PEMERINTAH TANPA NURANI


farid.JPGby Farid Wadjdi

“Pemerintah Keterlaluan,” demikian headline sebuah media nasional yang mengkomentari kenaikan BBM 1 Oktober kemarin. Yang pro kenaikan BBM saja kaget  melihat tingginya kenaikan tersebut. Ironisnya, yang mengalami kenaikan paling tinggi justru harga minyak tanah, yang paling banyak dikonsumsi rakyat kecil. Harga minyak tanah naik sekitar 185%, dari Rp 700 menjadi Rp 2.000; bensin naik 87.5%, dari Rp 2.400 menjadi Rp 4.500; solar naik menjadi Rp 4.300. Adapun  Pertamax yang banyak dipakai oleh pemilik mobil mewah justru tidak naik.

Padahal Pemerintah selama ini berkampanye, bahwa subsidi BBM dicabut dari orang kaya untuk diberikan kepada rakyat miskin. Dampak kenaikan ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah banyak pengamat yang mengatakan bahwa naiknya BBM akan menambah jumlah orang miskin. Pengamat dari INDEF memperkirakan kenaikan BBM hingga 95% akan menambah jumlah orang miskin sekitar 40%, artinya sekitar 100 juta penduduk akan jatuh miskin. BPS (Badan Pusat Statistik), yang notebene merupakan badan Pemerintah, juga menyatakan bahwa kenaikan BBM 35% saja akan membuat angka kemiskinan baru sekitar 20 juta orang. (Tempo interaktif,  23/9/2005). Itu tampaknya akan segera terbukti. Akan tetapi, Pemerintah tampaknya tidak mau tahu. Mereka sudah buta mata, buta telinga, dan—yang paling menyedihkan—buta nurani.

Berbagai cara dilakukan Pemerintah yang tak bernurani ini untuk menenangkan masyarakat. Senjata utamanya adalah subsidi langsung. Pemerintah membagi-bagikan uang sebesar Rp 100.000 perbulan (yang diberikan 3 bulan sekaligus) kepada sekitar 15.5 juta keluarga miskin. Apakah ini menyelesaikan persoalan? Tentu saja tidak! Rp 100.000 perbulan bagi rakyat yang berpenghasilan Rp 175.000 perbulan jelas tidak akan cukup. Untuk biaya makan mereka saja, kalau perhari dihitung  Rp 10.000, dibutuhkan Rp 300.000 dalam sebulan. Belum lagi biaya-biaya yang lain. Tambahan biaya hidup akibat segala bentuk kenaikan saja akan menyedot dana mereka lebih besar daripada kompensasi langsung tersebut. Bayangkan, kalau biaya hidup mereka tambah Rp 5.000 perhari akibat transportasi dan biaya makan naik, berarti dalam sebulan biaya hidup rakyat membengkak sekitar Rp 150.000, sementara kompensasi yang diberikan Pemerintah hanya Rp 100.000.

Jelas, kebijakan ini sangat zalim. Padahal masih banyak cara yang bisa digunakan oleh Pemerintah tanpa harus mengorbankan rakyat. Pemerintah, misalnya, bisa mengenakan pajak yang sangat tinggi terhadap orang-orang kaya yang berpenghasilan lebih dari Rp 5 juta, atau mengenakan pajak tambahan terhadap rumah-rumah mewah para pejabat yang harganya di atas 500 juta, demikian juga yang mempunyai mobil mewah lebih dari satu. Apa susahnya membuat kebijakan seperti ini. Pemerintah juga bisa saja menunda pembayaran utang yang bunganya saja Rp 59.7 triliun (bandingkan dengan dana kompensasi langsung yang diberikan kepada rakyat yang hanya sekitar Rp 5 triliun). Pemerintah juga bisa menyita harta koruptor yang jumlahnya lebih dari Rp 200 triliun. Akan tetapi, kebijakan ini malah tidak diambil oleh Pemerintah.

Kami berani mengatakan, kebijakan ini merupakan upaya sistematis untuk membunuh rakyat. Sebab, dengan kebijakan ini, akan semakin banyak rakyat yang meregang nyawa karena kemiskinan; akan semakin banyak anak-anak yang sakit karena orangtuanya tidak mampu memberikan gizi yang baik, juga karena kemiskinan; dan akan semakin banyak orang miskin yang sulit ke rumah sakit karena biaya rumah sakit yang semakin tidak terjangkau oleh mereka. Ini bukanlah persoalan main-main. Ini adalah tindakan pembunuhan terhadap rakyat yang termasuk dosa besar. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 93). Mengapa Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini?

Tidak lain, demi mematuhi tekanan negara-negara imperialis melalui IMF, yang telah memaksa Pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi, termasuk migas. Seperti yang diungkap Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir kepada Tempo Interaktif (2/10/2005), kenaikan harga BBM tersebut hanyalah bagian dari target liberalisasi sektor migas yang akan melepas harga minyak domestik ke pasar dunia.  “Kenaikan ini hanya sebagian saja dari proses menuju liberalisasi tadi dan Pemerintah selangkah lagi dalam agenda tersebut,” kata Baswir.

 Ia juga memperkirakan, Pemerintah masih akan menaikkan harga BBM, karena harga yang sekarang pun masih di bawah harga pasar. Misalnya, kata dia, premium di pasar atau yang sekarang untuk industri Rp 5.800. Menurutnya, Pertamina sudah akan kehilangan izin PSO (public service obligation)-nya, dan akhirnya di sektor hilir migas akan masuk pengecer BBM lainnya di Indonesia seperti Exxon, Caltex, dan sebagainya. “Pertamina kemungkinan akan melepas PSO-nya sampai akhir Desember ini,” kata Baswir lagi.

Seperti kehilangan akal, Pemerintah juga memanfaatkan   orang ‘pintar’ maupun orang ‘alim’ untuk meredam kemiskinan masyarakat. Pakar minyak Kurtubi—yang entah mengapa ‘berubah pikiran’; dari sebelumnya kontra menjadi pro kenaikan BBM—dipakai untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa kenaikan ini adalah wajar. Yang paling menyedihkan, seorang ulama  terkenal juga mau dimanfaatkan untuk menenangkan masyarakat. Nasihat sabar pun beliau sampaikan kepada masyarakat. Memang, keharusan bersabar saat mengalami kesulitan merupakan perintah Allah Swt. Namun, bukankah Allah Swt. juga memerintahkan kepada kita, tentu juga kepada ulama tersebut, untuk tidak berdiam terhadap kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat. Lalu mengapa penguasa itu tidak dinasihati, padahal diam terhadap kemungkaran penguasa adalah dosa besar, apalagi jika ada kemampuan dan kesempatan untuk menasihatinya.  Terakhir, kita mengingatkan kepada Pemerintah, hendaklah segera bertobat kepada Allah Swt., dan segera mencabut kebijakan  yang menyengsarakan rakyat ini! [FW]    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: