Penguasa Tanpa Nurani


Usulan menaikkan gaji pejabat tinggi dan anggota DPR  hingga 20 %  kembali menuai kecaman. Penguasapun  dianggap tidak peka dan tidak memiliki hati nurani. Apalagi sebelumnya para menteri dan pejabat tinggi negara sudah mendapat jatah mobil mewah seharga 1,3 milyar (versi pemerintah 800 Juta) . Belum lagi rencana pemugaran pagar istana seharga 22,5 milyar. Ditambah rencana pembelian pesawat pribadi presiden dengan uang muka sedikitnya 200 milyar. Perkiraan harga pesawat VVIP Boeing 737-800 sekitar Rp. 400 Miliar – Rp. 700 Miliar.

Tentu tidak ada yang salah ketika seseorang memiliki rumah mewah berikut pagarnya yang indah , mobil super mahal, bahkan pesawat pribadi yang tercanggih  sekalipun.  Islam sendiri membolehkan seseorang memiliki barang-barang mewah seperti itu . Dengan syarat, semua itu  diperoleh dengan cara yang halal. Disamping sang hartawan memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan hartanya seperti membayar zakat.

Namun, paket kemewahan ini menjadi lain, ketika  diperuntukkan bagi pejabat negara dengan menggunakan anggaran negara. Sementara rakyatnya sendiri hidup dalam kemiskinan.  Terang saja hal ini memperdalam kesenjangan antara rakyat dan penguasa  dan memunculkan  rasa ketidakadilan di tengah masyarakat.  Kalaulah  rakyatnya sejahtera,  kondisi ini tentulah  bisa dimaklumi.

Seharusnya anggaran untuk hajat hidup pokok rakyat seperti makanan yang cukup dan bergizi , perumahan yang layak, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tranportasi  yang murah dan berkualitas seharusnya menjadi prioritas utama. Seandainya, anggaran untuk ‘paket kemewahan’ itu dikurangi  dan dialihkan untuk kepentingan rakyat umum tentu akan lebih bermanfaat.

Ironisnya, yang terjadi malah sebaliknya. Anggaran untuk kepentingan  rakyat miskin cenderung  berkurang . Menurut Sekretaris Jenderal Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Yuna Farhan ,kenaikan gaji dan fasilitas yang diberikan kepada pejabat negara itu berimplikasi pada sub­sidi masyarakat miskin. Misal­nya,  belanja subsidi non energi ber­kurang Rp 6,8 triliun, pangan Rp 1,5 triliun, pupuk Rp 3,7 tri­liun, benih Rp 56 miliar, obat ge­nerik dihapuskan Rp 350 miliar. Ke­mudian, Belanja bantuan sosial yang di dalamnya terdapat Bos dan Jamkesmas di tahun 2010 dikurangi Rp 8,3 triliun.

Kurangnya empati  penguasa terhadap penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi, bukan hanya dalam persoalan pengaturan anggaran . Saat kita disibukkan dengan urusan Century, harga-harga kebutuhan pokok terutama beras yang terus naik, sang pemimpin malah sempat-sempatnya  mengeluarkan album lagu terbaru. Semakin tampaklah bahwa pemimpin-pemimpin kita sudah kehilangan nurani.

Kitapun  menjadi teringat akan kepemimpinan Rosulullah saw. Sebagai kepala negara , Rosulullah saw sangat memperhatikan rakyatnya. Rosulullah saw pernah memberikan dua dirham kepada seorang peminta-minta. Rosulullah saw memerintahkan dia untuk menggunakan 1 dirham untuk makan dan 1 dirham sisanya untuk membeli kapak. Rosulullah SAW menunjukkan kepada kita tentang dua hal penting dari tugas kepala negara , menjamin rakyatnya bisa makan dan bisa bekerja.

Rosulullah SAW mengingatkan kepada kaum muslim  dan aparat negara, bahwa mereka adalah pelayan rakyat, kepemimpinan adalah amanah, tanggung jawab, dan akan dipertanggungjawakan dihadapan Allah SWT. Sabda Rosulullah SAW : “Setiap Imam adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya “ (HR Bukhori dan Muslim).

Tanggungjawab itu bukan hanya dihadapan rakyat tapi juga dihadapan Allah SWT. Rosulullah SAW pun mengingatkan kepada para pemimpin untuk tidak mengkhianati amanah untuk mengurus rakyat dangan ancaman yang sangat tegas. ” Tidaklah, siapa saja yang diangkat untuk mengurusi urusan kaum muslimin lalu dia mati , sedang dia berkhianat (menipu) pada mereka (kaum muslimin)  kecuali Allah mengharamkan baginya surga,”sabda Rosulullah SAW.

Sebagai kepala negara Rosulullah saw juga menunjukkan kesederhanaannya. Umar bin Khaththab ra suatu saat tak kuasa menahan air matanya . Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis? Umar bin Khoththob ra. pun menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khaththob, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? [HR Muslim]. Subhanallah !

Dan penting kita catat, semua ini bukanlah sekedar kisah tanpa arti. Atau sekedar kesholehan individual. Namun ini semua adalah representasi dari kesholehan (kebaikan)  sistem Islam yang didasarkan kepada Syariah Islam. Karenanya, untuk mendapat sistem yang baik dengan pemimpin yang amanah menjadikan ketaqwaan sebagai pilar, berupa ketertundukan kepada syariah Islam dalam segala aspek kehidupan adalah hal yang mutlak ! (Farid Wadjdi/TMU29)

One Response

  1. subhanallah, kita memang harus semakin melek atas kondisi pemimpin-pemimpin kita sekarang… dan ke depannya
    pendidikan politik bagi masyarakat harus kita usahakan…. jangan lagi memilih calon anggota DPR yang gila harta dan Presiden yang ternyata boneka konglomerat saja

    mulai saat ini…

    ada ide dari kita utk tidak hanya berpendapat dan mengkritisi , tapi juga bertindak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: