikat perjanjian dengan Daulah Khilafah Islam.

Secara historis terbukti dengan nyata bagaimana ketika dibawah naungan Daulah Khilafah Islam  warga yang beragama non muslim hidup berdampingan di Mesir, Syiria, Palestina, Spanyol, dan Konstantinopel(Turki) .

Perlu Sikap yang Objektif  Karena itu marilah kita berpikir obyektif dengan melihat syariah Islam yang memang memberikan solusi . Menolak syariah Islam dengan alasan budaya , kebhinekaan (multikultralisme), arabisasi, Islamisasi , logika mayoritas-minoritas , adalah penolakan yang tidak objektif dan tidak rasional. Yang mendasar dan substansial kita persoalkan adalah apakah hukum itu memberikan kebaikan pada manusia atau tidak. Hukum mana yang lebih baik , hukum yang berasal dari Allah yang Maha Sempurna atau hukum yang berasal dari hawa nafsu manusia yang penuh dengan interest pribadi dan kerakusan.

Lantas, apa lagi yang kita khwatirkan dari syariah Islam dan Daulah khilafah Islam. Apakah aturan yang menjamin kesejahteraan, keamanan, dan kesatuan negara ini mengancam bangsa ini ? Justru pihak-pihak  ingin mempertahankan sekulerisme bangsa inilah  yang harus dipertanyakan komitmennya. Disatu sisi bicara persatuan di satu sisi tapi memberikan jalan bagi negara asing untuk memecah belah Indonesia seperti dalam kasus Aceh, Timor-timur dan Papua atas nama HAM dan Demokrasi . Termasuk bicara kesejahteraan di satu sisi, tapi membuat dan mendukung kebijakan kapitalisme yang mengsengsarakan rakyat seperti menaikkan BBM disisi lain. Sama halnya kelompok ini menolak syariah Islam, tapi gigih memasarkan  pornograpi yang merusak rakyat atas nama liberalisme. Lantas siapa yang sebenarnya merupakan ancaman ?     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: