PENTINGNYA NEGARA MENJAGA AQIDAH


Salah satu racun berbahaya disebarkan penjajah di tubuh umat saat ini adalah paham sekulerisme . Inti dari paham kufur ini adalah pemisahan agama dari kehidupan publik. Bukan agama tidak diakui, tapi agama diharamkan memasuki sektor publik seperti  ekonomi, politik, dan sosial. Agama dianggap hanya persoalan ritual, individual, dan moralitas. Karenanya, negara tidak boleh campur tangan dalam urusan agama, karena agama adalah masalah keyakinan invidu.  Sekulerisme ini pun diperkuat dengan pemahaman liberal antara lain kebebasan beragama (freedom of religion). Berdasarkan pandangan ini, setiap orang tidak boleh dipaksa untuk memeluk agama tertentu, tidak boleh pula dilarang untuk keluar agama tertentu, bahkan untuk tidak beragama sekalipun. Atas dasar ini kenapa kemudian kelompok liberal dan HAM menolak pemerintah campur tangan dalam masalah Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya. Menurut mereka negara tidak boleh campur tangan dalam masalah keyakinan. Atas nama sekulerisme ini pula mereka menolak formalisasi syariah Islam oleh negara. Alasannya, negara tidak boleh campur tangan dalam masalah agama. 

 Sekularisme ini jelas berbahaya  karena merupakan asas dari ideologi Kapitalisme yang terbukti bobrok. Inti ide ini adalah menyingkirkan peran dan fungsi agama dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Kalaupun mau, agama hanya diberi peran yang bersifat moral saja. Sekularisme menihilkan peran dan fungsi Islam untuk mengatur masyarakat. Dengan asas sekularisme,  semua yang berbau syariat Islam akan ditolak. Dunia malah diatur oleh ideologi Kapitalisme yang didasarkan pada asas sekularisme ini. Kemiskinan, konflik, kesengsaran, dan ketidakadilan merupakan buah dari kepemimpinan ideologi Kapitalisme sekarang ini.  Yang paling mengerikan liberalisme ini akan mengancam aqidah umat Islam. Atas nama kebebasan berkeyakinan setiap orang kemudian bebas membuat keyakinan dan aturan sendiri. Mengaku jibril, Nabi, sholat dengan dua bahasa, dan ajaran menyesatkan lainnya. Kemusyrikan pun akan merajalela atas nama kebebasan.  

Paham liberal lainnya adalah kebebasan berpendapat. Atas dasar kebebasan ini, misalnya, mereka bebas mempersoalkan sesuatu yang jelas-jelas sudah pasti, seperti keabsahan al-Quran sebagai wahyu Allah. Atas nama kebebasan berpendapat, pemikiran seseorang tidak boleh dilarang meskipun bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Lalu atas nama kebebasan berekspresi, perzinaan, homoseksual, dan lesbianisme tidak boleh dilarang; pelacuran dibela dan dianggap sebagai profesi; pornografi dan pornoaksi pun dipertahankan. Ini jelas berbahaya karena dapat mengantarkan manusia pada derajat binatang, bahkan lebih rendah lagi.  

Produk sekuleris lain yang sama bahayanya adalah pluralisme. Ajaran ini  pada dasarnya adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama sama dan bahwa kebenaran agama adalah relatif sehingga tidak boleh ada monopoli klaim kebenaran (truth claim) oleh penganut agama tertentu, termasuk Islam. Ujung-ujungnya, mereka menolak syariat Islam, meskipun mayoritas masyarakat kita adalah Muslim. Jelas, paham ini pun berbahaya 

Pandangan Islam  

Islam jelas bertentangan dengan dengan sekulerisme. Islam adalah ajaran yang komprehensip yang mengatur segenap aspek kehidupan. Islam mengatur masalah ekonomi, politik, pendidikan, sebagaimana Islam mengatur persoalan ibadah ritual d an akhlak.   Islam juga menolak pemikiran liberalisme. Islam menegaskan bahwa tidak ada manusia yang bebas berbuat sekehendaknya. Karena itu dalam pandangan Islam, seorang muslim haruslah menjadikan aqidah Islam sebagai asas hidupnya dan terikat pada seluruh aturan Allah SWT. Hal ini merupakan konsekuensi dari keimanannya.  

Memang Islam tidak membolehkan seorang kafir (non muslim) dipaksa untuk memeluk agama Islam. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman : ” Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam)”. (QS Al Baqoroh: 256). Sebab aqidah haruslah diyakini lewat proses akal sehingga memuaskan dan menghasilkan keyakinan yang pasti (qot’i) , tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Tindakan pemaksaan jelas tidak menghasilkan keyakinan yang pasti.  Seruan (khithab) ayat diatas terbatas hanya ditujukan untuk orang-orang kafir.  Adapun kalau seseorang sudah memeluk agama Islam , dia wajib terikat pada prinsip aqidah Islam dan syariah Islam.

Kewajiban terikat pada aturan Allah Swt (syariah Islam ) ini dijelaskan dalam banyak ayat Al Qur’an. Firman Allah SWT : ” Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkaran yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS An Nisaa:65).  

Sikap seorang muslim kalau diperintah untuk terikat pada hukum Allah adalah sami’naa wa atho’naa (kami mendengar dan kami taat). Gambaran ini dijelaskan Allah SWT dalam firmannya: ” Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RosulNya agar rosul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan ‘Kami mendengar,dan kami patuh,’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS An Nuur : 51).  Setelah memeluk agama Islam, seorang muslim akan diberikan sanksi kalau dia melanggar hukum Allah SWT. 

Sama halnya kalau seseorang keluar dari Islam (murtad) Islam memberikan sanksi yang tegas yakni hukuman mati. Hal ini ditegaskan Rosulullah saw : ” Siapa saja yang mengganti agama (Islam)nya, bunuhlah dia,” (HR Ahmad, Bukhori, Muslim, Ashhabus Sunan).

Namun tentu saja sanksi ini dijatuhkan setelah lewat proses pembinaan dimana dia diberi kesempatan untuk bertaubat,kalau tetap menolak lewat proses pengadilan baru dia dijatuhkan sanksi.  Islam juga menolak kebebasan berpendapat tanpa perduli baik atau buruk. Seorang muslim tidak boleh menyatakan pendapat yang bertentangan dengan Islam (aqidah dan syariah Islam). Rosulullah SAW bersabda : ” Siapa saja yang telah beriman kepada Allah dan Hari akhir, hendaklah ia menyatakan al khair atau diam” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim). Al Khoir dalam hadist ini artinya adalah Islam atau apa yang dibenarkan oleh Islam.

Seorang muslim harus menundukkan hawa nafsunya terhadap Islam. Rosulullah saw bersabda : ” Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa (Islam)” (HR Al Baghawi dan Imam Nawawi). 

Namun bukan berarti Islam melarang seseorang untuk berpendapat, Yang dilarang adalah menyebarkan pendapat yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Kalau menyampaikan perkara al khoir (Islam) malah diperintahkan. Dalam Islam seseorang yang mengkritik penguasa ,setelah itu dia dibunuh justru dianggap syahid dalam Islam bahkan pemimpin para syuhada. Jadi mengkoreksi penguasa yang lalim bukan saja boleh , bahkan menjadi suatu kewajiban.  

Tanggung Jawab Negara 

Di dalam Islam salah satu tugas negara yang penting adalah menjaga aqidah umat (muhafadzah ‘ala al aqidah). Atas dasar ini  Rosulullah saw mewajibkan negara menjatuhkan sanksi hukum mati atas orang yang murtad. Hal ini disebabkan aqidah merupakan persoalan yang mendasar dan penting (fondasi). Kalau aqidah seseorang lemah dan rusak, maka rusak pula dia. Demikian juga kalau aqidah masyarakat rusak, bangunan masyarakat akan rusak. Ketika seseorang seenaknya murtad (keluar dari Islam ) , dia telah menyebarkan virus yang berbahaya yakni menganggap ringan masalah aqidah, dan kalau ini dibiarkan akan membahayakan masyarakt secara keseluruhan.

Maka bisa dimengerti kenapa Abu Bakar ra saat menjadi Kholifah memerangi Musailamah al kadzdzab yang mengaku sebagai nabi baru. Perkara ini adalah perkara aqidah, sebab dalam Islam , tidak ada Rosul dan Nabi setelah Rosulullah Muhammad saw.  Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, para shahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. [lihat al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa’, hal. 55-59].  Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid.    Akhirnya, atas ijin Allah swt, Musailamah al-Kadzab laknatullah berhasil dibunuh. 

Pada tahun 12 hijrah, Abu Bakar mengutus al-‘Ilaa’ bin al-Hadlramiy untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Bahrain.  Beliau juga mengutus al-Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi orang-orang murtad yang ada di Najiir.   Beliau juga mengirim Ziyad bin Labid al-Anshariy untuk memerangi sekelompok orang-orang yang keluar dari Islam.  [al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa’, hal. 58] 

Prof. Mohammad Hamidullah, di dalam kitab al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa’ al-Raasyidiin, menuturkan bahwasanya Abu Bakar ra mengutus beberapa orang shahabat untuk memerangi orang-orang yang murtad dari Islam; diantaranya adalah orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul, para penolak zakat, dan lain sebagainya.   Abu Bakar mengangkat Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid, dan jika ia telah selesai melaksanakan tugasnya, ia disuruh memerangi Malik bin Nuwairah (penolak kewajiban zakat) di Bathaah.  Beliau mengangkat ‘Ikrimah bin Abi Jahal untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab di Yamamah, dan setelah selesai ia ditugaskan untuk berangkat menuju Qadla’ah. 

Beliau juga mengangkat Muhajir bin Abi Umayyah untuk memerangi al-‘Ansiy; melindungi penduduk Yaman dari Qais bin Maksyuuh.  Setelah selesai ia ditugaskan memerangi Bani Kindah di Hadlramaut.  Beliau juga mengutus Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash ke Yaman dan al-Hamqatain di daerah Masyaarif al-Syam.  Beliau mengirim ‘Amru bin ‘Ash untuk memerangi kaum murtad di Bani Qudlaa’ah, Wadi’ah, dan al-Harits. Beliau mengangkat Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfaaniy untuk memerangi kaum murtad di Daba yang terletak di ‘Amman.  Beliau mengutus ‘Urfajah bin Hartsamah untuk memerangi kaum murtad di Mahrah.  Beliau mengangkat Suwaid bin Muqarrin untuk memerangi kaum murtad di Tihamah, Yaman. Sedangkan Tharifah bin Hajiz, beliau utus untuk memerangi kaum murtad di Bani Sulaim.  Beliau ra mengirim al-‘Ila’ al-Hadlramiy untuk memerangi kaum murtad di Bahrain. [Mohammad Hamidullah, al-Watsaaiq al-Siyaasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khulafaa’ al-Raasyidiin, hal. 338-339] 

Semua ini menunjukkan bahwa, orang-orang Islam yang mengaku dirinya sebagai Nabi baru beserta pengikut-pengikutnya adalah kafir, dan diperlakukan sama seperti orang-orang yang murtad dari Islam.    Mereka diminta bertaubat dan kembali kepada Islam.   Jika mereka menolak mereka wajib diperangi. (Farid Wadjdi)                 

One Response

  1. Assalamu alaikum,
    Sedikit saja, saya ingin menyampaikan share saya. Jadi kira2 seperti ini, kita berIslam saat ini; ” kita ini memahami islam sesuai dengan opini-opini para ulama idolanya”. Karena itu lahirlah organisasi-organisasi, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdatul Ulama, lalu kemudian ada juga seperti Ahmadiyah dan yang lain tentunya. Jadi iya itu, pertanyaannya, apa bedanya Muhammdaiyah dan ahmadiyah atau dengan yang lainnya? Kan sama-sama ormas Islam. Kalau menurut anda ahamdiyah menyimpang dari Islam! ya boleh-boleh saja anda berfikir seperti itu. Tapi kemudian kalau orang ahmadiyah meyakani hal lain, apa pasalnya anda melaramng mereka. Sama seperti orang kristiani tidak mempercayai apa yang kita yakini! ( saya Muhammadiyah mas).

    Saya sepakat al-qur’an adalah mutlak. Tidak perlu kita otak atik lagi. Tapi kalau soal interpretasi/argumentasi, boleh boleh saja, bahkan perlu dianjurkan, supaya setiap interpretasi/opini teruji kebenarannya atas dasar nalar dan akal sehat. Disinilah ilmu pengetahuna kita bertambah. Dan Allah sangat menghargai atas segela bentuk icktiar umat manusia. Bukan kepada hasilnya!!!.

    Sayang yah..agama Islam yang agung dan maha sempurna ini, karena perilaku umatnya yang meneruskan risalahnya, menampilkannya dengan cara pemahaman yang kerdil.

    Soal pluralisme; Ini kan soal siasah. Situasi saat ini ya seperti ini. Umat Islam yang lemah!!!. Tapi kan di qur’an ada kata-kata seperti ini; Ittaqullah dan itta robbakum. Apa mini artinya? Rosul merlarang menghacurkan Gereja-gereja!. Paman Rosul kan ahli kitab lainnya.

    Kalau issue umat yang diangkat hanya soal-soal seperti yang kita saksikan saat ini, saya khawatir kalau nanti penghuni syurga itu malah ternyata “Oom Liem!!!”.

    Yu lah saya mengajak, kita junjung tinggi islam ini, dengan menampilkannya diri kita pada ranah yang kaffah. Supaya kita bisa quntum khaera ummah.

    Ali Syarief

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: