Tibet, Wilders, dan Standar Ganda Barat


Hari Senin kemarin, pengadilan Belanda memutuskan ‘tak bersalah’ terhadap pembuat film Fitna dan pernah menganggap Al-Quran sebagai ‘buku orang fasis’; Pengadilan menganggap anggota parlemen sayap kanan Belanda itu  tidak bersalah .Sebelumnya, Wilders diadukan ke pengadilan oleh Federasi Islam Belanda (DIF), yang menuntut Wilders dihukum karena membandingkan Al-Quran dengan Mein Kampf, buku yang dibuat Adolf Hitler dan dianggap sebagai kitab suci kaum Nazi.Hakim pengadilan Belanda mengatakan, anggota parlemen dari kubu konservatif itu tak bersalah dan memiliki hak untuk berbicara dan mengekspresikan opininya.

Penolakan ini juga menunjukkan pemerintah Belanda menyetujui penghinaan terhadap Islam. Sebelumnya, pemerintah Belanda berulang-ulang menyatakan pandangan Wilders bukanlah pandangan pemerintah Belanda. Seperti yang dikatakan Nikolas Van Dam dubes Belanda untuk Indonesia kepada delegasi Hizbut Tahrir Indonesia, Menurutnya apa yang dilakukan Wilders tidak mencerminkan sikap pemerintah Belanda dan mayoritas rakyat Belanda. “ Demontrasi terhadap kedubes Belanda adalah salah alamat, seharusnya demontrasi ditujukan kepada Wilders,” ujarnya.

Namun hal ini dibantah oleh Ismail Yusanto, kedubes Belanda adalah tempat yang tepat, karena mewakili pemerintah Belanda. “ Wilders adalah warga negara Belanda, pemerintah Belanda harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan warganya, apalagi Pemerintah Belanda memiliki kewenangan dan otoritas untuk mencegah kejahatan yang dilakukan Wilders dengan menghina Al Qur’an dan Islam,” tegas Ismail. Penolakan Pengadilan Belanda untuk menindak Wilders semakin membuktikan bahwa Negara Belanda menyetujui penghinaan ini.

Ismail mengatakan pemerintah Barat sering kali mengajari umat Islam agar moderat, mengembangkan sikap toleransi, dan saling menghormati. Namun Ismail mengatakan, apa yang dilakukan pemerintah Barat adalah sebaliknya. Pemerintah Barat justru tidak mencegah dan membiarkan media massa dan orang-orang yang menghina Islam atas nama kebebasan. “ Rosul kami dihina lewat kartun, Al Qur’an dituduh kitab fasis, kerudung dilarang di Perancis, dimana letak saling menghormati itu?”,tanya Ismail.

Sikap tidak tegas pemerintah Barat membiarkan tindakan ekstrim warganya yang menghina Islam membuktikan toleransi dan saling menghormati sekedar basa-basi. “ Pemerintah Barat bicara tentang dialog antar peradaban, di sisi lain pemerintah Barat mendukung tindakan teroris dan ekstrim AS menyerang dan membunuh rakyat Irak dengan korban hingga 1 juta orang, dengan alasan memberikan ‘kebebasan’ kepada Irak”, kritiknya.

Sungguh mengerikan kalau kebebasan diartikan sebagai kebebasan menghina orang lain apalagi agama orang lain. Sama mengerikannya peradaban Kapitalisme yang atas nama perang melawan terorisme, memerangi negara lain. Dengan alasan menegakkan demokrasi, menyerbu Irak dengan membunuh jutaan orang disana.

Standar Ganda Barat

Film Fitna juga semakin mengokohkan standar ganda Barat selama ini. Di satu sisi, Wilders dibebaskan dengan alasan kebebasan berpendapat, namun disisi lain Wilders justru membelenggu kebebasan berpendapat dengan menyerukan pelarangan terhadap Al Qur’an. Menurutnya Al Qur’an adalah kitab suci fasis yang menyerukan kekerasan. Dengan sombong dia menyerukan agar umat Islam menyobek dan membuang setengah dari isi Al Qur’an. ‘’Muslim yang tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari Al Qur’an. Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan belenggu,’’ ujar Wilders.

Disatu sisi menghina Rosulullah SAW , nabinya lebih dari 1,5 milyar umat Islam di dunia dibolehkan dengan alasan kebebasan. Di sisi lain siapapun yang mengkiritik holocoust di sebagian besar negara Eropa dianggap sebagai kriminal dan diajukan ke pengadilan. Siapapun yang mengkritik tindakan teroris Israel akan dicap sebagai antisemit.

Mantan Walikota London Ken Livingstone dinonaktiktifkan dari jabatannya karena dianggap telah menghina Yahudi. Adjudication Panel for England-sebuah panel yang ditunjuk pemerintah untuk menangani keluhan-keluhan terhadap otoritas pemerintahan lokal-menyatakan bahwa Livingstone harus dinonaktifkan selama 4 minggu.

Keputusan panel itu berawal dari penyataan Livingstone yang sudah membanding-bandingkan Finegold yang berdarah Yahudi dengan seorang penjaga kamp konsentrasi Nazi. Tiga anggota panel mengatakan, pernyataan Livingstone terhadap Oliver Finegold-seorang reporter untuk London Evening Standard-pada 8 Februari 2004 merupakan pernyataan yang tidak sensitif, tidak sopan dan tidak perlu dilontarkan oleh seorang walikota.

Pengadilan Austria tetap menyatakan sejarawan asal Inggris, David Irving bersalah dan menjatuhkan sangsi 3 tahun penjara, meskipun Irving sudah menarik kembali penolakannya terhadap tragedi Holocaust. David Irving terpaksa berurusan dengan pengadilan ketika pada 1989 keluar surat penangkapan untuk dirinya. Ia ditangkap karena pernyataannya yang meragukan tragedi Holocaust 17 tahun yang lalu.

Nasib Umat Islam China

Sikap Barat terhadap Tibet juga sangat berbeda dalam kasus yang berhubungan dengan umat Islam . Negara Barat secara massif melakukan pembelaan terhadap Tibet , dengan alasan China telah mengekang kebebasan berpendapat dan beragama di Tibet. Ribuan orang melakukan aksi protes dan mengganggu perjalanan api olimpiade menyerukan kebebasan di Tibet.

Sebaliknya di beberapa tempat di negara Barat, umat Islam dilarang untuk mendirikan masjid. Alison Ruoff, seorang pemuka agama Kristen yang menjadi anggota Sinode Umum, badan yang mengatur gereja di Inggris. Ia menyerukan larangan pembangunan masjid baru karena khawatir bila lingkungan di sekitar masjid akan menjadi komunitas Islami. Ruoff adalah seorang evangelish konservatif dan mantan hakim. Ia mengklaim pembangunan masjid yang lebih banyak justru membuat syariah menjadi kenyataan yang bisa diterapkan di Inggris. Jilbab juga dilarang di Perancis.

Kalau nasib umat Budha di Tibet dibela habis-habisan oleh Barat, bagaimana dengan umat Islam di Xinjiang dan Uighur yang mengalami penindasan yang luar biasa oleh pemerintah Cina ? DPR Amerika mengesahkan resolusi yang mengutuk penumpasan yang dilakukan Cina di Tibet,tetapi diam terhadap penghinaan dan penyiksaan terhadap umat Islam.

Cina diserukan supaya mengakhiri tindakan kekerasan yang dilancarkannya atas demonstran Tibet, dan mengecam kebijaksanaan Cina yang terus menekan kebebasan beragama, kebudayaan, ekonomi dan bahasa di Tibet. Ketua DPR Nancy Pelosi adalah sponsor resolusi itu, yang selanjutnya menyerukan supaya Cina segera mengadakan perundingan tanpa syarat dengan pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama. Juga diserukan supaya Cina mengizinkan wartawan dan pemantau internasional untuk masuk dengan bebas ke Tibet.

Sikap berbeda Barat ini dikecam oleh Charles Cumming dalam tulisannya di The Guardian. Menurutnya, Tibet bukan hanya provinsi China yang menderita dari perlakuan barbar dari tuannya di Beijing. Mungkin saja bahwa orang-orang itu masih tidak peduli terhadap Xinjiang karena mereka tidak punya Dalai Lama, tidak ada Richard Gere yang menjadikan hal ini menjadi perhatian internasional. Jika hal itu ada, maka kita akan lebih banyak tahu atas tindakan barbar atas penduduk Uighurs dari hari ke hari.

Sedemikian paranoidnya pemerintah China atas ancaman dari sebuah kelompok separatis Xinjiang sehingga mereka akan memenjarakan penduduk yang tidak berdosa atas alasan alasan yang lemah. Penduduk Uighurs telah ditahan karena membaca Koran yang bersimpati atas perkara kemerdekaan. Yang lainnya ditahan hanya karena mendengar Radio Free Asia, sebuah stasiun radio berbahasa Inggris yang didanai oleh Kongres Amerika.

Bahkan membicarakan separatisme di muka umum adalah hal yang bisa berakibat hukuman penjara yang lama, tanpa ada surat perintah penangkapan, perwakilan hukum yang efektif atau pengadilan yang fair. Sekitar 100 orang penduduk Uighur ditahan di Khotan baru baru ini setelah beberapa ratus orang berdemonstrasi di tempat belanja di kota, yang terletak di Jalan Sutera.

Dan apakah yang terjadi pada penduduk Uighur laki-laki dan perempuan yang tidak berdosa itu ketika mereka ditahan pada penjara Xinjiang yang terkenal sebagai “penjara hitam”? .Amnesty Internasional telah melaporkan sedemikian banyak insiden penyiksaan, darimulai sundutan rokok pada kulit hingga menenggelamkan kepala di air atau berenang telanjang bulat di tempat pembuangan kotoran. Para tahanan dicabut kukunya dengan tang, diserang oleh anjing and dibakar dengan tongkat pemukul listrik, bahkan dipecut dengan pecutan untuk hewan ternak.

Di Typhoon, Cumming menceritakan kisah nyata yang menakutkan atas seorang tahanan Xinjiang yang ujung penisnya dimasukkan helai rambut kuda. Melalui penyiksaan yang kejam ini, korban dipaksa untuk memakai helm metal dikepalanya. Kenapa? Karena teman satu penjara yang sebelumnya begitu trauma dengan perlakuan di penjara itu hingga dia membenturkan kepalanya ke sebuah radiator dalam usaha bunuh diri.Walhasil, patut dipertanyakan kampanye Barat dan agen-agennya di Indonesia yang menyerukan menolak radikalisme dan mendorong umat Islam menjadi Muslim moderat dan toleran terhadap nilai-nilai Barat. Pemerintah Barat membiarkan pemikiran ekstrem dan radikal atas nama kebebasan, menghina Islam, dan kaum Muslim. Tindakan radikal juga dilakukan AS dan Israel terhadap negeri Islam yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Walhasil, dialog peradaban dan dorongan agar menjadi Muslim moderat terkesan sekadar untuk membungkam perlawanan umat Islam terhadap Barat yang menindas umat Islam dan mendorong umat Islam agar mau diperlakukan secara semena-mena oleh mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: