JEBAKAN DEMOKRASI


GERAKAN DAKWAH DAN JEBAKAN‘LUMPUR’ DEMOKRASI 

“Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang , hal terbaik yang harus dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi.” (Goerge W. Bush,  6/11/2004)

Menarik sekali rekomendasi Ariel Cohen untuk menghentikan pengaruh Hizbut Tahrir di Asia Tengah. Dalam report yang berjudul, “Hizbur Tahrir: Ancaman Baru Terhadap Kepentingan AS di Asia Tengah”, Cohen merekomendasikan untuk mendorong demokrasi dan partisipasi rakyat. Menurutnya, kurangnya  politik sekular dan demokratis, Islam moderat serta aktivitas LSM yang kredibel dan kurangnya kebebasan berekspresi dapat menggiring ribuan pemuda untuk bergabung dengan Hizbut Tahrir di Asia Tengah, terutama di Uzbekistan. 

 Tidak aneh jika demokratisasi paling sering dilontarkan oleh pihak Barat terhadap Dunia Islam. Barat, sepertinya, tahu persis bahwa politik sekular dan demokrasi akan bisa menghilangkan pengaruh gerakan Islam yang benar-benar menyerukan syariah Islam, apalagi Khilafah, seperti Hizbut Tahrir. Dengan  kata lain, Barat menggunakan demokrasi untuk menjebak gerakan Islam. 

 Sepertinya hal itu berjalan cukup efektif di beberapa tempat. Beberapa gerakan Islam yang tadinya teguh dalam mememang prinsip Islam, sedikit demi sedikit luntur setelah terjebak dalam ‘lumpur’ demokrasi ini. Karena kekuatan demokrasi ada pada banyaknya  suara, sikap pragmatisme politik pun muncul. Yang penting adalah bagaimana mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya, tidak terlalu penting bagaimana caranya. Pantas, kalau dalam beberapa pemilihan kepala daerah, beberapa partai yang memiliki akar gerakan Islam, berkoalisi bukan berdasarkan kesamaan ideologis, tetapi kesamaan kepentingan meraih suara. Prinsip utama akidah Islam yang menuntut terpisahnya secara tegas antara  yang hak dan batil pun dilanggar.

 Tidak hanya itu, lagi-lagi karena yang penting adalah meraih suara terbanyak, seruan untuk menegakkan syariah Islam pun nyaris tidak terdengar dari gerakan Islam yang berpartisipasi dalam demokrasi. Alasannya sederhana sekali, seruan syariah Islam tidak laku dijual untuk meraih suara. Sepertinya, partai yang berbasis gerakan Islam banyak melupakan fungsi utama partai atau gerakan, yaitu melakukan proses edukasi politik dan sosialisasi politik. Sebagai gerakan Islam, ketika rakyat belum menerima syariah Islam, justru tugas partai politik untuk menyadarkan masyarakat, bukan sebaliknya; malah tidak melakukan penyadaran.

 Demokrasi kemudian menuntut setiap partisipannya bersikap kompromistis dalam pengambilan keputusan. Hal ini tampak dari berbagai pengambilan kebijakan di parlemen. Jadilah kebijakan yang seharusnya ditolak dan ditentang oleh partai-partai berbasis Islam karena merugikan rakyat—seperti kenaikan BBM, impor Beras, UU SDA, dan UU Migas—justru di dukung, baik secara tegas maupun malu-malu.  

Ironisnya, tak sedikit partai Islam yang terlibat dalam money politic. Memang bisa dimengerti, proses politik memerlukan dana yang besar. Persoalannya, kepentingan untuk mendapat dana yang besar sering memaksa partisipan demokrasi menerima dana dari siapapun, tidak melihat lagi apakah halal atau haram. Padahal  seharusnya,  setiap gerakan Islam harus menyadari: pasti ada udang di balik batu setiap kali pemberian bantuan dilakukan, apalagi jika berasal dari mereka yang dikenal sebagai politisi sekular atau penguasa kapitalis. 

 Di sisi lain, demokrasi juga bisa menimbulkan sikap frustasi di kalangan umat yang berharap gerakan Islam yang terjun di dalamnya akan membawa perubahan mendasar. Pada awalnya, harapannya itu memang besar. Dalam hal ini, logika argumentasi yang selalu dibangun sederhana: kalau kita meraih suara terbanyak, kita berkuasa, kita akan mengubah segalanya.

  Namun, kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Perubahan yang mendasar tidak hanya bergantung kepada individu atau orang-perorang, sekuat apapun orang itu. Perubahan juga sangat bergantung pada perubahan sistem yang mendasar pula. Alasannya, karena berbagai kebobrokan dan kehancuran yang terjadi lebih disebabkan karena rusaknya sistem kehidupan kita yang berdasarkan pada aturan sekular-kapitalis. Inilah yang menjadi pangkalnya. Sederhananya, siapapun yang berkuasa dalam sistem sekular-kapitalis  tidak akan banyak membawa perubahan mendasar. Buktinya, ketika beberapa orang dari gerakan Islam telah berkuasa atau menjadi pemimpin eksekutif di sebuah daerah, perubahan yang berarti pun tidak terwujud.  

Terakhir, konflik Hamas-Fatah juga seharusnya menjadi pelajaran baik buat kita. Demokrasi pun sering digunakan oleh Barat justru untuk memecah-belah sesama umat Islam. Keterlibatan Hamas dalam Pemilu di Palestina justru menjadi senjata yang andal bagi Israel dan Barat untuk menimbulkan konflik internal di Palestina. Kalau dilihat dari kacamata perjuangan melawan Israel, justru konflik horisontal sekarang tidak akan menguntungkan kelompok Islam.  

Mundur dari pemerintahan bisa jadi merupakan pilihan yang terbaik bagi Hamas dan masa depan Palestina. Sebab, kondisi sekarang, kalau tanpa jalan keluar, akan berpotensi menimbulkan perang saudara. Kalau ini terjadi, lagi-lagi yang diuntungkan adalah Israel.  

Dengan mundur, Hamas justru bisa melanjutkan perjuangan bersenjatanya tanpa harus disibukkan dengan perang dengan sesama kelompok Palestina sendiri. Sebaliknya, alih-alih bisa mendukung perlawanan terhadap Israel,  jalan Pemilu malah  memperbesar potensi konflik internal sesama Palestina. Artinya, mundur dari aktivitas demokrasi akan membuat Hamas lebih fokus pada garis perjuangan mengangkat senjata melawan Israel dan tidak mengakui Israel.   

Mundurnya Hamas juga akan semakin memperjelas bahwa demokrasi yang digembar-gemborkan selama ini oleh AS sebagai salah satu jalan keluar krisis Timur Tengah, termasuk krisis Palestina, ternyata hanya omong-kosong. Hamas yang menang secara demokratis, dengan berbagai cara, ternyata disingkirkan saat tidak sejalan dengan kepentingan AS. Wallâhu a‘lam. [Farid Wadjdi]    

One Response

  1. sy izin copy ya…
    thanks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: