PEMBANTAIAN AKTIVIS ISLAM DI PENJARA SURIAH


By Farid Wadjdi

Seperti yang dilaporkan BBC ((BBC online; 05 Juli, 2008)), bentrokan antara petugas dan tahanan di penjara Suriah menimbulkan banyak korban yang meninggal, menurut kelompok hak asasi manusia.Kelompok yang berkantor di London, Pengamatan Hak Asasi Suriah mengatakan paling tidak 25 orang tewas setelah polisi militer melepaskan tembakan peluru tajam ke arah tahanan. Pemerintah Suriah sejauh ini belum berkomentar tentang masalah yang masih belum jelas itu. Salah seorang tahanan mengatakan kepada BBC ia menduga lebih dari 25 orang yang tewas.

Para tahanan mengatakan bentrokan itu dipicu oleh serangan petugas dengan pemukulan terhadap tahanan. Mereka mengatakan para petugas juga mengotori al-Quran. Para tahanan mengatakan serangan dini hari itu merupakan aksi balasan atas protes para tahanan beberapa minggu lalu tentang kondisi di penjara Saydnaya di dekat Damaskus, yang menampung tahanan politik dan kelompok Islamis.

Muhammad al-Hassani, juga dari NOHR mengatakan kepada kantor berita Associated Press ia dapat melihat asap mengepul dari gedung penjara dan para tahanan berdiri di atap.

Ia mengatakan ambulans membawa korban luka ke rumah sakit. Sementara itu tentara Suriah menutup jalan di seputar penjara, dan jaringan telpon di kawasan itu terputus.

Aktifis hak asasi yang bermarkas di Beirut yang melakukan kontak dengan para tahanan melalui telpon mengatakan kepada AP, paling tidak sembilan orang tewas.

Beberapa sumber yang bisa dipercaya melaporkan pembantaian secara sistematis terhadap tawanan politik di penjara Saydnaya, dekat kota Damaskus oleh penguasa Syria akhir minggu lalu. Penembakan dan pembunuhan tahanan politik aktivis gerakan Islam, yang dipenjara karena beroposisi terhadap rezim brutal Bashar Al-Asad, terjadi setelah adanya protes terhadap perlakuan yang semena-mena. Sumber lain yang melaporkan adanya tindakan provokatif oleh sipir penjara yang merusak al Quran untuk mengintimidasi para tahanan.

Dalam tanggapannya, Taji Mustafa sebagai wakil media HT Inggris menyatakan,” Seperti ayahnya, kebrutalan Bashar Al Assad tidak mengenal batas. Ia telah berusaha untuk mengenyahkan segala bentuk oposisi terhadap kekuasaan tiraninya, negosiasinya dengan Israel, melalui segala bentuk penangkapan, penyiksaan, dan penahanan ribuan aktifis gerakan Islam termasuk anggota HT, dan yang baru-baru ini dengan membantai mereka di penjara.”

Tindakan keji ini telah dilaporkan di berbagai kantor berita, namun politisi Barat dan corong medianya, begitu gigih menentang diktator seperti Mugabe, namun herannya tetap diam terhadap berita yang sungguh memprihatinkan ini.

Atas Nama Perang Melawan Terorisme

Runtuhnya Rusia membawa banyak implikasi kepada rezim Suriah. Selama ini, rezim Suriah banyak didukung oleh Rusia dalam Perang Dingin. Persamaan ideologi Sosialisme dan Komunisme menjadi salah satu perekat ke dua negara tersebut. Meskipun demikian, pengaruh Inggris yang lama menguasai Suriah tidak bisa dihilangkan sama sekali. Dengan bantuan senjata dan dana, Suriah dijadikan alat bagi negara-negara besar itu untuk menanamkan pengaruhnnya di Timur Tengah; antara lain dengan mendorong Suriah untuk masuk ke Lebanon dan konflik dengan Israel tentang dataran tinggi Golan.

Namun, sejak berakhirnya Perang Dingin, dukungan Rusia tampaknya melemah. Rezim Ba’ath pun mulai goyah. Apalagi setelah teman ideologi sekaligus seterunya, Saddam Hussain, tumbang bersama rezim partai Ba’atnya. Saat ini, Suriah habis-habisan ditekan oleh Amerika Serikat. Hal ini tampak dari pernyataan keras Colin Powel setelah mengunjungi Suriah pasca invasi AS ke Irak. Powel dengan tegas mengatakan bahwa Suriah harus mempersempit ruang gerak kelompok anti Israel dan teroris di Suriah.

Rezim Assad ini, lebih memilih bersikap lunak kepada AS. Tampak jelas, pemimpin seperti ini hanya kuat kalau didukung oleh Tuan Besar mereka, meskipun kekuatan itu digunakan untuk membantai umat Islam. Sebaliknya, mereka bersikap pengecut saat tidak ada lagi negara besar yang mendukungnya.

Pasca invasi AS, rezim Suriah mengikuti penguasa-penguasa Arab lainnya yang tunduk dan menjilat AS; semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Suriah juga akan mengikuti jejak penguasa Arab pengkhianat Islam dan umat, yang memberikan jalan kepada penjajah AS untuk membunuhi kaum Muslim dan memberikan jalan yang lapang bagi AS untuk mengeruk kekayaan alam negeri-negeri Islam.

Tangan Assad telah bergelimang darah para tahanan. Dan dia akan disambut dengan karpet merah sebagai bentuk kehormatan saat mengunjungi Perancis sebagai sekutu dalam ‘Perang Melawan Teror’. Jangan sampai terlupakan bahwa Amerika juga menitipkan tersangka teroris untuk disekap dan disiksa di penjara-penjara Syria sebagai salah satu bentuk program pengiriman yang luarbiasa.

Tentu saja, semua ini akan semakin menunjukkan kepengecutan dan pengkhianatan penguasa-penguasa Arab yang sekular selama ini. Sekaranglah saatnya kaum Muslim berperan untuk mengganti penguasa sekular yang pengecut itu sekaligus mengubah sistem sekular yang selama ini telah menghinadinakan kaum Muslim. Hanya satu yang bisa melawan penjajahan negara-negara Barat di Timur Tengah dan dunia Islam lainnya, yakni super-state Daulah Khilafah Islam.

Kebrutalan rezim Assad, Mubarak, Abdallah, dan semua pemimpin tirani yang didukung oleh Barat hanya akan memperkuat gerakan untuk mengembalikan Khilafah kembali di dunia Islam. Sebab, masyarakat telah melihat bahwa tidak ada solusi di Timur Tengah, kecuali tekanan, siksaan, dan pembantaian. Khilafah akan menghentikan masa kediktatoran dan tirani dan akan menerapkan sistem dimana masyakarat akan hidup dalam kestabilan, keadilan, dan perdamaian yang diatur oleh hukum Islam yang adil.

Sejarah Panjang Pemberangusan Aktivis Islam

Suriah adalah salah satu negeri Islam di Timur Tengah Sejarah Islam di Suriah dimulai dari penaklukan (futûhât) yang dilakukan oleh pasukan Khilafah terhadap wilayah Syam. Wilayah Suriah sendiri, pada masa Kekhilafahan Islam, lebih dikenal dengan Syam yang mencakup selu

ruh daerah Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Penjajahan Barat kemudian membagi-bagi daerah Syam menjadi negara-negara kecil, termasuk Suriah sekarang ini. Dimasa pemerintahan Kholifah Abu Bakar r.a dalam perang Yamamah , tentara Islam membebaskan Suriah selatan (tahun 633). Pembebasan Suriah dilanjutkan oleh Kholifah Umar bin Khottob, mengalahkan kekuatan Byzantine di Ajnadain bulan Juli 634. Tentara Islam berhasil menaklukkan kota Damaskus sehingga hampir seluruh wilayah Syam dikuasai oleh Khilafah (tahun 637).

Pasca runtuhnya Khilafah, Suriah kemudian diberikan kemerdekaan semu oleh penjajah Barat. Penguasa Suriah pun menjadi kaki tangan Barat. Sebagai agen penjajah kolonial Barat, ada tugas penting yang harus dijalankan penguasa boneka: Pertama, menjamin bahwa sistem pemerintahan yang ada adalah sistem sekular, monarki, atau sosialis; yang penting jangan pemerintahan Islam. Kedua, mencegah munculnya kekuatan politik dari kelompok dan umat Islam yang ingin menegakkan pemerintahan Islam. Tidak mengherankan kalau para penguasa sekular, monarki, atau sosialis di negeri-negeri Islam, termasuk Suriah, bertindak represif terhadap kelompok politik Islam yang ingin menegakkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh dalam pemerintahan Islam. Hal inilah yang dialami oleh gerakan Islam di Suriah.

Sikap represif terhadap kelompok Islam ini semakin menonjol saat Suriah dipimpin oleh rezim Partai Ba’ath. Bagi rezim partai Ba’ath, kelompok politik Islam yang ideologis merupakan ancaman utama bagi kekuasaan mereka. Apalagi, secara ideologis, antara Ba’aths dan Islam bertolak belakang. Partai Ba’ath adalah partai nasionalis-sekular Arab yang menyerukan sosialisme Arab. Partai Ba’ath ini berkembang terutama di Suriah dan Irak. Pendirinya adalah Michael Aflaq, seorang Kristen, dan Shalah al-Baithar, yang mengaku Muslim, yang menyelesaikan studinya di Paris tahun 1932. Partai Ba’ath mendominasi pemerintahan Suriah, terutama sejak 8 Maret 1963. Sampai saat ini, rezim Ba’ath masih memegang kekuasaan penuh di Suriah.

Sebagai ancaman utama, gerakan-gerakan Islam pada masa rezim Partai Ba’ath mengalami penindasan yang luar biasa. Banyak aktivis Islam yang ditangkap, disiksa, sampai dibunuh. Dua kelompok Islam yang paling banyak ditekan di Suriah adalah Ikhwanul Muslim dan Hizbut Tahrir. Ikhwanul Muslimin memilih perlawanan bersenjata untuk menumbangkan rezim Ba’ath. Oleh karena itu, Ikhwanul Muslimin mempersiapkan barisan tempurnya untuk melakukan penyerangan terhadap pimpinan Alawite, agen keamanan, dan para politisi pendukung Assad. Pada tahun 1979, terjadi penyerangan terhadap sekolah kader militer di Aleppo dan kantor Partai Ba’ath. Pihak yang dituduh melakukan ini adalah Ikhwanul Muslimin.

Tidak hanya itu, kelompok Islam ini melakukan demontrasi besar-besaran dan aksi boikot di Hama, Homs, dan Aleppo pada maret 1980. Kelompok Islam pun dituduh ingin membunuh Hafedz Assad. Dengan alasan tersebut, rezim Ba’ath ini mengadakan pembantaian besar-besaran terhadap aktivis-aktivis Islam di Suriah. Banyak tahanan yang dibunuh dan aktivis-aktivis Islam, lewat pengadilan yang direkayasa, banyak divonis hukuman mati. Bahkan, para aktivis Islam yang tidak memilih jalan kekerasaan seperti Hizbut Tahrir pun menjadi target pembantaian rezim ini. Penjara-penjara di Suriah penuh dengan pejuang Islam yang ingin menegakkan Daulah Khilafah ini. Banyak di antara mereka yang dihukum mati dan dibunuh. (Farid Wadjdi)


One Response

  1. semoga ummat islam segera bersatu padu melawan kedzaliman dan mengembalikan islam kembali dalam kancah kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: