Sekulerisme Mematikan Agama


By Farid Wadjdi

Melihat pandangan para cawapres dalam hubungan antara agama dan politik, tampak jelas pandangan sekulerisme masih dominan. Semuanya sepakat agama tidak boleh masuk dalam ruang politik praktis. Yang berbeda adalah cara penyajiannya. Boediono berpendapat agama tidak boleh menjadi unsur dalam politik praktis.”Agama itu mulia dan tidak boleh dijadikan elemen praktis, harus di atas politik praktis. Negara dalam hal ini bertanggungjawab untuk memberikan peluang untuk melindungi warga negaranya. Negara harus mengambil posisi menjaga keharmonisan,” kata Boediono.

Sementara Wiranto menilai, substansi agama malah harus dijadikan spirit untuk membangun kehidupan politik.”Nilai substantif agama, menurut saya bisa diambil untuk membangun etika politik. Jangan sampai di politik hanya BTN, bohong tega dan nipu. Nilai-nilai agama harus ada di dalamnya,” jelas Wiranto.Pernyataan diatas sepertinya memuliakan agama, tapi kalau kita telaah lebih mendalam pernyataan itu justru memperlemah peran agama bahkan mematikannya.

Sekulerisme sindiri bukan berarti tidak mengakui agama. Namun agama hanya ditempatkan sebagai moralitas, hal-hal individual, atau ibadah ritual. Kalaupun agama masuk dalam aspek ekonomi dan politik, agama hanya sekedar substansi seperti jujur, santun , adil. Dalam pandangan sekuler agama tidak boleh dijadikan dasar negara apalagi menjadi sumber hukum dalam masalah kebijakan atau pengaturan urusan masyarakat secara praktis.

Pandangan seperti ini jelas bertentangan dengan Islam. Syariat Islam bukanlah sekedar moralitas tapi juga mengatur manusia dalam bentuk hukum dan kebijakan yang sifatnya praktis. Dalam hukum waris misalnya, syariat Islam tidak hanya bicara substansi atau filosofi pembagian yang harus adil. Tapi memberikan tuntutan praktis bagaimana keadilan itu bisa terwujud. Bahkan sampai dalam hitungan matematis seperti 2 : 1 .

Syariat Islam bukan sekedar menyatakan keadilan penting dalam ekonomi , tapi secara praktis menjelaskan bentuk-bentuk praktis keadilan. Islam mengharamkan penimbunan barang atau emas dan perak yang berakibat terganggunya stabilitas harga dan pasar. Mengharamkan riba yang menjadi faktor instabilitas ekonomi. Tidak hanya itu , syariat Islam memberikan sanksi yang tegas bagi yang mempraktikkan hal-hal curang seperti itu.

Berdasarkan syariat Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat , pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Syariat Islam juga mengharamkan pemilikan umum (al milkiyah ‘amah) seperti barang tambang yang jumlahnya melimpah (emas, perak, batu bara, minyak) diserahkan pemilikannya kepada individu/swasta apalagi pihak asing. Pemilikan umum adalah milik rakyat yang harus dikelola dengan baik oleh negara untuk kemashlahatan rakyat.

Islam bukan hanya bicara nilai-nilai substansial seperti politik harus adil dan para pemimpin harus amanah. Tapi juga secara praktis mewajibkan bentuk negara yang harus diterapkan yakni Khilafah, syarat-syarat Kholifah, metode pengangkatannya, metode kontrol terhadap Kholifah , sampai bagaimana Kholifah bisa diturunkan kalau menyimpang.

Pandangan sekuler seperti ketiga cawapres diataslah yang menyebabkan syariat Islam tidak bisa diterapkan. Peran agama yang seharusnya bisa menyelesaikan persoalan masyarakat secara praktis menjadi mandul. Agama kemudian menjadi sekedar penonton atau penghibur penderitaan rakyat. Agama gagal menjadi kekuatan yang menyelesaikan persoalan manusia.

Yang ironis, lewat pradigma sekuler tersebut agama kemudian dipolitisasi untuk memperkokoh sistem yang sekuler.  Ketika muncul semangat perlawanan dari rakyat untuk mengkoreksi penguasa yang menyimpang  misalnya, muncul orang-orang yang bertopeng agama yang menyatakan  kita harus taat kepada pemimpin dan tidak boleh ghibah (menjelek-jelekkan ) pemimpin.

Padahal ajaran Islam sangat tegas mewajibkan mengkoreksi penguasa yang dzolim, sampai-sampai Rosulullah saw menyatakan sebagai jihad yang paling utama : Rosulullah saw bersabda afdholul jihad kalimatu haqqin ‘inda sulthonin jairin (Sebaik-baik jihad adalah melontarkan kata yang hak di depan pemimpin yang jahat/zolim). Ketaatan kepada pemimpin dituntut kalau pemimpinnya muslim yang menjalankan syariah Islam. La tho’ata li makhlukin fi ma’siatil kholiqi (Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah SWT), demikian tegas Rosulullah SAW.

Adapun kritik bukanlah menjelek-jelekkan penguasa tanpa bukti, tapi menyampaikan perkara jelek yang memang dijalankan oleh penguasa yang membahayakan masyarakat. Imam an Nawawi dalam kitab Riyadhussholihin menjelaskan hal seperti itu dibolehkan. Mengkoreksi penguasa didepan umum juga dipraktikkan oleh dimasa sahabat. Umar ra saat menjadi Kholifah pernah dikoreksi secara langsung oleh seorang wanita dalam perkara membatasi jumlah mahar.

Orang-orang yang bertopeng agama ini menyerukan sabar dan sabar ketika  ada penguasa yang kebijakannya mensengsarakan masyarakat. Seperti saat BBM dinaikkan, untuk meredam kemarahan masyarakat digunakan ajaran agama yakni sabar secara menyimpang. Memang kita diperintahkan bersabar kalau kita menghadapi cobaan atau penderitaan. Namun bukan berarti kita berdiam diri.

Sebab ada perintah lain yang kewajiban muhasabatul hukkam (mengkoreksi penguasa). Dan saat mengkoreksi penguasa juga kita harus sabar dari tekanan dan penindasannya. Sabar yang benar menurut para ulama adalah sabar saat menjalankan perintah Allah SWT dan saat menjauhi larangannya. Walhasil, ketika  agama dimandulkan  dan syariat Islam tidak dilaksanakan yang mengatur masyarakat  adalah sistem kapitalisme sekuler yang justru terbukti membawa penderitaan rakyat.

One Response

  1. Informasi yang sangat menarik, trim’s
    Perlu pembelajaran lebih jauh agar kita bisa faham benar sekulerisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: