PRO SYARIAH


Di dalam sidang pleno terakhir Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) IV, Rabu malam, 20/4/2005, Farid Wadjdi, peserta kongres dari HTI, mengingatkan pimpinan sidang, Pak Ikhwan Syam, agar dicatat bahwa arus utama dalam Kongres Umat Islam yang ke-IV di Hotel Sahid selama 5 hari tersebut adalah: Tuntutan penerapan syariah di Indonesia! Pak Ikhwan, yang juga pengurus MUI Pusat, lalu meminta persetujuan para peserta kongres. Setelah terdengar koor “Setuju!” dari peserta, beliau pun mencatatnya dan mengetuk palu, bahwa tuntutan penerapan syariah menjadi arus utama dalam KUI kali ini. Allâhu akbar!  Memang, ada sedikit kerikil-kerikil tak berarti,  yang begitu saja bisa diinjak atau dilewati.

Alhamdulillâh, kerjasama yang baik para pejuang syariah di antara kawan-kawan peserta kongres dari Dewan Dakwah Islamiyah, Al-Irsyad, BKSPP, IKADI, PUI, Hidayatullah, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren, HTI, dan juga sejumlah pengurus MUI serta kawan-kawan dari berbagai lembaga Islam lainnya dari kalangan pro-syariah telah menghangatkan suasana dan mendorong kerinduan mayoritas peserta pada penerapan syariah hingga mengemuka menjadi memori kolektif yang akan dibawa pulang ke daerah dan lembaga masing-masing.  Ya, tampaknya mayoritas peserta sudah bosan dengan berbagai krisis di negeri ini, yang sebab utamanya adalah tidak diterapkannya syariah dalam seluruh aspek kehidupan.  

Syariah sendiri tidak bisa tegak tanpa adanya negara, yakni Daulah Khilafah Islamiyah.  Bahkan Khilafah Islamiyah adalah bagian dari syariah. Imam al-Mawardi, dalam Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, mengatakan, “Mengangkat seorang imam (khalifah) yang akan menjadi penguasa urusan dunia dan pemimpin umat adalah sebuah kewajiban.  Dengan itu, agama dapat terjaga dan kekuasaannya berjalan sesuai dengan hukum-hukum agama.”   

Khilafah bahkan sering disebut sebagai ‘mahkota kewajiban’ dalam agama ini. Para sahabat Nabi saw. sendiri memandang upaya mengangkat Khalifah/menegakkan Khilafah sebagai kewajiban yang sangat urgen. Itu dibuktikan oleh tindakan mereka yang segera bersidang untuk memilih Abu Bakar ra. sebagai khalifah pengganti Rasulullah saw. dalam memegang tampuk kekuasaan kaum Muslim, sesaat setelah Rasulullah saw. yang mulia wafat.  

Karena itu, jika Hizbut Tahrir sering dianggap oleh sebagian pihak begitu ‘ngotot’ dan ‘terburu-buru’ dalam memperjuangkan tegaknya Khilafah, maka ingatlah bahwa umat ini sudah terlalu lama—lebih dari 80 tahun—menelantarkan kewajiban agung ini. Tidakkah kita mencontoh tindakan para sahabat Nabi saw. yang segera mengangkat Khalifah/menegakkan Khilafah tidak lebih 2 malam  3 hari setelah Nabi saw. wafat, yang bahkan untuk itu mereka terpaksa menunda dulu pemakaman jasad beliau?!  

Sekarang, Andalah yang menentukan, apakah akan bergabung bersama barisan pejuang pro-syariah dan Khilafah untuk melaksanakan kewajiban agama ini, atau bersama barisan anti syariah yang tidak mewujudkan apapun kecuali keraguan terhadap agamanya sendiri dan sikap membebek pada ideologi kufur, yakni Kapitalisme-sekular, yang sudah terbukti menyengsarakan kehidupan umat manusia! []  

One Response

  1. Assalamualaikum wr wb….salam kebangkitan islam
    blog : >http://canaprasetya.wordpress.com/
    : >http://cana23.multiply.com/
    Y M : >cana_chalipate
    Email : >cana23_sh@yahoo.com
    Wasalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: