100 juta Orang Terpukul


WFP: Dampak Krisis Pangan Mirip Serangan Tsunami
London, Rabu – Program Pangan Dunia PBB atau WFP memperkirakan sudah ada 20 juta orang yang terpukul krisis pangan. Sekitar 100 juta orang lagi kini sudah memasuki kategori kelaparan. Enam bulan lalu mereka belum memasuki kategori itu. Krisis pangan mirip serangan tsunami.
Direktur Eksekutif WFP Josette Sheeran di London, Rabu (23/4), mengatakan, krisis pangan mirip serangan tsunami yang diam (silent tsunami). ”Tsunami” ini telah menebar bencana kelaparan di mana-mana.
WFP mengajukan beberapa kemungkinan pilihan dalam menyelesaikan krisis pangan. Diharapkan usulan itu dapat mengakhiri krisis yang pertama terjadi sejak Perang Dunia II.
Tawaran solusi itu antara lain penggunaan kupon, modifikasi genetika bibit untuk perbanyakan produksi pangan, mengakhiri penimbunan pangan serta penjualan pangan murah di pasar. Harga pangan melambung dipicu kenaikan harga minyak dan pertambahan permintaan dari India dan China. Krisis pangan telah memicu demonstrasi dan kerusuhan di berbagai negara.
WFP juga juga sudah kekurangan anggaran sekitar 700 juta dollar AS untuk biaya pendistribusian pangan ke negara-negara, yang memiliki warga kelaparan dengan kematian massal sebagai taruhan, terutama di Kamboja, Kenya, dan Tajikistan.
Kesulitan membeli
WFP juga sudah kesulitan mendapatkan pasokan pangan, bukan saja karena harga yang meningkat, tetapi juga karena penghentian ekspor pangan oleh sejumlah negara.
Ketua Komisi Perdagangan Uni Eropa Mandelson mengatakan, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) harus mendorong negara penghasil pangan terus melakukan ekspor karena pembatasan ekspor akan memperburuk keadaan.
”Jika kita membatasi perdagangan, kita akan memperburuk kelangkaan pangan. WTO tetap berpegang pada perdagangan bebas dan menentang pembatasan ekspor, pengenaan pajak ekspor yang menghambat perdagangan pangan,” kata Mandelson. Pernyataan Mandelson muncul setelah Jepang mengusulkan agar WTO mengatur dengan jelas ekspor pangan.
Jacques Diouf, Dirjen Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO), di Paris mengatakan, kebijakan yang salah selama dua dekade terakhir telah menyebabkan krisis pangan. ”Ini bukan tragedi Yunani, di mana nasib ditentukan oleh dewa karena manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak, kita memiliki kemampuan untuk memengaruhi masa depan kita,” ujar Diouf.
Dia melanjutkan, antara tahun 1999 dan 2000 FAO sudah menurunkan bantuan untuk program pertanian karena ketiadaan dana. Lagi, negara maju memberi subsidi pertanian yang makin menghambat perkembangan pertanian di negara berkembang.
Inilah salah satu faktor yang kini telah berakibat pada krisis pangan. (Kompas ; Kamis, 24 April 2008 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: