PENTINGNYA NEGARA MEMBUMIKAN AL QUR’AN


oleh Farid Wadjdi    

Kita semua tahu salah satu keistimewaan bulan ramadhan adalah diturunkannya Al Qur’an. Namun harus juga kita akui Al Qur’an belum benar-benar menjadi  pedoman hidup. Meskipun di bulan Ramadhan kita ramai-ramai membaca Al Qur’an, sebagian besar hanya pada tingkat membaca saja. Padahal kita tahu Al Qur’an bukan sekedar untuk dibaca, tapi yang lebih penting dari itu Al Qur’an harus kita amalkan. Al Qur’an belum benar-benar membumi , dalam pengertian belum benar-benar kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.  Inilah perbedaan yang mendasar antara kita sekarang dengan Rosulullah saw dan sahabat-sahabatnya dalam menempatkan Al Qur’an. Rosullah saw dan sahabat-sahabatnya tidak mencukupkan diri dengan membaca Al Qur’an tapi juga juga mengamalkan Al Qur’an sebagai sumber hukum.

Lantas apa yang dilakukan oleh Rosulullah saw untuk membumikan al Qu’ran ?  Perkara pertama yang dilakukan  Rosullah saw  adalah menanamkan aqidah Islam yang kuat pada diri kaum muslimin pada waktu. Itu. Dijelaskan bahwa beriman kepada Allah SWT, bukanlah sekedar beriman terhadap keberadaannya,  bahwa Allah SWT itu ada. Tapi juga beriman  pada seluruh perintahnya yang ada di dalam Al Qur’an dan  Sunnah Rosulullah saw. Karena itu,siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT harus mau diatur oleh aturan-aturan Allah SWT.  Keberhasilan pembinaan aqidah Rosullah saw ini tercermin benar dalam sikap kaum muslim pada waktu itu. Apapun perintah Allah Swt yang turun kepada mereka, langsung mereka amalkan. Mereka tidak pernah bertanya , apa untungnya buat bisnis saya ? apa untungnya buat jabatan saya ? Apakah ini mengancam kesenangan saya atau tidak ? Sikap kaum muslim tidak seperti itu. “ Sami’na wa atho’na” (kami mendengar dan kami taat) hal yang paling menonjol. 

 Tidaklah mengherankan ketika turun perintah larangan minum khamar, seketika itu juga kaum muslimin menumpahkan minum khamar mereka, membuangnya di jalan-jalan, sehingga bau khamar tercium di berbagai sudut kota. Padahal khamar adalah minuman kegemaran mereka sejak lama. Namun sebagai wujud kepatuhan kepada Allah SWT yang ada adalah sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat). Mereka menumpahkan khamar seraya berkata,: Ya Tuhan kami, kami telah berhenti”.  

 Pembinaan aqidah yang kuat ini juga membuat mereka mau melakukan apa saja untuk secepat mungkin meraih syurga sebagai wujud keridhoan Allah swt. Di dalam hadist Jabir  yang disepakati oleh al Bukhori dan Muslim beliau menyatakan : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rosulullah saw pada perang Uhud, “ Bagaimana pandanganmu  wahai Rosulullah saw, jika aku terbunuh saat ini ?Di manakah tempatku (setelah kematian)?, Rosulullah saw bersabda,” Engkau akan berada di surga,” Mendengar sabda Rosulullah saw itu tersebut, maka laki-laki itu serta merta melembarkan buah-buah kurma yang ada ditangannya, kemudian ia maju untuk berperang hingga terbunuh di medan perang. Subhanallah. Bagaimana dengan kita , berulang kita mendengar tentang janji surga dari Allah Swt, apakah kita bersegera mematuhinya ?  

Tidak sekedar memerintahkan Rosulullah saw juga mencontohkan bagaimana takutnya ia akan adzab Allah SWT. Al Bukhori telah meriwayatkan bagaimana Rosulullah saw saat mengerjakan sholat Ashar, setelah salam cepat-cepat berdiri, melangkahi pundak orang yang ada di masjid menuju kamar istrinya. Orang-orang pada waktu itu kaget. Setelah keluar dari kamar istrinya  Rosulullah menjelaskan : “ aku bergegas dari shalat karena aku ingat emas yang masih tersimpan di rumah kami. Aku tidak suka jika barang itu menahanku, maka aku memerintahkan (istriku) untuk membagi-bagikannya.” Subhanalloh.  Sikap yang sama ditunjukkan oleh para muslimah.

Al Bukhori meriwayatkan dari Aisyah ra ketika turun perintah untuk memakai kerudung (QS an Nur : 31), maka muslimah pada waktu itu merobek kain sarung mereka untuk dijadikan kerudung dan menutup kepala dengannya. Kisah yang mengharukan juga sebagai wujud ketaatan kepada hukum Allah tampak dari peristiwa Handzalah bin Abi Amir ra yang bergegas ke medan pertempuran setelah mendengar seruan jihad. Padahal dia baru pengantin baru dan dalam keadaan junub. Rosulullah saw kemudian mengabarkan kepada keluarganya,”Begitulah ia telah dimandikan Malaikat”.  

Mendirikan Negara  

Perkara kedua yang diperhatikan Rosulllah saw untuk bisa membumikan al Qur’an adalah meraih kekuasaan dengan mendirikan Negara yang didasarkan pada syariah Islam,yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah. Hal ini sebenarnya wajar saja. Sebab sistem apapun dalam kehidupan ini, akan sekedar pemikiran atau wacana kalau tidak ada sistem yang menerapkannya, dalam hal ini adalah negara. Ide-ide Sosialis akan sekedar ada dibuku-buku atau ruang-ruang perdebatan, kalau tidak ada negara sosialis yang menerapkannya. Tanpa ada negara kapitalis, ide-ide kapitalis hanya ada di bangku-bangku kuliah. Islam sebagai ajaran kehidupan yang menyeluruh meliputi ekonomi, politik, pendidikan , budaya, hanya ada di kitab-kitab tebal diperpustakaan , kalau tidak ada negara yang menerapkannya. Karena itu langkah penting berikutnya untuk membumikan al Qur’an adalah keberadaan negara yang menerapkan syariah Islam . Negara ini sering disebut sebagai Khilafah Islamiyah.   

Tidaklah mengherankan kalau Rosulullah SAW mendakwahi pemimpin kabilah terkemuka di jazirah Arab pada waktu itu akar mereka mau menyerahkan kekuasaan kepada Islam sehingga Islam bisa diterapkan secara formal. Rosulullah saw mendatangi mereka yang memiliki nushroh (pertolongan) , yang memiliki kekuasaan riil. Mengajaknya masuk Islam dan mau menerapkan Islam . Berkali-kali Rosulullah saw ditolak bahkan oleh qabilahnya sendiri. Di Thaif Rosullullah saw bahkan dilempari batu.  Alhamdulillah , berkat dakwah yang penuh dengan kesabaran akhirnya seruannya diterima oleh pemimpin Aus dan Khazraj. Rosulullah saw pun kemudian diserahkan kekuasaan untuk menjadi kepala negara di Madinah.  

 Pentingnya keberadaan negara yang memiliki kekuasaan (al sulthon) ini dipahami benar oleh para sahabat dan ulama. Perkara ini merupakan ma’lumun minaddin bi dhorurah , perkara penting yang sangat dimengerati kebutuhannya. Sebab bagaimana hukum qishosh, rajam, potong tangan  bisa diterapkan tanpa negara. Bagaimana mata uang dinar dan dirham bisa diterapkan tanpa negara. Bagaimana kebutuhan pokok sandang, pangan, dan rumah masyarakat per individu bisa dijamin tanpa negara. Tentu saja sulit mengatur kepemilikan umum (seperti  emas, minyak) yang  tidak boleh diserahkan kepada swasta,  kalau tidak diatur negara. Siapa pula yang akan melindungi kaum muslim dari serangan musuh kalau tidak ada negara . Siapapula yang memimpin dakwah Islam keseluruh penjuru dunia termasuk jihad tanpa negara. Jadi negara mutlak dibutuhkan untuk membumikan Al Qur’an.  Inipulalah yang dipahami oleh para ulama besar.

 Ibnu Taymiyah dalam As Siayasah asy Syar’iyyah bahkan menyatakan keberadan negara (Khilafah) yang menerapkan hukum syara’ sebagai afdholul qurrubat (sebaik-baik pendekatan diri kepada Allah SWT). Demikian juga Imam al Mawardi dalam bukunya Al Ahkam ash Shulthoniyah menyatakan : “ Mengadakan akad Imamah (Khilafah) bagi orang yang menegakkannya di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang di dasarkan kepada ijma sahabat”. 

 Sikap Rosululah saw terhadap Al Qur’an ini pun diikuti oleh para Kholifah setelahnya. Para Khulafaur Rasyidin, Umayah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah menjadikan al Qur’an dan as Sunnah sebagai pedoman hidup negara. Meskipun tentu saja terkadang terjadi penyimpangan penerapannya, namun tetap saja secara umum yang berlaku pada saat itu adalah hukum yang bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah.  

Saat Abu Bakar ra. Sebagai Kholifah ,beliau saat ketat menjaga Al Qur’an. Ketika ada sekelompok orang yang bughat karena menolak membayar zakar, Abu Bakar ra yang dikenal lembut itu memerintahkan untuk diperangi. Sekalipun hanya satu ayat ‘tentang zakat’ bagi Abu Bakar ra. hal ini merupakan pembangkaan terhadap Al Qur’an yang merupakan tindakan kekufuran.  

Walhasil tanpa negara Khilafah, Al Qur’an akan sulit dibumikan. Tidak heran kalau Dr Dhiya’uddin ar Rays dalam bukunya  al Islam wa al Khilafah menyatakan : “Khilafah menempati kedudukan terpenting dalam agama dan selalu diperhatikan oleh kaum Muslim. Syariat Islam telah menetapkan bahwa mendirikan Khilafah adalah salah satu kewajiban mendasar  diantara kewajiban agama lainnya, bahkan merupakan kewajiban terbesar (al fardh al a’zham) , karena diatas kekhilafahan  itulah bertumpu pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya”. (Farid Wadjdi)     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: