Neo Liberal Menguat, Sikap Kritis Terkikis


Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sudah terbentuk. Ada dua catatan penting untuk kebinet baru ini pertama kebijakan neo liberal tampaknya akan dilanjutkan bahwa bisa menguat. Yang kedua, politik balas budi yang mengancam sikap kritis partai.  Untuk catatan yang pertama tampak dalam format kementerian ekonomi  yang didominasi menteri-menteri yang pro liberal dan orang-orang yang merupakan kepercayaan SBY. Seperti Hatta Rajasa (menko ekonomi), Srimulyani ( menteri keuangan),Darwin Zahedy dari Partai Demokrat  (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral), MS Hidayat  ketua Kadin (Menteri Perindustrian), Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan).  Penting juga diamati   upaya mempertahankan keberadaan Purnomo Yusgiontoro (menteri pertahanan) yang dikenal memiliki koneksi luas dengan jaringan bisnis kapitalis global terutama sektor pertambangan seperti minyak, gas, emas  dan lainnya.

Tentu bukan tanpa alasan kenapa mereka dipilih. Bidang ekonomi  sangatlah  strategis untuk mengamankan kepentingan kelompok bisnis  kapitalis baik dalam maupun luar negeri. Takdir demokrasi melahirkan negara korporasi  yang lebih berpihak kepada pemilik modal. Partai tentu perlu dana segar untuk pundi-pundi partai dalam mempertahankan kekuasaan. Karena itu kelompok bisnis pendukung partai harus dilindungi dengan memberikan berbagai konsesi.

Sementara bagi negara imperialis jaminan kebijakan ekonomi yang pro liberal penting untuk mempertahankan kepentingan bisnis mereka dalam mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Mantan menteri ekonomi di era Gusdur yang dikenal kritis Dur pernah mengatakan bagi Amerika yang terpenting adalah  kementerian ekonomi , mereka tidak begitu peduli  kementerian lain bahkan siapapun presiden yang memimpin. Yang terpenting kementerian ekonomi harus tetap pro kapitalis.

Sementara catatan kedua, tampak dari  dominannya kecendrungan politik balas budi KIB jilid II.  Mayoritas menteri berasal dari kalangan partai koalisi gemuk yang selama ini mendukung SBY-Boediono. Politik balas budi disamping bisa  mengabaikan profesionalitas, dikhawatirkan akan mematikan sikap kritis partai. Padahal fungsi utama parpol yang sangat diharapkan rakyat adalah berani  dan siap menghentikan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Dalam Islam sendiri kewajiban mengkoreksi penguasa (muhasabatul hukkam)  ini sangatlah penting. Rosulullah saw menyatakannya sebagai afdholul jihad (sebaik-baik jihad) bagi siapapun yang melontarkan kata-kata hak (kebenaran)  di depan pemimpin yang dzolim. Gelar pemimpin para syuhadapun diberikan kepada mereka yang terbunuh ketika mengkoreksi penguasa yang menyimpang. Namun kewajiban  ini bukanlah di dorong sikap oposisi yang asal anti pemerintah yang berkuasa . Bukan pula oleh nafsu keinginan menjatuhkan partai berkuasa. Tapi didorong oleh kewajiban mulia amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa.

Penguasa dzolim yang dibiarkan jelas akan sangat berbahaya. Kebijakan penguasa akan mempengaruhi  kondisi rakyat dan negara secara keseluruhan bukan hanya individu. Kebijakan kenaikan BBM misalnya terbukti telah menambah beban masyarakat. Dibiarkannya perusahaan asing untuk mengeksploitasi tambang Indonesia yang kaya menyebabkan perampokan terhadap  kekayaan alam kita atas nama investasi asing dan pasar bebas. Padahal itu adalah milik rakyat, yang harus dikelola dengan baik oleh negara dan hasilnya digunakan untuk kepentingan  rakyat. Seperti menjamin terpenuhinya kebutuhan  pokok  (sandang , pangan , dan papan ) tiap individu rakyat dan kebutuhan strategis lainya secara murah (pendidikan dan kesehatan ).

Kalau banyak pihak berharap pemerintah yang baru akan pro rakyat, kita berani dan tegas mengatakan hal itu adalah mimpi dan ilusi. Sistem kapitalis yang diadopsi oleh negara kita akan tidak akan pernah mensejahterakan rakyat.  Kita hanya akan menjadi sekedar objek dari kekuatan kapitalisme internasional yang merampok kekayaan alam kita.  Kebijakan Kapitalis akan lebih berpihak pada kelompok kapital dibanding  untuk kepentingan rakyat.

Disamping itu, persoalan bangsa dan negara kita bukanlah sekedar  siapa yang berkuasa. Namun yang terpenting adalah sistem apa yang dipakai. Siapapun yang berkuasa namun sistemnya tetap kapitalis tidak akan membawa perubahan berarti. Sebab, sistem kapitalis inilah  yang menjadi pangkal berbagai penderitaan rakyat. Karena itu perjuangan yang harus dilakukan adalah harus fokus untuk mengganti sistem yang keliru ini. Tentu saja menggantinya dengan sistem yang benar karena bersumber dari Allah yang Maha Sempurna . Menggantinya dengan syariah Islam yang mensejahterakan dan memberikan keadilan kepada siapapun. (Farid Wadjdi; TMU 22)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: