Bayangan Kegagalan Pasukan Penjajah di Afghanistan


 

Situs web WikiLeaks telah merilis lebih dari 400.000 dokumen-dokumen rahasia AS tentang perang Irak untuk jangka waktu sampai dengan tahun 2009. Bocoran dokumen itu mengungkapkan rincian terjadinya perkosaan, penyiksaan, , pembunuhan warga sipil yang dilakukan dari helikopter tempur dan insiden lainnya oleh pasukan koalisi dan pasukan Irak, yang bahkan dilakukan di bawah kontrol Obama pada tahun 2009. Dokumen itu juga mengungkapkan bagaimana tentara koalisi menutup mata atas laporan tentang penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan secara ekstrajudisial oleh pemerintah boneka Irak.

Ini adalah gambaran menyeramkan yang menunjukkan bagaimana pendudukan sebenarnya dilaksanakan di lapangan. Jumlah korban yang mencapai puluhan ribu  ini jelas bukanlah merupakan kesalahan individual atau oknum, tapi kejahatan terorganisir negara kapitalis. Penjajahan dengan menghalalkan segala cara merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan politik luar negeri negara-negera Kapitalisme.

AS sebagai negara Kapitalis utama saat ini dengan kemampuan militer, politik, dan ekonomi yang besar mengintervensi seluruh negara di dunia. Negara inilah yang menyulut berbagai krisis di berbagai kawasan dunia. Negara ini dengan arogan hanya memberikan dua pilihan bagi dunia : either you’re with us or with terorist (anda ikut kami atau ikut teroris). AS kemudian menuduh negara lain yang tidak tunduk kepada dia dengan tuduhan teroris padahal Amerikalah yang teroris sebenarnya.

Bayangan Kegagalan

Namun, hegemoni AS tidak akan lama, AS menuju jurang kehancuran. Di samping sedang mengalami krisis ekonomi yang  akut yang belum selesai hingga saat ini, arogansi AS diberbagai belahan dunia menimbulkan kebencian dan perlawanan terutama di negeri-negeri Islam. Sikap brutal AS dengan melakukan pembunuhan umat Islam di berbagai kawasan dunia telah mengobarkan kebencian umat Islam terhadap  Amerika Serikat.

Perlawanan umat Islam yang gagah berani di Irak dan Afghanistan atas dasar kewajiban jihad fi sabilillah mengusir penjajah dan pembunuh umat Islam sulit dikalahkan oleh negara biadab ini. Pasukan perang Amerika yang didukung oleh sekutu NATO-nya semakin putusasa menghadapi perlawanan para mujahidin.

Mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev sebagai yang diberitakan oleh BBC (27/10/2010)mengingatkan NATO bahwa kemenangan militer tidak mungkin tercapai di Afghanistan.Gorbachev, yang menarik mundur pasukan Soviet dari Afghanistan lebih dari 20 tahun lalu, kepada BBC mengatakan hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membantu Afghanistan membangun kembali setelah kehancuran perang.

Gorbachev memuji keputusan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang mulai menarik mundur pasukan AS musim panas tahun depan.Selain memuji, Gorbachev melontarkan kritik terhadap keterlibatan Amerika di Afghanistan dua dekade lalu.“Dengan kondisi itu Amerika akan lebih sulit keluar dari masalah ini. Tapi adakah alternatif lain? Vietnam yang lain? Mengirim setengah juta pasukan? Itu tidak akan menyelesaikan masalah,” ujar Gorbachev.

Sejauh ini, jumlah pasukan NATO di Afghanistan mencapai 150.000 personil, dan lebih dari 90.000 personil adalah pasukan asal Amerika Serikat.Dan sejak invasi ke Afghanistan tahun 2001, lebih dari 2.000 prajurit NATO tewas.Dari jumlah itu, 1.350 orang adalah pasukan Amerika Serikat.

Meskipun pemerintah AS mengklaim telah melakukan negosiasi dengan Taliban dan mencapai berbagai prestasi nyata. Namun sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh organisasi non-pemerintah (NGO) di Afghanistan “ANSO” mengungkapkan bahwa Taliban semakin kuat dan besar. Taliban juga berhasil merekrut kader-kader baru di daerah-daerah yang sebelumnya tidak tersentuh oleh gerakan Taliban.

Bukan hanya kekalahan militer, tentara Amerika juga dibayangi penyakit psikologis akibat perang . Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen mengatakan, perang Irak dan Afghanistan akan berdampak jangka panjang bagi tentara AS. Mullen, Rabu (27/10) memperingatkan pasukan yang kembali dari medan perang akan mengalami tekanan mental termasuk depresi, kecemasan dan trauma. Ia mengingatkan peningkatan angka bunuh diri dan masalah kesehatan mental di kalangan tentara. Sebuah laporan yang dirilis pada Agustus lalu menyatakan bahwa lebih dari 1.100 anggota angkatan bersenjata AS bunuh diri mulain tahun 2005 hingga 2009

Dikalangan penulis terkemuka AS Opini kegagalan AS juga semakin menguat. Penulis senior Amerika, Eugene Robinson  di Washington Post menyebutkan perang di Afghanistan sebagai: “Perang tanpa akhir, dan tanpa landasan logika.”  Dia menggambarkan keputusasaan dan ketidakberdayaan tentang perang itu. “Gambaran yang tampak sekarang ini di Afghanistan adalah sebuah serangan militer yang gagal, yang langkahnya tidak dipikirkan terlebih dahulu, namun hanya didorong oleh kekuatan persenjataan. Tampaknya semua orang yakin tentang hal ini. Sayangnya tidak seorang pun yang berusaha menghentikan kegilaan ini, sehingga perang terus berlangsung.”

Sementara penulis lain, Bob Woodward dalam bukunya, “Perang Obama” mengatakan: “Komandan pasukan AS di Afghanistan, Jenderal David Petraeus, mengatakan dengan rahasia kepada presiden Obama bahwa pada akhirnya ia harus mengakui, bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah memenangkan perang ini.” (Farid Wadjdi ; dari berbagai sumber/TMU 46)

Box : Butuh Jihad dan Negara Khilafah

Para veteran Afghanistan dan pakar mengakui semangat jihad fi sabilillah para mujahidin dan dukungan rakyatlah yang membuat Soviet kalau di Afghanistan. Wartawan BBC Richard Galpin telah berbicara dengan beberapa pakar dan veteran, yang mengenang penarikan mundur pasukan Uni Soviet pada 1989 setelah 10 tahun pendudukan, sebagai pengalaman traumatis dan mempermalukan.

Menurut veteran perang Afghanistan  sebagian pejuang perlawanan (Mujahideen) adalah aktivis muslim berhaluan radikal yang berkeyakinan berperang melawan orang komunis tak ber-Tuhan adalah jihad. Dan, faktor yang ikut menentukan pejuang Afghanistan mendapat dukungan dari warga masyarakat.  Menurut beberapa pengamat nasib AS dan Nato tidak akan jauh dengan Soviet.

Letjen (Pur) Ruslan Aushev, pria dengan kumis menggantung di atas mulutnya seperti tirai beludru tebal. Namun, mulutnya keluar kata-kata yang tepat dan lugas pantas untuk sosok panglima militer Uni Soviet yang mengantungi banyak medali penghargaan atas keterlibatannya dalam aksi militer di Afghanistan pada 1980-an. “Kami berada di sana selama 10 tahun, dan kami kehilangan lebih dari 14.000 tentara, tapi apa hasilnya? Nol,” ujar Aushev selagi kami bertemu di kantornya di salah satu bilangan jalan ternama di jantung kota Moskow.

Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiyah lihizb at Tahrir  menjelaskan apa yang harus dilakukan umat Islam untuk menghentikan penjajahan kapitalisme. Menurutnya penderitan dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan negara-negara Kapitalis tidak akan berhenti kecuali dengan tegaknya negara Khilafah. Negara Adi Daya ini aka menerapkan ideology yang haq uyakni Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Pada saat itu keadilan Islam akan menyingkap ketamakan Kapitalisme, kerusakan pemikiran materilistik dan metode imperialism mereka. Kekuatan Islam akan menghancurkan kesombongan dan arogansi AS . Negar Khilafah akan memaksa AS kembali pada politik isolasi mereka. Dengan demikian kebaikan akan tersebar luas keseluruh penjuru dunia  yang bernafas lega setelah lama menderita dan sengsara.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: