Amerika Terancam Bangkrut, The New Sick Man ?


By Farid Wadjdi

The Sick Man of Europe istilah yang digunakan menggambarkan situasi Khilafah Ustmaniyah oleh Tsar Nicholas I dari Rusia (1853). Saat itu, Ustmaniyah mulai ketinggalan dibanding dengan kekuatan dua lainnya, secara ekonomi dikontrol Eropa akibat krisis keuangan dan terjerat hutang , sementara wilayah kekuasaannya sedikit demi sedikit mulai dicaplok. “Laki-laki sakit, sangat sakit, laki-laki tua yang semakin lemah karena usia tua dan sakit yang sangat”, ujar Nicholas.

Gambaran yang sama hampir mirip dialami Amerika Serikat saat ini akibat krisis financial yang akut. Negara AS tenggelam dalam lautan hutang akibat krisis kredit. Hutang nasional Negara ini mencapai 10 triliyun US dollar, hutang konsumen akibat nafsu besar import mencapai 11,4 trilyun US dollar , hutang perusahaan Amerika 18,4 trilyun US dollar  hampir 75% dari ekonomi dunia. Paman Sam juga menghadapi defisit perdagangan yang terus membengkak.

Presiden Amerika, Barack Obama membenarkan tentang kondisi perekonomian Amerika pada bulan April yang lalu dalam sebuah pernyataan baru di mana ia berkata: “Pagi ini, kami diberitahu bahwa perekonomian kita telah kehilangan 539 ribu pekerjaan, dan itu terjadi pada bulan April ini saja”. Obama memperhatikan bahwa rata-rata angka pengangguran mencapai tingkat tertinggi sejak 25 tahun. Bahkan dia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terus mengalami deflasi yang besar tahun demi tahun.

Sementara perang Afghanistan dan Irak menyedot dana Negara itu hampir 15 milyar US dollar tiap bulan. Perang yang berkelanjutan dan sulit dimenangkan AS. Sudah tujuh tahun perang berlangsung , namun tidak ada tanda-tanda kemenangan Negara tersebut.

Strategi baru Obama memindahkan perang dari Irak ke Afghanistan secara bertahap membuat Negara itu harus mempersiapkan dana yang besar . Menurut para pejabat pertahanan AS, Obama membutuhkan USD 75,5 miliar pada tahun 2009 untuk biaya pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan dan USD 130 miliar untuk dana fiskal tahun 2009.Dana yang besar bukan hanya dibutuhkan untuk operasi militer, tapi juga operasi intelijen pecah belah memprovokasi perang saudara sesama muslim dikawasan Pakistan dan Afghanistan.

Krisis ekonomi langsung atau tidak berpengaruh terhadap wibawa dan daya tawar politik Negara itu di dunia internasional. AS sepertinya harus menyadari kenyataan dia tidak bisa lagi one man show, seakan-akan menjadi penguasa tunggal dunia dalam system yang unipolar. Di  era Bush , AS seolah tidak membiarkan Negara manapun termasuk Eropa dan Rusia untuk menjadi pesaingnya. Saat ini mau tidak mau , AS harus lebih mentoleransi kekuatan-kekuatan lain. AS secara terbuka meminta Negara-negara lain seperti Rusia ,China, Negara Petrodollar Arab,  lebih banyak menanamkan investasinya di IMF dan Bank Dunia.

AS sekarang tidak lagi begitu ngotot untuk melenyapkan sama sekali pengaruh Rusia di Negara-negara eks Soviet di Asia Tengah. Negara ini juga merelakan berdirinya pangkalan militer yang pertama Perancis di Abu Dhabi Uni Emirat Arab  . Peresmian basis militer yang diber nama “Kamp Perdamaian” dilakukan oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy Sedikitnya 500 pasukan akan ditempatkan di basis militer yang dibangun di tepian Selat Hormuz, yang menjadi jalur lalu lintas 40 persen pengiriman minyak ke seluruh dunia.Padahal sebelumnya, Negara ini ngotot untuk menjadi pemain tunggal di kawasan Timur Tengah dan berusaha memangkas pengaruh Negara-negara besar lainnya.

Kemenangan Partai Kongres di India bagaimana pun mengurangi pengaruhnya di kawasan anak Benua India. Partai Kongres yang dikenal dekat dengan Inggris akan lebih berani menentang keinginan AS di kawasan itu. Minggu lalu, Partai Kongres yang berkuasa di India dengan aliansi sekulernya mengalahkan Partai Hindu nasionalis,  Bharatiya Janata Party dan sekutunya dalam pemilu yang berlangsung selama sebulan.

Hasilnya, Perdana Menteri Manmohan Singh tidak hanya akan kembali ke tampuk kekuasaan, tetapi juga bahwa pemerintah tidak akan tergantung pada dukungan dari Kiri, sebagaimana yang diperkirakan oleh polling. Dengan mandat ini , partai Konggres yang pro Inggris akan mengantarkan suatu reformasi ekonomi dan melanjutkan sikap keras kepalanya di Kashmir. Masalah Kashmir mungkin menempatkan Obama dalam kesulitan, ketika dia berusaha untuk menormalisasikan hubungan antara Pakistan dan India .

Sementara di Sudan, terjadi tarik menarik kepentingan AS dan Eropa. Pengajuan Omar Bashir – Presiden Sudan-  ke Mahkamah Kriminal Internasional yang pro Eropa menjadi tantangan sendiri bagi Negara Adidaya itu . Selama ini Omar Bashir cendrung berpihak kepada AS, sekerang kedudukannya digoncang oleh kekuatan Eropa. AS harus bersikap kompromi untuk berbagai pengaruh dan kepentingan dengan Negara-negara Eropa.

Krisis ekonomi juga semakin memperparah problem sosial di Amerika. Padahal sebelum krisis memuncak Negara itu juga sudah menghadapi persoalan sosial akut. FBI pada tahun 2005 menggarisbawahi telah terjadi tindakan kriminal di Negara itu setiap 22 detik, pembunuhan setiap 31 menit, perkosaan setiap 5 menit, dan perampokan setiap menit. Tingkat stress dan bunuh diri juga meningkat.

Krisis ekonomi tak pelak menambah orang miskin di Negara super power itu. Saat ini 28 persen penduduknya  (dari 300 juta) masuk dalam katagori miskin. 37 juta orang telah berada dibawah garis kemiskinan. Setiap orang saat ini mendapat bantuan sebesar 5,6 dolar AS (sekitar 60 ribu rupiah) per hari untuk makan.

Akankah Negara Paman Sam ini mengalami nasib yang sama seperti Khilafah Ustamani pada akhir-akhir kejayaannya ? Tentu tidak mudah menjawabnya. Keruntuhan AS sangat tergantung apakah system kapitalisme yang dipromosikan Negara itu masih diadopsi oleh Negara lain. Yang jelas , dunia sekarang butuh kekuatan baru untuk menggantikan Paman Sam yang sudah renta ini. Kekuatan baru dengan ideoligi global yang berbeda sama sekali dengan AS. Pilihannya tinggal satu, Khilafah Islam. (Farid Wadjdi)

BOX :

Negara Bagian AS Bangkrut

Tercatat 19 negara bagian Amerika Serikat menghadapi defisit bujet dahsyat. Televisi Foxnews mengutip dari konferensi nasional dewan negara bagian AS melaporkan, negara bagian California menghadapi defisit bujet terbesar dan sangat membutuhkan kucuran dana dari pemerintah federal AS.

Tidak hanya itu, saat ini sejumlah negara bagian di AS juga menghadapi krisis bujet yang hampir setingkat dengan California. Alaska, Oregon, Idaho, Nevada, Utah, Colorado, Arizona, Illinois, Tennessee, Alabama, Georgia, Florida, New Hampshire, New Jersey, Massachusetts, North Carolina, South Carolina, dan Road Island, merupakan di antara negara bagian AS yang menghadapi krisis bujet.

Televisi Foxnews mengusulkan bahwa solusi terbaik untuk menyelesaikan krisis bujet di negara bagian tersebut adalah tidak membantu dan membiarkan negara bagian itu runtuh, karena dengan membantu, maka masyarakat akan dibebani kenaikan pajak. (Indonesian Radio, 24/05/2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: