Muslim Amerika Berjuang Melawan Diskriminasi


Komunitas Muslim AS merayakan 15 tahun perjuangan Dewan Hubungan Islam AS (CAIR) .”Organisasi dan komunitas ini telah berkembang dengan pesat, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas pengaruh, dibandingkan dengan kondisi pada waktu kami awal mendirikan CAIR,” Nihad Awad, pendiri dan direktur eksekutif CAIR, kepada IslamOnline.net.

Didirikan pada tahun 1994, CAIR meruapakan organisasi nirlaba yang berkantor pusat di Washington DC dan telah mepunyai 35 kantor cabang di seluruh AS dan Kanada. CAIR berupaya untuk meningkatkan pemahaman Islam, mendorong dialog, melindungi kebebasan sipil, memberdayakan Muslim AS, dan membangun koalisi yang mempromosikan keadilan dan saling pengertian. CAIR memproses hampir 2.500 kasus diskriminasi hak-hak sipil atas nama umat Islam pada tahun 2006, dan lebih dari 9.500 dalam sepuluh tahun terakhir.

CAIR juga sering menjadi sasaran serangan sengit media sayap kanan atas pendanaan dan dugaan hubungan dengan organisasi teroris. Hanya beberapa hari sebelum ulang tahun ke-15, buku baru, “Mafia Muslim”, menuduh CAIR mencoba menyusup Kongres melalui pekerjaan pada Komite Pengadilan, Intelijen, dan Keamanan Dalam Negeri.Empat angggota parlemen dari partai Republik secara resmi meminta penyelidikan untuk menentukan apakah CAIR adalah sebuah ancaman keamanan. Bahkan FBI memutuskan awal tahun ini untuk bekerjasama dengan CAIR dengan dalih keterkaitannya ke beberapa kegiatan radikal.

Awad mengeluh bahwa serangan telah ditingkatkan dalam pasca tragedi 9/11, sementara media bergabung dengan kelompok-kelompok sayap kanan yang keras. Menteri Kehakiman AS, Eric Holder mengakui terjadinya peningkatan diskriminasi terhadap warga muslim di negaranya. Ia mengatakan, tragedi 11 September 2001 memunculkan tamparan keras bagi warga AS dan minoritas muslim di negara ini.

Menyinggung hasil studi Pew Research Center di AS, Eric Holder mengungkapkan, hasil telaah lembaga penelitian itu menunjukkan, dibanding kelompok warga lain, masyarakat muslim AS lebih rawan menjadi sasaran diskriminasi rasial. Berdasarkan hasil penelitian dan jajak pendapat Pusat Riset Pew, enam dari 10 warga AS menilai warga muslim mengalami perlakuan diskriminatif yang lebih besar ketimbang komunitas yahudi, protestan, dan ateis. Adanya beragam laporan mengenai kasus diskriminasi terhadap warga muslim AS belakangan ini turut memperkuat hasil penelitian tersebut. Hingga kini belum ada data resmi mengenai jumlah warga muslim di AS. namun berdasarkan data tidak resmi, warga muslim AS diperkirakan berjumlah antara enam hingga delapan juta jiwa.

Berbeda dengan wajah indah Negeri Paman Sam sebagaimana yang sering ditampilkan dalam film-film Hollywood, kenyataan yang ada justru berbeda jauh. Hingga saat ini praktik  diskriminasi di AS belum terhapus secara total. Bahkan sampai kini pun, sejumlah lawan politik Presiden Barack Obama terkadang masih saja menyelipkan pernyataan bernada rasis dalam kritikan politiknya.

Tragedi 11 September 2001 menjadi dalih bagi penguasa AS untuk menyulut gelombang anti-Islam dan islamfobia dengan kedok perang anti-terorisme. Tak mau ketinggalan, Hollywood dan media-media AS turut membantu Washington melancarkan propaganda menyudutkan Islam. Mereka berupaya mengesankan bahwa Islam identik dengan agama kekerasan dan terorisme. Berbicara bahasa Arab, memiliki nama berbau Islam, dan jilbab menjadi dosa potensial bagi warga muslim di Barat. Terciptanya iklim anti-Islam yang dilancarkan pemerintah dan media Barat itu memantik munculnya gelombang diskriminasi anti-Islam. (FW dari berbagai sumber; mancanegara TMU 23)

Box : Berawal dari Perbudakan

Kelompok-kelompok Muslim pertama di Amerika yang datang dalam jumlah besar berasal dari Afrika Barat antara tahun 1530 sampai 1851 karena adanya perdagangan budak. Sebagian budak Muslim berasal dari negeri-negeri Afrika yang berada di bawah Kekhilafahan Islam yang oleh banyak penulis sejarah Barat disebut Kerajaan Moor.  Mereka terdiri dari sekitar 14-20 persen dari ratusan ribu orang Afrika Barat yang dipaksa pindah dari tanah leluhur mereka.

Menurut Dr. Ivan Van Sertima, Dr. T.B. Irving, dan Adib Rashad, kaum Muslim berkulit hitam datang ke Amerika 180 tahun sebelum Colombus. Dalam buku klasiknya, Islam, Nationalism, and Slavery, Rashad mencatat,  “Penjelajah dan saudagar Muslim Afrika  di bawah arahan Khalifah Mansa Abubakari Muhammad menjelajahi banyak bagian Amerika, termasuk apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat.”

Rashad menyatakan bahwa kaum Muslim Afrika, “berdagang, menyebar, sekaligus menikahi dan mengislamkan pribumi Amerika.” Yusuf Salam, dalam artikelnya, menulis kehidupan sulit yang dialami para budak Muslim ini. Banyak di antara mereka yang dihukum oleh tuannya karena menjalankan ibadah agamanya. (Yusuf Salam, Menelusuri Sejarah Islam di Amerika Serikat, Publikasi Departemen Luar Negeri AS).

2 Responses

  1. UStadz saya copas ya ke syiar-islam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: