DISKUSI POLITIK : MENGGUGAT LIBERALISME


images1.jpgPersoalan kebebasan berekspresi dan berkeyakinan kembali didiskusikan. Kali ini Kelompok Kajian Lisan IPB bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) mengangkat topik ini pada Kamis, 29 Juni 2006 di Gedung Auditarium Perikanan IPB Bogor. Hadir sebagai pembicara Hamid Basyaib (Koordinator JIL), Geis Kholifah (Yayasan Rahmat Lil Alamin) dan Farid Wadjdi (Hizbut Tahrir Indonesia). Pro-kontrapun mengalir dalam diskusi ini baik sesama pembicara maupun kritik-kritik pedas yang muncul dari peserta.
Sebagai pembicara pertama Farid Wadjdi dari HTI menyampaikan materi bagaimana Islam memandang kebebasan dan bagaimana pul kebebasan dalam Islam. Menurutnya ide kebebasan (liberalisme) sesungguhnya tidak memiliki akar pemikiran maupun historis dalam peradaban Islam. Liberalisme sendiri merupakan prinsip pemikiran penting yang lahir dari ideologi Kapitalisme.
Sementara kapitalisme sendiri merupakan respon historis dari peradaban kegelapan Eropa yang dikenal dengan abad kegelapan (the dark age). Saat itu Eropa mengalami kemunduran yang luar biasa. Muncul-lah filosop (pemikir) yang berupaya mencari penyebab kemunduran ini. Mereka kemudian melihat pangkal persoalannya adalah dibelenggunya masyarakat Eropa dengan pemikiran jumud. Sistem teokrasi saat itu memposisikan raja sebagai wakil Tuhan dimuka bumi. Suara raja kemudian dianggap suara Tuhan. Raja tidak bisa salah: King can do no wrong. Karenanya raja tidak bisa dikritik dan tidak relevan dikritik. Terjadilah kejumudan berpikir dan raja kemudian menjadi diktator yang dilegitamasi pemuka gereja saat itu.
Solusinya adalah sekulerisme; pisahkan agama dari kehidupan; agama hanya untuk persoalan moralitas, ritual, dan urusan indivual, respon para pemikir saat itu. Lahirlah kemudian pemikiran derivat dari sekulerisme di bidang politik (demokrasi), dibidang masyarakat (pluralisme), dibidang ekonomi kapitalisme-ekonomi, dan pandangan terhadap manusia yakni kebebasan (liberalisme).
Hal ini berbeda jauh dengan Islam yang tidak mengenal sekulerisme. Islam secara prinsipil mengajarkan tidak ada pemisahan urusan agama dari kehidupan. Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari masalah individual seperti akhlak, ibadah ritual (sholat, shaum, zakat, jihad), sampai persoalan muamalah seperti ekonomi, politik, pemerintahan. Sebagaimana shaum, sholat, dan zakat yang diwajibkan. Jihad juga adalah perkara yang diwajibkan dalam Islam. Sebagaimana Islam memerintahkan untuk ibadah haji, Islam juga melarang riba dalam perekonomian, menumpuk kekayaan sehingga kekayaan hanya ada pada sedikit kelompok dan kewajiban mengangkat pemimpin yakni Kholifah.
Islam juga tidak akan memunculkan sistem diktator seperti Eropa di abad kegelapan. Sebab suara Kholifah sebagai kepala negara bukanlah suara Tuhan. Pendapat Kholifah tidak otomatis merupakan hukum Allah. Pendapat Kholifah harus tetap merujuk kepada Al Quran dan Sunnah sebagai sumber hukum. Karenanya pendapat Kholifah boleh ditolak dan dikritik, kalau bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah.
Sehingga dalam Islam kewajiban mengkritik penguasa (Kholifah) memiliki posisi yang mulia yang disetarakan dengan pemimpin para syuhada. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits : sebaik-baik jihad adalah melontarkan kata yang hak di depan penguasa yang dzolim. Menurut Farid Wadji liberalisme ini berpangkal dari ideologi Kapitalisme yang sekuler. Karena-nya Liberalisme bertentangan dengan Islam.

Liberalisme Sistem Terbaik ?
Berbeda dengan pandangan Hamid Basyaib dari JIL. Menurutnya liberalisme adalah kebebasan bukan keliaran. Argumentasinya, manusia itu pada dasarnya adalah baik, karena itu berikan saja manusia kebebasan. Dengan akalnya manusia akan dapat menjaga dirinya. Disamping itu kebebasan individu akan dibatasi oleh kebebasan orang lain, sehingga akan memunculkan balance (keseimbangan). Tidak ada dalam sejarahnya manusia berbuat ngawur, tegas Hamid.
Namun pendapat ini ditolak oleh Farid. Menurutnya tidak benar liberalisme tidak akan membuat manusia berbuat ngawur. Pemimpin redaksi Al-Waie ini mengungkap fakta-fakta bagaimana adopsi pemikiran liberalisme yang dipraktekkan negara-negara Kapitalis telah membawa umat manusia pada kehancuran. Kebebasan pemilikan atas sumber-sumber ekonomi yang melahirkan sistem ekonomi kapitalis telah terbuat membawa penderitaan yang luar biasa pada umat manusia. Sistem kapitalisme global telah membuat kemiskinan global di dunia. Mengutip laporan Bank Dunia separuh dari jumlah penduduk dunia saat ini hidup dengan daya beli dibawah 2 dollar AS, 800 juta orang terancam di dunia akibat kemiskinan dan keterbelakangan. Sementara negara-negara kapitalis subjek bergelimpang dengan kemewahan.
Kapitalisme global dengan aktor utamanya AS, Inggris dan Negara-negara Eropa telah menjadikan kepentingan ekonomi sebagai legalisasi menindas negara lain. Untuk menjamin suplay minyak dan keamanan energinya, suplai bahan mentah, dan menguasai pasar dunia AS dan sekutunya merampok kekayaan alam negara-negara dunia ketiga yang kekayaan alamnya banyak tapi hidup mereka miskin. Untuk itu Negara-negara Kapitalis tidak perduli mesipun harus membunuh banyak rakyat sipil. Farid mengungkapkan fakta bagaimana AS telah membunuh ratusan ribu rakyat sipil Irak, Afghanistan. AS-pulalah negara yang menggunakan bom atom pertama kali di Hiroshima dan Nagasaki yang telah membunuh banyak rakyat sipil yang tidak berdosa. Hal yang sama mereka lakukan di Vietnam dengan menggunakan senjata kimia pemusnah massal.
Liberalisme juga lanjut Farid, telah menodai peradaban manusia yang luhur dan semakin menjerumuskan manusia pada kerusakan moralitas dan tingkah langkah. Sekarang ini, ungkap Farid, beberapa negara Barat telah melegalisasi perkawinan manusia sejenis (lesbian dan homoseksual). Praktek-praktek lesbian dan homo seksual pun telah berlangsung lama. Tidak heran pula kebebasan ini telah meningkatkan kejahatan seksual di negara-negara Kapitalis. 1,3 perempuan AS diperkosa tiap menitnya yang sebagian besar didorong oleh pornografi. Belum lagi tingkat aborsi yang tinggi.

Kekeliruan Mendasar Liberalisme
Farid Wadjdi juga mengkritik secara mendasar pemikiran liberalisme. Menurutnya manusia itu tidak bisa dikatakan pada dasarnya baik, karenanya meskipun diberikan kebebasan manusia akan menjaga dirinya sehingga muncul keseimbangan. Faktanya, tandas Farid, liberalisme telah membawa kehancuran manusia, kejahatan merajalela, penindasan oleh negara-negara liberal terus berlangsung. Apakah kita harus membiarkan kerusakan ini terus berlangsung sambil menunggu balancing yang tidak kunjung jelas kapan datangnya ? tanya Farid.
Tidak benar pula pandangan yang mengatakan akan timbul balancing dengan prinsip asal tidak mengganggu kebebasan orang lain. Standar asal tidak mengganggu orang lain ini sangat relatif dan sebenarnya tidak bisa dijadikan patokan. Sebab kalau standarnya sama-sama hawa nafsu manusia, sesuatu yang jelas kejahatan dan kemaksiatan bisa jadi dianggap tidak mengganggu karena dianggap bukan merupakan perkara yang salah. Dan tidak sedikit para suami tukar menukar dengan istri temannya, dan tidak merasa terganggu karena masing-masing menganggap hal itu bukan kesalahan. Atau telanjang di pantai tanpa sehelai benang sekalipun tidak ada yang merasa terganggu karena menganggap hal itu boleh-boleh saja. Sebagaimana saat ini masyarakat Barat sangat permisif terhadap praktek-praktek pelacuran, pornografi, lesbianisme, homoseksual, karena menganggap hal itu tidak masalah karenanya tidak menganggu. Cara berpikir seperti ini akan sangat membahayakan manusia, karena dianggap tidak masalah, sangat mungkin di kemudian hari, perzinahan dengan anak-anak, perkawinan antara anak dan bapak kandung dianggap tidak menganggu masyarakat karena dianggap tidak salah. Hal ini akan membuat manusia akan semakin terjerumus dalam kehancuran.
Yang tepat , lanjut Farid. Manusia itu diberikan Allah potensi untuk berbuat baik atau pun buruk. Sebab Allah SWT menciptakan pada manusia potensi hidup berupa naluri (ghorizah) seperti kasih sayang, beragama, mempertahankan diri. Dan dilengkapi juga oleh Allah SWT dengan potensi hajatul udhowiyah (kebutuhan fisik) seperti rasa lapar dan haus. Yang menentukan baik buruknya manusia adalah dengan standar apa di menyalurkan naluri dan kebutuhan jasmaninya. Karena itu manusia butuh standar baik dan buruk untuk menentukan apakah perbuatannya itu baik atau buruk.
Standar baik dan buruk tersebut haruslah berasal dari Allah SWT yang menciptakan manusia. SebabAllah-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Sehingga manusia dianggap buruk kalau salah menyalurkan naluri dan kebutuhan jasmaninya dia menyimpang dari aturan Allah. Sebaliknya dia akan dianggap baik kalau sesuai dengan aturan Allah SWT.
Tentang akal manusia, Allah memang menciptakan itu untuk kebaikan manusia. Namun akal manusia jelas memiliki keterbatasan. Akal hanya bisa menjangkau sesuatu yang bisa diinderanya. Sementara persoalan baik dan buruk dalam pengertian apakah Allah SWT meridhoi perbuatannya atau tidak, apakah Allah mencela perbuatan itu atau tidak, jelas tidak bisa diserahkan kepada akal manusia. Harus merujuk pada hukum Allah SWT.
Karena itu akal manusia diperintahkan oleh Allah SWT justru untuk membuktikan keberadaan Allah SWT dan kekuasaannya. Sehingga dengan akalnya manusia menyadari keterbatasannya, untuk itu dia memasrakan diri pada hukum Allah SWT. Terbukti ayat-ayat Al Quran yang ada di Al Quran selalu memerintahkan untuk mengamati alam semesta. Sementara untuk hukum, diperintahkan merujuk kepada hukum Allah SWT, tidak boleh menjadikan hawa nafsu menusia sebagai sumber hukum.
Menjawab hal itu, Hamid Basyaib mengakui bahwa demokrasi bukanlah sistem yang sempurna, tapi merupakan sistem yang terbaik diantara yang ada. Sementara Farid menyatakan kita harus menghindari cara berpikir dikotomis, seakan-akan kalau tidak demokrasi berarti sistem diktator. Padahal Islam merupakan pilihan ketiga, Islam merupakan the third way (jalan ketiga). Kalau ada Islam merupakan sistem yang terbaik dan yang sempurna, kenapa tidak memilih Islam ?

 

2 Responses

  1. Artikel yang bagus. Silahkan bergabung dalam komunitas demokrasi kami, dan berdebat dengan yang lain disana.

    Salam demokrasi!

  2. Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di Bumi.
    Jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam adalah kurang lebih 80%.
    Jadi permasalahan Kemiskinan, Kerawanan Sosial, Pengangguran, Kriminal, Kesehatan, Pendidikan, SDM dan lainnya yang terjadi di Indonesia adalah orang yang beragama Islam.

    Bicara tentang pemimpin, dalam arti pemimpin masyarakat heterogen, Agama Islam mensyaratkan bahwa pemimpin haruslah yang Islam.
    Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
    Islam adalah universal.
    Islam mengurusi banyak hal kehidupan manusia
    Baik hubungan dengan Alloh, dengan manusia, dengan lingkungan sekitar kita, dengan alam semesta hingga kehidupan setelah manusia meninggal.
    Oleh sebab itu, pemimpin harus bertanggung jawab memastikan perkara agama dan akhlak untuk keselamatan bersama di dunia dan akhirat.
    Setiap pemimpin di akhirat kelak akan ditanya oleh Alloh Ta’ala setiap orang di bawah pimpinannya, tidak terkecuali pemimpin besar atau kecil, umum atau khusus.
    Mereka tidak boleh memikirkan bidangnya saja.
    Dalam ajaran Islam, masalah agama terutama di sudut fardhu ain mesti diketahui, dihayati dan diamalkan oleh setiap mukallaf (muslim, baligh, berakal yang telah dapat dikenai hukum).

    Insya Alloh, 09 April 2009, bangsa Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum untuk memilih pemimpin bangsa sekaligus wakil rakyat, yaitu:

    1. Pemimpin sekaligus wakil rakyat di DPRD tingkat 2 (Kabupaten atau Kota Madya)
    2. Pemimpin sekaligus wakil rakyat di DPRD tingkat 1 (Provinsi)
    3. Pemimpin sekaligus wakil rakyat di DPR RI (Pusat)
    4. Pemimpin sekaligus wakil rakyat di DPD

    Sebenarnya mereka dipilih rakyat Indonesia untuk menjadi wakil rakyat di pemerintahan Indonesia.

    Jangan terlupakan, yaitu :
    Pengalaman ketika RUU Sisdiknas tanggal 30 Maret 2003.
    Kontraversi yang diangkat oleh beberapa anggota DPR RI adalah RUU Sisdiknas pasal 12 yang berbunyi,
    “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”.
    Apa yang salah tentang pasal 12 ini?
    Tidak ada yang dirugikan, tapi lagi-lagi beberapa wakil rakyat yang ada di DPR RI tidak setuju yaitu dengan beraneka alasan dan argumentasi untuk menolaknya.
    Alhamdulillah, dengan perjuangan, persatuan dan kekuatan umat Islam, UNDANG-UNDANG Nomor 20 Tahun 2003.
    Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL pada tanggal 8 Juli 2003 disyahkan oleh DPR RI dan ditandatangani oleh Presiden.

    Pengalaman ketka RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang bertujuan menata dan mengatur kegiatan pronografi dan moral manusia selalu terhambat menjadi Undang-undang oleh beberapa anggota wakil Rakyat di DPR RI.

    Dan masih banyak lagi Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mendorong bangsa Indonesia menuju kebaikan terhambat oleh ulah beberapa wakil rakyat di DPR RI.

    Oleh sebab itu, sebagai warga negara Indonesia yang baik, Jika kita sudah mempunyai KTP, apalagi KTP-nya tertulis beragama Islam maka kita berkewajiban untuk mengikuti Pemilihan Umum yang akan memilih wakil rakyat Indonesia.
    Silahkan memilih partai yang sesuai dengan pilihannya.
    Partai boleh beda, tapi calon pemimpin yang akan di contreng harus seiman atau se-aqidah Islam.
    Jangan pilih partainya saja, karena nantinya pemilih tidak tahu siapa yang akan menjadi pemimpin.
    Tapi pilihlah partai yang diinginkan (sehati) dan orang yang akan dipilih menjadi pemimpin.
    Jangan GOLPUT. Karena akan mengakibatkan pemimpin kita tidak jelas.

    TIP CONTRENG PEMIMPIN (Khusus yang KTP nya beragama Islam):
    1. Pilihlah (Contreng) Calon Pemimpin yang beragama ISLAM dan Amanah.
    2. Pilihlah (Contreng) Calon Pemimpin yang beragama Islam.
    3. Yang lebih aman adalah pilih partai yang berazaskan Islam.

    Bila belum tahu calon pemimpin yang akan dipilih (contreng) maka :
    1. Cari daftar nama calon pemimpin yang-ber-inisial (nama panggilan) Islam
    (Misal: Muhammad, Ahmad, Akbar dll)
    2. Tanyakan ke orang lain / tetangga, Siapa calon pemimpin yang beragama Islam?

    Semoga bermanfaat.

    Sampaikanlah email ini kepada teman, saudara, orang tua yang sudah mempunyai KTP, khususnya KTP yang tertulis beragama Islam.
    Kita harus memilih pemimpin yang beragama Islam.
    Yaitu sesuai dengan aqidah kita.
    Partainya silahkan berbeda sesuai yang diinginkan.
    Tapi nama calon pemimpin yang di contreng adalah orang yang se-aqidah.
    Sehingga negara Indonesia mempunyai undang-undang dan peraturan pemerintah sesuai dengan penduduk Indonesia yang beragama 80% Islam.

    Sekali lagi ” Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: