MUSHARRAF-BHUTO DAN AS


Musharraf-Bhutto Kokohkan Penjajahan AS di Pakistan

Kedatangan kembali Bhutto bukan hanya disambut dengan gembira oleh pendukungnya tapi juga oleh bom yang menewaskan sedikitnya 136 orang dan mencederai 387 orang pada Kamis malam (18/10/2007). Mantan PM Pakistan ini menuduh mantan anggota rezim Zia sebagai otak atau dalang serangan bom Ketika diwawancarai majalah Paris-Match versi internet, Bhutto mengatakan, otak serangan itu ialah orang yang pernah berkuasa pada pemerintahan Zia dan sampai saat ini masih berkuasa.Bhutto juga menuding Pemerintah Pakistan ikut bersalah. Pasalnya, kelompok itu tak dapat beroperasi tanpa dukungan atau bantuan logistik dari pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk penyediaan bahan peledak.

Bhutto sendiri sebenarnya sudah diperingatkan pemerintah Pakistan ada upaya untuk mencelakan dirinya. Tapi Bhutto tetap ngotot untuk kembali ke Pakistan.Memang kehadiran Bhutto sendiri penuh kontroversi. Banyak pihak yang menganggap kepulangannya tidak lebih dari strategi Musharraf untuk tetap berkuasa. Dan ini semua dibawah kontrol AS dan Inggris. Bhutto yang melarikan diri keluar Pakista tentu akan berpikir seribu kali untuk kembali ke Pakistan, sebab dia akan diseret ke penjara dengan tuduhan Korupsi.

Musharaf yang tadinya mengusir Bhutto sekarang menyambut Bhutto. Bhutto yang berulang-ulang menyerang Musharaf dan menyatakan tidak akan pernah mendukung pemerintah diktator malah kembali.  Musharraf sepertinya melakukan ‘deal’ dengan Bhutto dengan memberikan jaminan bahwa dia tidak akan dipenjarakan dan aset-asetnya tidak disita.  Musharraf berharap Bhutto akan mengokohkan kedudukannya. Sebab, Bhutto  masih memiliki pengaruh besar di partai besar Pakistan PPP (Pakistan People’s Party) . Bhutto juga diperkirakan mendapat dukungan besar dari pengikut fanatik dari Sind dan Punjab. Tanpa dukungan ini posisi Musharraf akan terancama mengingat banyak pihak yang tidak lagi mendukungnya. Musharaf berharap dalam pemilu yang akan datang dia tetap terpilih menjadi presiden sementara Bhutto akan menjadi Perdana Menteri.

Lagi-lagi semua ini untuk menjamin kepentingan AS dan Inggris  di Pakistan. Baik Musharaf maupun Bhutto selama ini memang dikenal ‘mitra’ terbaik  AS dan Inggris dikawasan itu. Terutama memerangi apa yang dituduh Barat sebagai kelompok Islam militan dan teroris.Menurut Ziauddin Sardar kembaliknya Bhutto didasarkan pada deal pembagian kekuasaan (power sharing deal) dengan Washington sebagai brokernya.(New Statesman ; 25/10/2007) 

 Dr Imron Wahid dari Hizbut Tahrir Inggris memberikan komentar politik yang senada. Menurutnya kehadiran Bhutto yang diklaim untuk masa depan Pakistan adalah penyesatan politik. Kedatangan wanita itu tidak lain merupakan ‘orkesta’ Inggris dan AS untuk menyelamatkan Musharaf. “ Motif dibelakang kembalinya Bhutto dengan isu demokrasi adalah untuk membantu Musharraf dalam kampanyenya untuk menyerang Islam dan memperkuat pengaruh AS dan sekutunya di Pakistan” , tegas Wahid.  

AS selama ini memang menjadikan Musharaf untuk menjadi mitra utamanya di kawasan itu. Meskipun Musharaf  menjadi presiden dengan cara kudeta militer yang jelas tidak sejalan dengan demokrasi . AS juga tidak perduli bahwa Musharaf menjalankan pemerintahan nya dengan tangan besi dan represif.  Sebaliknya Musharaf pun telah menunjukkan pengabdiannya yang luar biasa kepada AS. Ketika AS melancarkan perang terhadap Afghanistan, Musharaf memberikan bantuan yang banyak kepada pasukan AS dan sekutunya untuk menyerang Afghanistan. Tidak hanya membolehkan wilayah Pakistan dengan bebas dilewati oleh pesawat AS tapi juga memberikan banyak informasi intelijen tentang keberadaan pasukan mujahidin yang melakukan perlawanan terhadap AS. Bahkan Musharaf turut memerangi para Mujahidin diperbatasan untuk mendapatkan dukungan penuh dari AS. 

 Musharraf benar-benar telah membuka lebar-lebar negerinya kepada Amerika dalam serangannya yang sadis terhadap Afganistan. Dialah yang telah menjadikan Pakistan sebagai pangkalan terdepan bagi tentara Amerika untuk melakukan pembantaian di Afganistan.Musharraf pun dengan senang hati menjalankan perintah AS untuk mengirimkan tentaranya demi membunuhi sejumlah kabilah Muslim di perbatasan Afganistan.

 Musharraf pun mengirim sekitar 90 ribu tentara untuk membunuhi saudara-saudara muslimnya sendiri  di Afganistan dalam rangka melindungi Amerika dan sekutu-sekutunya. Para pemuka kabilah tersebut telah terbunuh di Balushtan dan tempat lainnya. Dia juga membatalkan kesepakatannya dengan mereka, melakukan sejumlah tindakan kriminal di kawasan kabilah-kabilah tersebut. Dia telah meninggalkan Kasmir di belakang, hingga sikap netral pun tidak diambilnya, bahkan dia pun sanggup mengusir para Mujahidin Kashmir, menangkapi mereka sekaligus melarang mereka menetap di negeri mereka sendiri. Bahkan, keputusan penentuan nasib sendiri yang diakui pihak asing terhadap Kashmir pun diabaikan oleh Musharraf. Justru dia malah melakukan normalisasi hubungan dengan India, sembari mengakui pendudukan India terhadap sebagian besar wilayah Kashmir!

Untuk kembali membuktikan bahwa dia memerangi terorisme. Musharaf menghancurkan Masjid Merah dengan sejumlah senjata pemusnah, dan menolak berbagai mediasi yang sedang berlangsung, serta sengaja menghinakan dan menistakan para ulama dan para santri Madrasah.

Sementara Bhutto sama saja. New York Times (20/10/2007) melaporkan bagaimana Bhutto yang dikenal korup ini , belakangan melakukan kontar intensif dengan AS. Bhutto bulan lalu pernah makan malam bersama secara pribadi dengan Zalmay Khalilzad duta besar AS untuk PBB  yang dikenal sebagai arsitek perang Afghanistan. Bhutto juga beberapa kali dikontak oleh menlu AS Condoleezza Rice. “Pemerintah Bush untuk waktu yang lama hanya menelepon Musharraf”, kata Husain Haqqani mantan penasehat Bhutto dan profesor hubungan internasional Boston Universiy.” Akan Bhutto memberikan sinyal jelas kepada mereka (pemerintah Bush) bahwa nomor teleponnya siap dikontak kapan saja”.

Benazir Bhutto mengatakan dia akan membolehkan serangan militer AS ke wilayah Pakistan untuk memerangi Osama bin Laden, pemimpin Al Qaida kalau dia menjadi pemimpin Pakistan. “ Saya berharap bisa bisa menangkap Osama bin Laden sendiri tanpa  bantuan Amerika”, katanya pada hari Senin dalam sebuah wawancara dengan BBC World News Amerika. “ Akan tetapi jika saya tidak bisa, tentu saja saya akan bekerja sama untuk memerangi dia” . Bhutto juga berjanji untuk memberikan akses kepada Badan Energi Atom Internasional untuk mengintrogasi Dr A.Q. Khan pakar nuklir Pakistan yang telah lama menjadi target Amerika Serikat.  

Sebenarnya Musharaf memahami benar bahwa Islam adalah penggerak dasar bagi umat Islam dan bahwa mereka menyimpan kebencian yang dalam terhadap AS, disebabkan permusuhannya yang terbuka terhadap kaum Muslim. Oleh karena itu, penguasa kaum Muslim memerangi berbagai ide dan konsep Islam untuk membungkam kaum Muslim dan untuk membujuk mereka agar mau membantu musuh nomor satu umat Islam (AS).

Para penguasa itu menjustifikasi kebijakan mereka yang anti umat Islam dengan berkata, bahwa tidak ada pilihan lain selain memenuhi kepentingan AS. Para penguasa itu juga merekayasa kesan palsu, bahwa dengan memenuhi kepentingan AS, Pakistan akan memperoleh kemakmuran ekonomi dan keunggulan militer, di samping akan memperoleh kebaikan hati AS. Padahal kenyataannya, menundukkan kaum Muslim untuk melayani kepentingan AS tidak akan pernah menghasilkan kemakmuran ekonomi atau keunggulan militer Pakistan.

Bahkan sebaliknya, jatuhnya kebijakan politik Pakistan di bawah kendali AS akan menyebabkan Pakistan terisolir dari negara-negara di dunia. Sebab, berbagai bangsa dan negeri yang muak terhadap hegemoni AS dan marah terhadap ketidakadilan AS –yang dengan bantuan mereka sebenarnya Pakistan dapat melepaskan diri dari pengaruh AS— akan mulai melihat Pakistan sebagai alat murahan di tangan AS. 

 Selain itu, AS telah meletakkan Pakistan dalam jerat IMF dan Bank Dunia dengan mengumpani Pakistan dengan berbagai bantuan dan utang. Ini merupakan jalan yang secara pasti akan membuat Pakistan selalu bergantung pada AS secara ekonomi. Adapun tentang kebaikan hati AS, belakangan ini justru terbukti AS telah mendukung India dalam masalah Kashmir, seraya mengabaikan harapan Pakistan. Padahal Pakistanlah yang telah mendukung AS sepenuhnya dalam perangnya melawan Afghanistan. Adanya dukungan Pakistan ini, tidaklah menghalangi AS untuk mengumumkan bahwa jihad di Kashmir adalah terorisme. Jelaslah, sebuah negara yang mengaitkan politik luar negerinya dengan hawa nafsu AS –yang berusaha untuk menguasai  seluruh dunia— tidak akan menghasilkan apa-apa selain lemahnya negara itu di hadapan AS.(Farid Wadjdi; Bogor, 30/10/2007)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: