Mencari Negarawan Sejati


Pertarungan Ical-Srimulyani menambah bukti bobroknya sistem kapitalisme. Srimulyani secara terbuka di koran Asian Wall Street Journal ,  menyatakan  pansus Angket Century dilatarbelakangi dendam pribadi Ical kepadanya. Beberapa kebijakan Srimulyani memang gerah Ical. Srimulyani  meminta pencabutan penghentian sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008, yang sahamnya sedang merosot  tajam.

Srimulyani  kemudian mencekal sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie karena menunggak royalty batu bara trilyunan rupiah. Srimulyani juga pernah menolak keinginan Bakrie membeli 14 persen saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. Sri Mulyani meminta agar seluruh saham divestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara.

Dendam pribadi dibalas dendam, itulah aroma yang tercium. Tentu bukan sekedar kebetulan kalau saat ini Direktorat Jenderal Pajak   sedang mengusut dugaan pidana pajak tiga perusahaan tambang batubara di bawah payung bisnis Grup Bakrie senilai kurang lebih Rp 2 triliun. Kasus pajak ini terkait dengan kewajiban pajak ketiga perusahaan tersebut pada tahun pajak 2007.  Meskipun Dirjen Pajak menolak hal ini diperintah oleh Srimulyani , tentu patut dipertanyakan kenapa baru sekarang kasus yang terjadi pada tahun 2007 ini diangkat kembali ?

Kita tentu saja bukan pada posisi membela salah satu pihak. Bagi kita semuanya sama buruknya, sama jahatnya. Pertarungan dua raksasa ini semakin memperjelas borok-borok sistem kapitalisme. Terbukti, kebijakan publik yang mereka buat sesungguhnya untuk kepentingan pribadi atau kroni politik dan ekonomi mereka. Maka kita bisa mengerti kalau berbagai cara dihalalkan, termasuk tipu sana tipu sini. Yang penting kepentingannya terpenuhi.  Omong kosong kalau dikatakan untuk kepentingan rakyat.

Ideologi kapitalisme yang menjadi acuan para pengambil kebijakan negara kita tidak akan pernah berpihak kepada rakyat. Secara sistemik, kapitalisme memang dibuat untuk kepentingan pemilik modal. Dalam sistem ini, kekuatan modal menjadi penentu utama. Berkerjasama dengan elit politik yang mereka dukung dengan dana yang besar, dibuatlah berbagai kebijakan yang lebih berpihak pada pemilik modal.

Maka tidak heran kalau yang paling menonjol dari sistem kapitalisme ini adalah ketidakadilan, perampokan , dan kebohongan.  Bank Century yang memang sejak lama sudah diketahui bermasalah digelontorkan dana yang besar 6,7 trilyun. Sementara dana untuk tanggap darurat korban gempa di Sumbar hanya 100 milyar. Memang akan ada dana tambahan, namun harus menunggu prosuder birokrasi yang biasanya berbelit-belit.

Sementara itu, untuk membantu bank Century ini  pemerintah dengan sangat cepat mengeluarkan dana termasuk mengutak-ngatik aturan yang ada. Pada November 2008, Bank Indonesia merubaha syarakat CAR 8% hanya dengan CAR positif. Hari itu juga permohonan Bank Century untuk mendapat bantuan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) disetujui. Sebesar Rp 502,07 milyar .

Luarbiasanya, pada malam itu juga pukul 20.43 sebagian dana dicairkan sebesar 356, 81 milyar, sisanya dicairkan 3 hari kemudian. Bandingkan dengan rakyat miskin yang harus berbelit-belit menerima bantuan kesehatan dan pendidikan gratis. Belum lagi , antri yang panjang menunggu BLT (Bantuan Tunai Langsung).

Untuk memberikan bailout pemerintah selalu berargumen, kalau Bank Century ditutup akan berdampak sistemik, khawatir terjadi rush besar-besar. Perdebatan tentang ini sungguh sangat panjang. Yang kita pertanyakan , kenapa pemerintah tidak berargumen dengan alasan yang sama saat menaikkan BBM yang jelas-jelas berdampak  pada penderitaan rakyat secara sistemik ? Atau saat melakukan privatisasi pendidikan, kesehatan, dan kelistrikan, yang semua itu jelas-jelas menyulitkan masyarakat ?

Pemerintah juga pernah mengeluarkan dana bailout sebesar 700 trilyun untuk membantu bank yang sedang krisis. Hasilnya apa ? Sebagian besar dana tidak kembali. Yang terjadi setiap tahun menurut pengamat ekonomi Drajad H Wibowo, negara harus menanggung bunganya sebesar 40 trilyun lewat APBN sampai tahun 2033. Benar-benar sebuah perampokan. Untuk menutup kejahatan itu semua, dibuatlah kebohongan demi kebohongan, yang insya Allah akan terbongkar sedikit demi sedikit, justru dilakukan oleh mereka sendiri.

Pertarungan Ical-Srimulyani menjadi potret buruk politisi dan pejabat kita. Bertikai dengan alasan dendam pribadi. Yang kita butuhkan sekara adalah negarawan sejati. Sementara yang ada sekarang adalah politikus-politikus yang menjadi antek-antek para pemilik modal. Kepala negara dan pejabat negara  yang menjadi kaki tangan kepentingan negara-negara imperialis. Semua itu terjadi karena negara kita mengadopsi kapitalisme dalam pengelolaan negara.

Negarawan sejati akan hanya muncul dari sistem yang berdasarkan syariah Islam. Dimana kepala negara adalah pelayan ,pengurus rakyat, sekaligus pelindung rakyat. Rosulullah saw bersabda :  Setiap imam adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya”

Sistem yang berdasarkan syariah juga akan memunculkan pejabat-pejabat amanah yang mereka sangat khawatir jabatan mereka akan menyeret mereka kepada azab Allah SWT.  Khawatir terhadap hadist Rosulullah yang ditujukan bagi mereka yang berkhianat kepada rakyat. Sabda Rosulullah saw :  “Tidaklah  bagi siapa saja yang diangkat untuk mengurusi urusan kaum muslimin lalu dia mati sedang dia berkhianat (menipu) pada mereka (kaum muslimin)  kecuali Allah mengharamkan baginya surga” (Farid Wadjdi; TMU 26)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: