Non Muslim dan Syariah Islam


T.W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menulis : “ Ketika Konstantinopel kemudian dibuka oleh keadilan Islam pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya sebagai pelindung Gereja Yunani. Penindasan pada kaum Kristen dilarang keras dan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada Uskup Agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya. Hal yang tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya. Gennadios diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri. Sang Uskup juga berhak meminta perhatian pemerintah dan keputusan Sultan untuk menyikapi para gubernur yang tidak adil,”.

Demikianlah pengakuan jujur seorang sejarawan Barat terhadap perlakuan Khilafah Islam terhadap non muslim. Tulisan Arnold tersebut sekaligus membantah propaganda busuk yang selama ini dilontarkan terhadap syariah Islam tentang perlakuan terhadap non muslim di Negara Khilafah. Dikesankan selama ini bahwa penerapan syariah Islam berarti pembantaian besar-besaran terhadap orang kafir. Syariah Islam diskriminatif karena akan menjadikan kelompok non muslim menjadi kelompok minoritas yang terpinggirkan. Non Muslim juga akan dipaksa untuk masuk Islam dan mereka tidak dibolehkan untuk beribadah. Gereja, biara, akan dibakar oleh Negara. Banyak lagi tuduhan keji yang intinya menyerang syariah Islam.

Upaya seperti ini bukanlah tidak disengaja tapi dilakukan secara terencara dan sistematis. Seperti tampak pada rekomendasi Cheryl Benard( The Rand Corporation)yang antara lain menyatakan : ada beberapa ide yang harus terus-menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, isu minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri. (Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, The Rand Corporation, halaman 1-24).

Isu minoritas yang terindas dan terpinggirkan kalau syariah Islam diterapkan memang paling sering dilontarkan. Tentu saja tujuannya untuk memunculkan ketakutan terhadap syariah Islam. Hal ini dibantah tegas oleh Ustadz Siddiq Aljawie pengasuh Ma’ahad Taqyuddin a di Yogyakarta, menurutnya secara syar’I dan realita sejarah yang ada tidak terbantahkan perlakuan Islam yang adil dan baik terbaik non Muslim (Ahlul dzimmah) yang menjadi warga Negara Daulah Khilafah Islam. “ Dalam Daulah Khilafah Islam tidak ada istilah minoritas, yang dipertimbangkan semata adalah sisi kemanusiannya dan posisi mereka sebagai warga Negara Daulah Khilafah, artinya siapapun dia baik muslim dan muslim yang menjadi warga Negara akan menikmat hak yang telah ditetapkan oleh syariat terhadap mereka”, tegasnya.

Dalam hukum Islam , warga Negara yang non Muslim disebut sebagai dzimmi, dzimmah berarti ‘kewajiban untuk memenuhi perjanjian’. Termasuk dalam ahlul dzimmah adalah seluruh mu’ahid (orang yang terikat perjanjian dengan Negara Khilafah) dan musta’min (individu yang memasuki wilayah Negara Khilafah dengan izin ). Islam menganggap sebagai warganegara Negara Khilafah Islam , mereka berhak mendapat berlakuan yang sama berdasarkan syariah, negara menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, akal, kehidupan dan harta benda mereka. Kedudukan warga non muslim (ahlul dzimmah) sendiri telah diterangkan oleh Rosulullah saw dalam sabdanya, “ Barang siapa yang membunuh seorang mu’ahid tanpa alasan yang hak , maka ia tidak akan mencium wangi surga , bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekalipun. (HR Ahmad).

Secara umum syekh Taqiyuddin an Nabhani menjelaskan bagaimana perlakuan terhadap non Muslim dalam kitab ad Daulah al Islamiyah antara lain : (1) Seluruh hukum Islam diterapkan kepada kaum muslim; (2) Non muslim dibolehkan tetap memeluk agama mereka dan beribadah berdasarkan keyakinannya; (3) Memberlakukan non muslim dalam urusan makan dan pakaian sesuai agama mereka dalam koridor peraturan umum; (4) Urusan pernikahan dan perceraian antar non muslim diperlakukan menurut aturan agama mereka; (5) Dalam bidang public seperti mu’amalah, uqubat (sanksi), sistem pemerintahan, perekonomian, dan sebagainya , negara menerapkan syariat Islam kepada seluruh warga Negara baik muslim maupun non muslim; (6) setiap warga Negara yang memiliki kewarganegaraan Islam adalah rakyat Negara, sehingga Negara wajib memelihara mereka seluruhnya secara sama, tanpa membedakan muslim maupun non muslim.

Berkaitan dengan tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam dan kebolehan non muslim beribadah , bisa dibuktikan dengan masih adanya komunitas Yahudi dan Kristen yang tinggal dikawasan Timur Tengah meskipun disana pusat Khilafah Islam yang berkuasa disana selama 1300 tahun. Gereja-gereja tua juga masih banyak terdapat di beberapa kawasan di Timur Tengah. Kalau terjadi pembantaian kenapa mereka masih eksis hingga kini. Bandingkan dengan musnahnya muslim di Spanyol (Andalusia) sekarang ini, setelah pembantaian yang dilakukan Ratu Isabella. Padahal Spanyol dahulunya adalah pusat pemerintahan Islam.

Keagungan Islam menjamin kebolehan non muslim beribadah tampak ketika Umar bin Khottob ra menaklukkan Yerussalem. Ketika ia berada di Gereja Holy Sepulchre, waktu sholat umat Islam pun tiba. Dengan sopan sang uskup menyilakannya sholat di tempat ia berada, tapi Umar dengan sopan pula menolak. Jika ia berdoa dalam gereja, jelasnya, umat Islam akan mengenang kejadian ini dengan mendirikan sebuah mesjid di sana, dan ini berarti mereka akan memusnahkan Holy Sepulchre

Pengakuan jujur ditulis TW Arnold dalam The Preaching of Islam, “ Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyk dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa , toleransi keagamaan diberikan kepada mereka , dan perlindungan jiwa dan harta mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Perlakuan yang sama di depan hukum juga tercermin dari penerapan peradilan Islam yang adil. Ketika ada sahabatnya yang melobi agar seorang pembesar wanita tidak dihukum Rosulullah saw marah besar dan mengatakan : “ Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, akan kupotong tangannya, “. Umar bin Khottob ra saat menjadi Kholifah pernah menghukum puteranya sendiri.

Bahwa hukum Islam dalam masalah sanksi juga berlaku sama untuk non muslim dijelaskan dari riwayat Ibnu Umar : “ Dua orang Yahudi didakwa karena berzina dan dibawa kehadapan Rasulullah saw, beliau kemudian memerintahkan agar mereka di rajam,”.Mazhab Imam Abu Hanifah juga menyatakan : “ Bila seorang muslim membunuh siapapun dari kalangan ahlul dzimmah (warga Negara non muslim), maka dia wajib dihukum dengan hukum bunuh pula, ini berlaku baik pada perempuan maupun laki-laki”.

Keadilan hukum Islam termasuk kepada non muslim juga tampak saat dimasa Kholifah Umar bin Khoththob ra. , sejumlah muslim menyerobot tanah yang dimiliki oleh seorang Yahudi dan mendirikan masjid diatas tanah tersebut. Hal ini jelas merupakan pelanggaran hak Yahudi tersebut sebagai ahlul dzimmah. Umar kemudian memerintahkan agar masjid tersebut dirubuhkan dan tanah tersebut dikembalikan kepada Yahudi itu. Terkenal juga kisah ketika Imam Ali ra. sebagai Kholifah , gugatannya terhadap seorang Yahudi dengan tuduhan telah mencuri baju besinya ditolak oleh peradilan Islam. Masalahnya , gugatan tersebut tidak memenuhi syarat pembuktian (al bayyinah) . Imam Ali hanya bisa menghadirkan saksi anaknya sendiri, hakim menolaknya dengan menyatakan bahwa anak tidak dapat dijadikan saksi dalam perkara yang melibatkan ayahnya di pengadilan. Apa yang kemudian terjadi, Yahudi tersebut kemudian terharu , akhirnya mengakui bahwa ia telah mencuri dan kemudian memeluk agama Islam.

Bahwa Negara wajib memelihara warga negaranya termasuk non muslim tampak dari kewajiban Negara menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat (muslim maupun non muslim) seperti sandang, pangan , dan papan. Negara juga memberikan pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan gratis bagi warganya termasuk non muslim. Dimasa Umar bin Khoththob sebagai Kholifah pernah membebaskan seorang Yahudi tua yang tidak sanggup lagi membayar jizyah yang merupakan kewajiban bagi warga non muslim. Padahal untuk golongan miskin bayaran jizyah tersebut sangat kecil hanya 1 dinar (4,25 gr emas) lebih kurang Rp 425.000. Tidak hanya itu Kholifah memerintahkan baitul mal untuk memenuhi kebutuhan pokok Yahudi tua tersebut.

Fasilitas pendidikan gratis pun diberikan sama kepada muslim dan non muslim. Di Bagdad berdiri Universitas al Mustanshiriyyah, Khalifah Hakam bin Abdurrahman an Nashir mendirikan Univ. Cordoba yang menampung Mahasiswa Muslim dan Barat. Gratis. Tidaklah heran kalau Raja Inggris mengirim keluarganya untuk belajar di Daulah Khilafah seperti yang tampak dalam surat dari George II, Raja Inggeris, Swedia dan Norwegia, Kepada Khalifah Hisyam III di Andalusia Spanyol, kutipan surat tersebut antara lain : ” Setelah salam hormat dan takdzim, kami beritahukan kepada yang Mulia, bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan yang luar biasa, dimana berbagai sekolah sains dan industri bisa menikmatinya di negeri yang Mulia, yang metropolit itu. Kami mengharapkan anak-anak kami bisa menimba keagungan yang ideal ini agar kelak menjadi cikal bakal kebaikan untuk mewarisi peninggalan yang Mulia guna menebar cahaya ilmu di negeri kami, yang masih diliputi kebodohan dari berbagai penjuru.”

Jaminan keamanan pun diberikan kepada non muslim. Sejarah mencatat, bahwa Kholifah pernah memberikan sertifikat tanah (Tahun 925 H/1519 H) kepada para pengungsi Yahudi yang diusir dari Spanyol setelah runtuhnya pemerintahan Islam di sana. Terdapan Surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H). Raja Perancis pernah dilindungi oleh Kholifah Sulaiman al Qonuni ketika diancam oleh musuh-musuhnya.

Sejarahwan William Durrant menggambarkan hal ini dalam tulisannya : ” Para Kholifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Kholifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setalah masa mereka ” (Farid wadjdi )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: