STRATEGI SALIBIS MENGHANCURKAN ISLAM


Kristenisasi dan Imperialisme merupakan satu hubungan  yang tidak bisa dipisahkan. Gerakan para salibis bertujuan untuk mengokohkan penjajahan Barat di negeri-negeri Islam. Tidak heran kalau Bush saat mencanangkan perang melawan terorisme menyebutnya sebagai perang salib. “ Perang ini, Perang salib ini , membutuhkan waktu yang lama”, jelas Bush.  Michel Colin Piper The High Priests of War menyatakan Presiden Bush tampaknya dikendalikan oleh kristen fundamentalis dan pengaruh kuat dari lobi Yahudi. Pengaruh Kristen yang kuat ini tampak dari pernyataan Bush bahwa dia memerangi al Qaidah , menyerang Saddam adalah perintah Tuhan.  “God told me to strike at al-Qaeda and I struck them, and then he instructed me to strike at Saddam, which I did, and now I am determined to solve the problem in the Middle East.”, ujar Bush.   

Dr. Musthafa Khalidy dan Dr Umar Farukh dalam bukunya Imperialis dan Misionaris melanda dunia Islam menyebutkan bahwa motif dari misionaris di dunia Islam tercampur antara misi agama dan missi politik, bahkan kebanyakan missi mereka adalah politik. Argumentasi beliau adalah bahwa di negeri asal para mssionaris itu, bangsa-bangsa Barat kebanyakan sudah atheis dan tak ada perhatian terhadap gereja.  

Juga, Khalidy mengutip pernyataan misionaris G. Simon: apabila persatuan Islam mulai menampakkan sosoknya untuk menghadapi imperialisme Eropa, maka para missionaris harus segera beraksi menyodorkan sosok Eropa, sehingga persatuan Islam pun menjadi luntur kembali. Karena itu para missionaris harus memasuykkan pola pemikiran Kristen ke dalam perdsatuan Islam, sehingga dapat mengguncang kaum muslim. Negara Turki (pusat Khilafah Islamiyah) sungguh sangat berbahaya bagi Eropa sebab rakyatnya memeluk agama Islam, bahkan mereka memiliki kekuatan tersendiri untuk menghadapi ambisi dan kerakusan orang-orang Eropa.

Hal yang senada dilontarkan L. Brown mengatakan, “Seandainya orang muslim bersatu padu dalam satu pemerintahan niscaya hal ini sangat berbahaya bagi seluruh dunia. Sebaliknya hal itu akan mendatangkan kenikmatan tak terhingga bagi kaum muslimin. Tapi selagi mereka terus sikut-sikutan, maka mereka juga tetap terombang-ambing tidak mempunyai pedoman yang jelas dan tidak mempunyai pengaruh yang jelas dan tidak pengaruh yang berarti bagi dunia luar”. (lihat Khalidy, idem).

Sementara itu menurut, Shabir Ahmed dan Abid Karim dalam buku Akar Nasionalisme di Dunia Islam menyebut, ketika para missionaris memdapatkan kesempatan untuk mendirikan pusat-pusat kegiatan di negara Islam (Daulah Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah), mereka mencari kesempatan untuk melakukan agitasi terhadap warga negara. Pada tahun 1841 misalnya, terjadi keributan di pegunungan Libanon antara penduduk penganut Kristen Maronit dan kaum Druze. Perselisihan antara kaum Maronit dan Druze itu diprovokasi oleh penjajah Inggris (yang bersekongkol dengan kaum Druze) dan Perancis (yang bersekongkol dengan kaum Maronit) sehingga pada tahun 1845 terjadi keributan lagi hingga meluas ke gereja dan biara. Terjadi pencurian, perampokan, pembunuhan, dan perampokan. Karena provokasi pendeta Mronit, pada tahun 1857 terjadi revolusi bersenjata dimana para petani Kristen melawan tuan tanah Druze. Perancis dan Inggris di belakangnya.

Akibatnya kerusuhan dan keributan merata di seluruh Libanon. Orang-orang Druze pun membantai orang-orang Kristen tanpa pandang bulu, baik pendeta maupun orang biasa. Dalam keributan itu sepuluh ribu orang Kristen terbunuh, lainnya diungsikan. Kerusuhan akhirnya meluas ke seluruh Syam. Di Damaskus disebarkan propaganda kebencian sehingga orang-orang Islam menyerang daerah orang Kristen pada tahun 1860. Keributan tersebut memaksa negara Khilafah Islamiyyah mengakhiri kerusuhan dengan intervensi militer. Sekalipun negara berhasil menenangkan keadaan, negara penjajah Inggris dan Perancis memanfaatkan kerusuhan yang mereka dalangi sendiri di wilayah Siria dan Libanon itu untuk melakukan intervensi ke wilayah daulah Islamiyah Utsmaniyah dengan invasi militer.

Pada tahun 1860 Perancis mengirim devisi militer ke Beirut dengan dalih memadamkan revolusi. Setelah itu para penjajah memaksa Khilafah Utsmaniyyah utnuk memecah wilayah Syam menjadi dua propinsi yakni Libanon dan Siria dimana Libanon kekuasaan dipegang oleh orang Kristen dan sejak itulah Libanon menjadi penghubung antara negara asing imperialis dengan negeri-negeri Islam.

Dengan demikian motif gerakan salib sesungguhnya ada dua. Kristenisasi memiliki setidaknya dua motif.  Pertama, motif agama. Dalam Kitab Perjanjian Baru, Markus: 28: 18-19, disebutkan: Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Ayat ini menjadi acuan bagi kaum Kristiani mengenai keharusan menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia.  Yang menjadi sasaran dalam motif ini ialah setiap penduduk bumi yang non-Kristen.  Artinya, motif ini menghendaki agar seluruh warga bumi dikristenkan.  

Kedua, motif ideologis.  Dalam hal ini kristenisasi menjadikan Islam dan umatnya sebagai sasaran utama.  Menurut Kardinal Lavie Garry, “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itu, para misionaris berharap agar seluruh kaum Muslim menjadi Kristen.” Dari sini kita memahami betul bahwa kegiatan missionaris tidak lepas dari aktivitas imperialis negara-negara Barat yang rakus untuk menguasai dunia Idslam, memecah belahnya, dan mencegah terjadinya persatuan kembali negeri-negeri Islam.

Strategi Utama Secara umum gerakan salib menggunakan strategi yang pertama adalah hard power yakni dengan menjadikan perang fisik sebagai andalan. Inilah yang mereka lakukan ketika perang salib, masa kolonialisme, hingga saat ini seperti memerangi Irak, Afghanistan, dan Palestina.  Strategi kedua adalah soft power. Biasanya menggunakan pendekatan pendidikan, bantuan kesehatan, gerakan politik dan pemikiran. Hal yang menonjol dalam strategi yang kedua ini adalah orientalisme dan kristenisasi.   

Dalam China and the West, Pak mengutip ucapan Napoleon, “Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika; karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.” 

Akhirnya, kristenisasi menjadi salah satu strategi negara-negara Barat untuk menguasai Dunia Islam. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasionalnya menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan misionaris. David Waren, penanggungjawab Ensiklopedia Dunia Kristen, menyatakan bahwa 70 miliar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun 1970 saja. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan akan terus meningkat.  Muhammad Imarah mencatat, pada 1991 Organisasi Misionaris Dunia memiliki 120.880 lembaga khusus untuk kegiatan kristenisasi di kalangan Islam; 99.200 lembaga pendidikan untuk mencetak kader penginjil; 4.208.250 tenaga profesional; 82 juta alat komputer; 24.000 majalah; 2.340 stasiun pemancar radio dan televisi; 10.677 sekolah dengan jumlah 9 juta siswa; 10.600 rumah sakit; 680 panti jompo; 10.050 apotik; anggaran kegiatan kristenisasi sebesar 163 miliar dolar. Tahun sekarang pastinya lebih dari itu. 

 Kristenisasi menempuh dua strategi.  Pertama, membina dan memasukkan orang Islam ke dalam agama Kristen.  Strategi ini terhitung kurang ampuh, mengingat ajaran Kristen sendiri memiliki kelemahan internal sehingga orang yang berakal sehat tidak akan sudi secara sadar memeluknya. Oleh karena itu, strategi kedua dianggap lebih realistis dan efektif, yaitu mengeluarkan orang Islam dari agamanya atau menjauhkannya dari ajaran Islam. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan, “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang Kristen…. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.”  Strategi inilah yang berhasil meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah

Sementara itu misi Kristen dalam bidang politik ditempuh dengan beberapa cara . Pertama, memastikan system di negeri-negeri Islam adalah system sekuler. Karena itu mereka berupaya keras untuk mencegah tegaknya syariat Islam di negeri Islam. Sebab dengan system sekuler itulah mereka bisa menjalankan misinya. Tidaklah heran kalau kelompok-kelompok Kristen sangat mendukung proyek sekulerisasi seperti menyebarkan ide liberalisme, pluralisme, Demokrasi dan HAM.

Upaya peniadaan syariat Islam tampak dalam pandangan orientalis klasik, Snouck Hurgronje (1857-1936) yang memiliki pengaruh sangat luas di Indonesia. Menurut Hurgronje, umat Islam sulit untuk beralih menjadi Kristen. Karena itu, ia merekomendasikan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar memberikan kebebasan kepada umat Islam dalam masalah ruhiah, tetapi mencegah syariat Islam yang terkait dengan politik, seperti masalah Khilafah dan Pan Islamisme.

Kesimpulan itu merupakan hasil studi mendalam tentang Islam, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Ia bahkan berpura-pura masuk Islam dan mempersunting wanita Muslimah. Banyak ulama Mesir menganggap dia sebagai Muslim. Namun, Geerzt menegaskan, Hurgronje adalah seorang Kristen yang berpura-pura masuk Islam     Penghancuran syariat Islam juga tampak dalam pandangan Indonesianis AS, William Liddle. Liddle  membuat disparitas/pembedaan antara kaum ‘skripturalis’ (yang terikat dengan pemahaman teks-teks sumber hukum Islam) dan kaum ‘substansialis’ (yang memahami Islam hanya berdasarkan semangatnya saja). Ia secara tegas mendukung pandangan kaum substansialis.

Langkah penting lainnya adalah  infiltrasi politik. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Mendudukkan orang-orang muslim tapi sejalan dengan kepentingan Kristen. Atau mendudukkan orang Kristen secara langsung  di pusat-pusat kekuasaan. Karena itu mereka sangat berhasrat untuk menduduki posisi penting dalam militer dan pemerintahan.

Negara-negara Barat-sekular secara licik menempatkan para penguasa Muslim sebagai agen dan kaki-tangan mereka. Pada hakikatnya, para penguasa jenis seperti ini adalah orang-orang yang menghamba pada kepentingan negara-negara kafir imperialis. Kenyataan menunjukkan, bahwa tidak ada seorang penguasa Muslim pun saat ini yang cinta dan menghendaki tegaknya sistem hukum Islam serta berusaha untuk memutuskan ketergantungannya pada kungkungan negara-negara adidaya kafir.

Dengan liciknya, negara-negara Barat menonjolkan tokoh-tokoh penguasa Muslim seperti Gamal Abdul Nasser, Soekarno, Muhammad Ali Jinnah, dan lain-lain dalam rangka meraih loyalitas umat Islam. Negara-negara adidaya kafir juga telah menggunakan kaki-tangan mereka ini untuk memperkokoh cengkeraman ekonomi, politik, dan militernya di negeri-negeri Islam; mengeksploitasi sumber alam dan harta kekayaan umat ini; menjeratnya dengan utang luar negeri yang menggunung, yang mustahil dikurangi apalagi dihilangkan. Keberadaan para penguasa Muslim itu makin menambah dalam penderitaan yang dipikul oleh umat.  

5 Responses

  1. Tunggulah akan tiba saatnya Al-Mahdi akan datang menghancurkan kalian wahai para kesatria gereja setan yang dilaknati Allah SWT dan para rasulnya yang kalian dustakan, Ya Allah lamakanlah kegelapan malam bagi orang-orang yang dzalim amin…

    wahai kaum muslimin sudah saatnya kita bersatu..!!
    hancurkan para salibis!!!
    AllahuAkbar!! panahlan karena sesungguhnya bapak kalian adalah pemanah

  2. Jangan emosi…. musuh kita bukan kristen… tapi oknum Kristen atau Kristen fundamentalist dan Barat… ini yang perlu kita perhatikan…

    Jangan sampai terjadi perpecahan meluas dikalangan Kristen yang awam. Sejak zaman Rosul Kristen bermacam-macam…

    Dirikan Khilafah, tegakkan Jihad dan mari menyatukan barisan.

    Allahuakbar.

  3. @ \:D/

    Defence your islam soul until

  4. Innalillahiwainnailaihi liroziun……
    saya prihatin bgt mendengarkan bahwa negar barat…..ingin menghancurkan islam..yang besar ini….

    riska harap umat islam di indondesia tidak terpengaruh dngan budaya barat yang sekarang sudah marak…tersebar luas…malahan indonesia yang mayoritas islam…menjadi bukan islam seutuhnya…..

    em..kan indonesia merupakan islam terbesar didunia ………..
    mudah-mudahan rakyat..terutama umat islam yang berada di indonesia menyadari bahwa kita tuh perlu banget persatuan………

  5. Alhamdulliah saya sangat senang ketika ada Muslim yang peduli terhadap eksistensi Islam saat ini.

    Terlebih ditengah arus globalisasi layaknya skrg terasa semakin memojokkan Islam kedalam lubang tikus yang sempit, dan Muslim tak lebih dari tikusnya. Islam seringkali dicap sbg teroris, miskin, bodoh atau terbelakang..

    Dan yang membuat saya lebih mengucap syukur kpd Allah adalah ketika mas Farid mencoba untuk membuka mata umat Islam utk bergerak melawan ketidakadilan yang menimpa umat Islam saat ini..

    Sbg hamba yang fakir ilmu saya mencoba untuk memberikan beberapa solusi sbg pertimbangan utk mas Farid dkk dlm bergerak utk menegakkan bukan hanya syari’ah Islam tetapi kehidupan yang Islamis. Yang selama ini nampaknya lebih dipratekkan oleh masyarakat ‘Barat’..

    pertama: umat Islam hrs lebih mencintai ilmu pengetahuan sbg basis intelektual untuk melakukan perubahan. Bahasa ‘mengaji’ yang biasanya hanya utk membaca Al-Quran, skrg umat Islam jg hrs mengaji ttg kehidupan secara keseluruhan. krn menurut saya ilmu Allah bukanlah Quran semata, tetapi segala ilmu yg ada adalah ilmu Allah yang kita sbg Muslim harus terus mengembangkannya.

    kedua:pendidikkan Islam yg selama ini diimplementasikan dlm bentuk-bentuk Pesantren yg ternyata saat ini anak muda atau remaja Indonesia khususnya, belajar di Pesantren hanyalah bentuk hukuman utk ‘anak nakal’ dari orang tuanya. Bagaimana Islam bisa berkembang klo ahli tentang Islam itu tidak ada. mungkin Pesantren hrs dikemas dengan suasana yang lbh modern.

    ketiga:Barat selama ini memerangi Islam melalui “Hard Power” yg artinya dengan senjata atau kekerasan hrs kita lawan dengan cara yg santun. dgn cara yg santun itulah Islam dpt tercitrakan sbg subyek yg protagonis, seperti apa yg terjadi skrg ketika popularitas John McCain lebih rendah daripada pesaingnya Obama. krn kekerasan hanya akan membuat Muslim terpuruk dan semakin dianggap “ancaman” oleh pihak Barat.

    Keempat: Globalisasi yang selama ini menjadi alat bagi barat utk menancapkan kepentingan imperialismenya, skrg sbg Muslim yang kreatif dan cerdas, Muslim hrs dapat bersaing di tingkat internasional dengan memanfaatkan globalisasi itu sendiri.

    Dengan basis intelektual yang memadai diharapkan umat Islam dpt mengembangkan ajaran Islam dgn cara-cara yg damai seperti apa yg telah dilakukan oleh Rasullah S.A.W ketika beliau menundukkan Madinah. Perang secara fisik hanya akan menguras energi umat Islam semata, krn perang akan menambah keuntungan Barat semata, hanya menambah keuntungan utk Zionis khususnya. Dengan menaikkan kadar intelektualitas umat Islam, umat Islam tidak akan dipandang sebelah mata lagi. Karena dengan intelektualitas yang memadai umat Islam dapat merubah segala ketidakadilan yang menimpanya. Dengan bahasa yg ekstrim, dgn intelektualitas kita “tidak perlu” menunggu Imam Mahdi yang terhormat, karena kita-Muslim-mampu merubah situasi yang tidak adil ini…

    maaf mas..saya tidak berusaha utk menggurui, tp saya hanya mencoba utk menuanggkan pikiran saya yang sempit dan fakir ini…

    Wassalam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: