WAR ON TERRORIST , PERANG MELAWAN ISLAM


By Farid Wadjdi

Tidak lama setelah terpilih menjadi presiden AS, Obama mengikuti pendahulunya Bush menyatakan perang melawan terorisme. Obama mengatakan akan memprioritaskan perburuan Osama. Obama berencana memperbaharui komitmen untuk memburu Osama bin Laden dengan menekankan bahwa penumpasan al-Qaida menjadi prioritas tertinggi AS. (Kompas.Com, 12/11/08)

Kita jadi teringat, kalimat tajam Bush saat melaunching perang melawan teroris. Dengan tegas Bush mengatakan War on Terror adalah perang salib yang membutuhkan waktu yang lama. ” This crusade, this war on terrorism, is going to take a long time”ujar Bush. Artinya, terpilihnya Obama , tidak serta merta membuat AS akan meninggalkan agenda utama politik luar negeri AS , perang melawan teroris.

AS memang sangat membutuhkan perang ini untuk bisa campur tangan dalam urusan dunia. Pasca perang dunia II, negara ini menggunakan semangat kemerdekaan dunia ketiga untuk mengganti peran Inggris sebagai negara Adi Daya dunia. Saat perang dingin, AS menjadikan perang membendung komunisme untuk masuk keberbagai kawasan dunia. Setelah perang dingin berakhir, perang melawan terorisme menjadi alasan utama Negara Paman Sam ini menjajah negara lain.

Bush pun memberikan pilihan kepada dunia, untuk berpihak kepada AS atau dicap teroris atau pendukung teroris. George Bush di depan Kongres pada 20 September 2001, dimana Bush memberi ultimatum kepada dunia:  Every nation in
every region now has a decision to make: Either you are with us, or you are with the terrorist.  Siapapun yang tidak sejalan dengan kepentingan AS atau mengancam kepentingan AS adalah teroris dan musuh AS.

Walhasil, umat Islam dengan Ideologi Islam yang diembannya kemudian berhadapan vis a vis dengan negara Paman Sam ini. .Bagi AS, Islam adalah ancaman bagi eksistensi ideologi Kapitalisme. Tidak heran kalau Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilizations -nya , tidak lama setelah Soviet dan negara komunis lain tumbang, menegaskan Islam sebagai musuh peradaban Barat.

Perang ini pun menjadikan Islam sebagai monster dan iblis. Tampak dari istilah-istilah berkonotasi buruk yang disandingkan dengan Islam oleh Bush untuk menamakan musuhnya seperti istilah ‘Islam fasis’, ‘Islam radikal’, atau ‘Islam militan’.

Bush dan sekutunya pun menjadikan konsepsi Islam seperti syariah, jihad dan Khilafah sebagai musuh dalam perang ini. Jihad yang demikian mulia dalam pandangan Islam pun dikonotasikan jelek dan merusak. Bush dan sekutunya juga menuduh teroris kaum Muslim yang bercita-cita menerapkan syariah Islam dan Khilafah.

Rumsfeld pun mengatakan hal yang sama dengan mengatakan di Irak akan berdiri Khilafah Islam kalau tentara AS ditarik dari sana (Washington Post, 5/12/2005). Blair sekutu dekat Bush juga lebih jelas lagi dengan menyebut empat ciri ideologi setan para teroris: anti Israel; anti nilai-nilai Barat; ingin menerapkan syariah Islam, dan mempersatukan umat Islam dengan Khilafah (BBCNews, 16/7/2005).

Apalagi sebagian besar nama orang dan data organisasi yang dianggap teroris adalah orang Islam dan organisasi dengan nama Islam. Tak pelak, korban yang paling besar justru adalah umat Islam. Perang Irak dan Afganistan telah menelan korban ratusan ribu kaum Muslim. Bandingkan dengan korban Tragedi WTC yang berjumlah 3000 orang. Perang melawan terorisme ini pun semakin tegas sebagai perang terhadap Islam.

Sebagai negara yang menghalalkan berbagai cara dalam meraih tujuannya, AS dan sekutunya merencang berbagai makar dan konspirasi tiada henti. Tuduhan dan opini keji terhadap syariah Islam yang agung pun dirancang. Namun, berbagai makar ini meskipun tentu saja berpengaruh, namun tetap saja gagal.

AS dan negara-negara kapitalis lainnya telah gagal menutup-nutupi fakta bahwa hokum-hukum yang mereka buat justru telah gagal membawa ketenangan bagi manusia dan kestabilan kehidupan masyarakat. Tingginya tingkat pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan terhadap wanita, justru menjadi bukti kegagalan hokum yang dibuat hawa nafsu manusia ini. Termasuk kegagalan system kapitalisme untuk mensejahterakan manusia, krisis ekonomi capitalism yang justru terjadi di jantung negara kapitalis sendiri, semakin menunjukkan kebobrokan dari system kapitalisme ini.

Moris Berman, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New York, yang memperoleh PhD dari Johns Hopkins University, menyoroti krisis ideology kapitalisme ini dengan tajam. Dalam bukunya Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006),  yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh. Ia mendeskripsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan senjata

Ide-ide yang mereka usung penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Mereka mengatakan penegakan HAM berlaku sama bagi setiap umat manusia. Di sisi lain, negara Paman Sam ini adalah pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Lihatlah apa yang dilakukan AS, puluhan ribu orang ditahan tanpa ada dakwaan yang jelas, tanpa bukti dan tidak didampingi pengacara. Mereka dijebloskan dan disiksa dalam Penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara-penjara di negara-negara diktator lainnya yang mendukung AS. Mereka bicara pentingnya hak hidup bagi manusia sebagai bagian dari HAM. Disisi lain ratusan ribu umat Islam di Irak, Afghanistan, Palestina, dan negeri Islam lainnya dibunuh seperti hewan yang tidak bernilai.

Kegagalan agenda barat ini juga tercermin dari keinginan dunia Islam yang semakin kuat untuk bersatu dibawah naungan Khilafah yang akan menerapkan syariah Islam. Laporan yang dikeluarkan oleh Universtas Maryland (April 2007) berjudul ‘Muslim Public Opinion on US Policy, Attacks on Civilians and al-Qaeda’ merupakan salah satu dari jajak pendapat terbaru di negeri-negeri Muslim. Laporan tersebut menemukan adanya dukungan kuat untuk membentuk Negara Islam tunggal Khilafah.

Pusat Kajian Strategis Universitas Yordania melakukan survey komprehensif mengenai negara-negara di Timur Tengah. Dalam laporan tahun 2005 tersebut dikemukakan bahwa dua pertiga dari responden di negara-negara Arab merasa bahwa Syari’at harus menjadi sumber legislasi tunggal (persyaratan utama untuk Negara Islam), dan sepertiga sisanya merasa bahwa Syari’at harus menjadi sumber hukum.Hasil survey yang lebih kurang sama tercermin di Indonesia.

Upaya untuk mengkaitkan berbagai aksi terorisme dengan Islampun mengalami kegagalan. Yang terjadi malah sebaliknyak, banyak pihak yang melihat justru AS-lah yang justru ada dibalik aksi-aksi terorisme ini , baik secara langsung atau pun tidak. Contohnya adalah serangan WTC 911. Sebab, terlampau banyak ‘misteri’ yang belum terungkap secara transparan dan belum terjawab secara memuaskan.

Nasib bom bali juga sama. Banyak pihak yang meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama. Benar, mereka memang mengakui telah menyiapkan bom, tapi benarkah bom sangat besar yang meledak di jalan Legian, yang oleh para ahli bom dinilai masuk dalam kualifikasi micronuke, adalah benar-benar bom yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan?

Dari sinilah, kaum Muslim—yang kini tengah berjuang mengembalikan Khilafah dan menjadi sasaran langsung dari langkah politik yang disebut dengan “melawan terorisme”—berkewajiban untuk membentuk opini umum Dunia Islam dan opini internasional. Caranya adalah dengan membongkar hakikat dari apa yang dinamakan Undang-Undang Terorisme dan hakikat politik Amerika yang digunakan untuk menciptakan hegemoni atas dunia melalui undang-undang itu. Kaum Muslim berkewajiban untuk membeberkan bahwa Amerikalah sebenarnya yang berada di balik aksi-aksi terorisme yang banyak terjadi di dunia, meski pun tuduhannya dilemparkan kepada orang-orang Islam.

Di samping itu, kaum Muslim berkewajiban pula untuk menjadi representasi Islam dalam segala perbuatan dan tindakannya. Sebab, Islam mempunyai metode khusus untuk merealisasikan berbagai target dan tujuan; di antaranya adalah melanjutkan kehidupan Islam dengan cara mendirikan kembali negara Khilafah. Berpegang teguh dengan metode ini—yang bertumpu pada pertarungan pemikiran (ash-shirâ‘ al-fikrî) dan perjuangan politik (al-kifâh as-siyâsî) serta menjauhkan diri dari penggunaan senjata (kekerasan)—hakikatnya adalah berpegang teguh dengan metode syariat yang dituntut oleh Islam; bukan karena takut atau melarikan diri dari cap terorisme.

Cap yang diberikan oleh Amerika dan negara-negara lain bahwa Islam adalah terorisme dan bahwa kaum Muslim adalah para teroris sesungguhnya adalah predikat yang tendensius. Predikat itu tidak sesuai dengan fakta yang ada dan juga bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dari ajaran Islam. Allah Swt. berfirman:

Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 107).Rahmat tersebut sesungguhnya akan terwujud dengan penerapan hukum-hukum Islam yang wajib diterapkan oleh Negara Khilafah. (Tabloid Media Umat; Kalam edisi perdana minggu III November 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: