KOALISI PRAGMATIS DAN BUNUH DIRI POLITIS



By Farid Wadjdi

Pemilu memilih anggota legislatif telah usai. Partai nasionalis-sekuler masih berjaya menjadi masuk dalam tiga besar . Peta koalisi menyambut pemilu presiden pun sudah mulai jelas. Golkar, PKS, PBB, PKB, tampaknya mantap merapat ke kubu SBY (Partai Demokrat) . Gerindra dan Hanura menunjukkan isyarat kuat mendukung Megawati sebagai capres. Sementara PAN dan PPP masih mikir-mikir.

Dasar koalisi jelas bukan ideologi, tapi pragmatisme yang didasarkan kepada kemashlahatan untuk mendapat kekuasaan. Merapat ke kubu yang kira-kira akan menang dan mendapat limpahan balas budi dari sang pemenang. Semangat yang penting bisa meraih kekuasaan pun sangat kental.

Demi kekuasaan, rasa malupun harus ditinggalkan. JK dengan Partai Golkarnya yang tadinya semangat berpisah dengan SBY, kembali merapat. Setelah lama tidak bertemu pasca insiden politik reformasi, dua mantan jenderal kembali berpelukan, Wiranto dan Prabowo. Sebaliknya ada juga yang tadinya mesra sekarang bersebrangan.

Kalau itu dilakukan partai-partai nasional sekuler, kita tentunya bisa memakluminya. Prinsip menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, memang menjadi adigium politik sekulerisme. Politik ya bagi-bagi (distrubsi) kekuasaan. Namun yang kita persoalkan kalau itu dilakukan oleh partai-partai yang secara dejure menyatakan sebagai partai Islam. Koalisi pragmatisme seperti ini menyimpan bahaya.

Pertama adalah bahaya ideologis (khotorul mabda’i) berupa distorsi ideologi yang akan meruntuhkan idealisme dan konsistensi ideologi partai Islam . Ideologi partai sekuler yang tidak berdasarkan Islam seharusnya dikritik dan diluruskan. Yang terjadi malah sebaliknya, berkoalisi tentu saja dengan syarat tanpa mempersoalkan ideologi sekuler.

Dalam Islam sudah sangat jelas bahwa asas partai haruslah Islam bukan yang lain. Misinya juga jelas sebagaimana dalam QS Ali Imron : 3 . Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada firqah (kelompok) dari umat ini (umat Islam) yang siap sedia menjalankan tugas tersebut (dakwah menuju Islam dan amar makruf nahi ‘anil mungkar. Sementara dasar dan misi partai sekuler jelas bertentangan dengan itu semua.Dalam kitab Jaami’ al Bayan fi ta’wil al Qur’an dijelaskan yad’uuna ilal khoir itu adalah mengajak manusia ke jalan Islam dan syariah-Nya yang Allah syari’atkan kepada hamba-Nya. Akankan partai sekuler itu mengajak untuk menegakkan syariah Islam ?

Islam juga dengan sangat tegas mengharamkan segala bentuk kerjasama (ta’awun) dalam hal dosa dan permusuhan (QS Almaidah: 2). Imam Ali as Shobuni menafsirkan ayat ini : Artinya tolong menolonglah kalian dalam perbuatan baik dan meninggalkan kemungkaran serta tolong menolonglah kalian dalam perbuatan yang bsia mendekatkan diri kepada Allah SWT (Shafwat al Tafaasir). Allah SWT juga dengan sangat tegas melarang kita untuk cenderung kepada orang-orang yang dzalim. Firman Allah SWT QS Hud: 113.

Kalau melihat trackrecord dari calon presiden dari partai sekuler jelas dipertanyakan ‘ideologi’ Islamnya. Yang jelas selama ini sang kepala negara tidak menjadikan syariah Islam untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bagaimana mungkin Priseden seperti ini didukung dan berkoalisi dengannya ? Saat menjadi Presiden sikap mereka juga tidak tegas terhadap kekufuran. Sampai sekarang masih belum tegas terhadap Ahmadiyah padahal mayoritas ulama dan umat Islam sudah menuntut pembubarannya.

Mereka para capres juga dikenal memilih kebijakan neo liberal dalam ekonomi selama ini jelas bertentangan dengan Islam dan jelas-jelas mensengsarakan rakyat. Islam jelas menyatakan listrik, air, emas, minyak adalah milik umum (milkiyah ‘amah). Seharusnya dikelola oleh negara untuk rakyat karena memang milik rakyat. Bukan malah diprivatisasi dan dijual ke asing. Belum lagi kebijakan politik luar negeri yang tidak jelas dukungannya terhadap umat Islam. Sang presiden menerima dan merangkul Bush dan Hillary Clinton yang jelas-jelas menjadi pembela Israel.

Distorsi Ideologi ini semakin menguat, ketika partai-partai Islam (sebagai konsekuensi ingin lebih diterima dalam koalisi) membuka diri cendrung ke arah sekuler. Sangat ironis kalau petinggi partai Islam mengatakan persoalan ideologi sudah selesai .Padahal jelas-jelas Indonesia masih dikuasai oleh ideologi kufur. Atau syariah Islam adalah masa lalu. Padahal jelas-jelas Indonesia masih menerapkan hukum kufur, artinya kewajiban penegakan syariah Islam masih berlaku hingga kini.

Muncul pula sikap plin-plan. Sebelumnya dikatakan negara Islam itu wajib, sekarang tidak. Tadinya presiden wanita haram, saat angin perpolitikan berubah, pendapatnya juga berubah. Menjelang pemilu sering dikampanyekan golput haram karena membiarkan orang kafir ,sekuler, musyrik berkuasa. Di sisi lain track record partai-partai Islam selama ini malah berkoalisi dengan partai sekuler atau mencalonkan pemimpin dari partai sekuler, baik dalam pilkada atau pilpres.

Bahaya kedua adalah bahaya politik (khotorulsiyasi) Koalisi pragmatisme ini merupakan bunuh diri politik. Rakyat bisa meragukan kesungguh-sungguhan partai Islam untuk memperjuangkan syariah Islam. Mereka melihat partai Islam tidak konsisten. Belum lagi oknum yang merusak citra partai Islam akibat tidak tahan godaan wanita atau harta. Ini jelas jadi penghambat bagi perjuangan penegakan syariah Islam.Yang lebih berbahaya, keberadaan partai Islam dalam koalisi sekuler itu, adalah mengokohkan eksistensi dan legitimasi sistem kufur yang ada. Padahal sistem kufur tersebut seharusnya ditolak, dibuang jauh-jauh dan diganti dengan sistem Islam.

Seharusnya kita menjadikan Rosulullah saw sebagai pedoman dalam sikap politik kita. Kekuasaan politik memang kita butuhkan, tapi harus dibangun dari asas Islam dan berdasarkan syariah Islam dan dengan cara-cara yang berdasarkan manhaj Rosululullah . Bukan menghalalkan segala cara. Bukan asal kekuasaan, yang mensyarakatkan kita berkompromi atau cendrung terhadap kekufuran. Suatu saat untuk menghentikan dakwahnya yang mengancam sistem jahiliyah, sesembahan, hukum dan tradisi jahiliyah yang ada, penguasa jahiliyah masa itu berusaha melobi Rosulullah saw.

Rosul yang mulia ini ditawarkan harta, kekuasaan, dan wanita. Dan Rosulullah SAW tidak menerima itu. Islam melarang sikap kompromi, mencampurkan yang hak dan yang batil. Padahal kalau sedikit saja Rosulullah mau berkompromi kekuasaan sudah di depan mata. Rosulullah saw menjawab : “Demi Allah, Apabila mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwahku, aku tidak akan menghentikannya, sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: