Disintegrasi Sudan : Bahaya Politik Referendum


Farid Wadjdi DPP Hizbut Tahrir Indonesia

Hampir bisa dipastikan Sudan Selatan akan terpisah dari Utara. Referendum hanyalah sekedar legitimasi formal .Kegagalan pemerintah Sudan selama ini untuk memakmurkan rakyat Sudan Selatan dan perang berkepanjangan menjadi faktor penyebab utama mulusnya disintegrasi ini.

Campur tangan asing sangat kuat , terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Opini internasional yang digalang oleh Barat dengan jaringan media massa globalnya mengarahk pada dukungang disintegrasi Sudan. Barat juga menggunakan organ internasional seperti PBB dan Mahkamah Internasional mempercepat proses pemisahan ini. LSM internasional yang didukung Barat pun menciptakan prakondisi untuk pemisahan Sudan Selatan.

Namun  ketulusan Barat untuk Sudan Selatan patut diragukan . Aroma perebutan sumber-sumber ekonomi antara negara-negara besar demikian kuat. Mengingat Sudan Selatan dikenal merupakan daerah yang kaya minyak .Sementara di  wilayah Barat Sudan ditemukan uranium selain gas dan emas. Ekspansi China di sektor minyak dan gas di  kawasan ini semakin mendorong AS untuk mendominasi wilayah ini . Mantan Dubes AS untuk Afrika, Walter Kansteiner dengan tegas mengatakan minyak Afrika Barat telah menjadi kepentingan strategis nasional Amerika. (www.engdahl.oilgeopolitics.net)..

Campur Tangan Asing

Barat punya andil besar  terhadap kondisi Sudan sekarang. Inggris sejak tahun 1924 menjalankan politik isolasi antara Sudan Selatan yang mayoritas Kristen dan Animisme dengan Sudan Utara yang mayoritas muslim. Penduduk wilayah utara dipersulit untuk pindah ke Selatan , demikian juga sebaliknya. Meskipun alasannya untuk mencegah penyakit malaria, namun motif sebenarnya adalah untuk memisahkan dua kawasan itu.

Politik identitas berdasarkan agama dan ras pun dibangun oleh kolonial Inggris . Bahwa Selatan adalah kawasan kristen dan asli Afrika , sementara Utara kawasan muslim dan arab. Negara kolonial itu memberikan jalan bagi berkembangnya gerakan misionaris kristen di Selatan dan menghalangi penyebaran Islam di kawasan itu, demikian juga sebaliknya. Akibatnya, integrasi antara Sudan Selatan dan Utara menjadi terhalang. Kebijakan kolonial Inggris ini kemudian terbukti menjadi salah sumber konflik di masa sekarang.

Sementara Amerika Serikat memang sudah sejak lama menjadikan pemisahan Sudan Utara dan Selatan menjadi target politiknya di kawasan itu. The Sunday Times (17/11/1996) pernah mengungkap, pemerintah Clinton meluncurkan kampanye untuk membuat ketidakstabilan pemerintah Sudan. Lebih dari 20 miliar dolar peralatan militer dikirim ke Eritrea, Etiopia, Uganda, termasuk ke tentara  pemberontak Sudan Selatan (SPLA).

Sebelumnya , pada tahun 1995, mantan presiden AS, Jimmy Carter, dengan alasan membuka bantuan kemanusiaan, menjadi penengah gencatan senjata antara SPLA dengan pemerintah Sudan. Pada pertengahan 2001, mantan senator John Danforth ditunjuk oleh George Bush Jr. sebagai utusan presiden AS. Semua itu menjadi alat penekan untuk untuk mewujudkan tujuan politik Amerika.

Referendum 2011 ini merupakan implementasi dari Comprehensive Peace Agreement tahun 2005 di Nairobi . Kehadiran menlu AS saat itu Collin Powel saat penandatanganan menunjukkan peran penting Amerika  .Setelah lewat perjuangan yang lama tujuan Amerika akhirnya terwujud di era presiden  Obama sekarang lewat referandum 2011 .

Solusi Berbahaya

Politik referendum atas nama hak menentukan nasib sendiri (self deterimination ) yang ditawarkan oleh Barat sangatlah berbahaya bagi kesatuan politik negara-negara lain karena mendorong disintegrasi.  Setelah Sudan Selatan, wilayah Sudan lain Darfur dan Abyey diperkirakan akan menyusul. Indonesia merupakan salah satu korban dari politik referandum ini dalam kasus lepasnya Timor Timur. Irak diperkirakan akan mengalami nasib yang sama.

Pengertian menentukan nasib sendiri atau kemerdekaan pun perlu dipertanyakan. Hal itu tepat kalau sebuah negara dijajah atau diduduki oleh negara lain. Bukan pada bangsa yang tinggal pada satu tanah air yang sama. Apa yang terjadi di Sudan , solusinya bukanlah kemerdekaan atau disintegrasi tapi bagaimana membangun pemerintahan dan sistem yang adil. Sehingga mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa diskriminasi. Termasuk menjamin pengaturan sumber-sumber kekayaan alam negara untuk kepentingan seluruh rakyat secara adil.

Terbentuknya negara Sudan Selatan yang merdeka  tanpa pemerintah dan sistem yang baik, justru akan menciptakan rezim diktator baru  yang refresif. Apalagi kalau konsesi dari kemerdekaan yang didukung Barat itu adalah memberikan jalan bagi perusahaan-perusahaan Barat untuk mengeksploitasi kekayaan alam Sudan. Sementara hasilnya bukan untuk kepentingan rakyat banyak.

Negara baru Timor Timur  menjadi bukti bahwa disintegrasi bukanlah solusi. Sampai sekarang negara ini termasuk negara yang termiskin di dunia dan sangat tergantung kepada bantuan asing. Sementara kekayaan minyaknya di Selat Timor malah diklaim Australia.

Agar tidak mengalami nasib yang sama dengan Sudan , Papua haruslah benar-benar diperhatikan Indonesia.Kegagalan pemerintah pusat mensejahtrakan rakyat Papua akan menjadi dasar kuat bagi tuntutan referendum. Apalagi secara politik pra kondisi yang sama sedang terjadi di Papua.

Harus diwaspadai  upaya sistematis membangun politik identitas berdasarkan ras dan agama, seperti klaim Papua adalah negeri kristen yang berbeda rasnya dengan dengan Indonesia yang muslim. Politik identitas seperti ini sangat berbahaya dan akan mendorong disintegrasi Papua di masa datang.

Campur tangan asing di kawasan ini  seharusnya dicegah oleh pemerintah. Dan jangan begitu saja percaya dengan klaim AS yang tetap  mendukung kesatuan Indonesia. Sebagaimana  yang terjadi Sudan, tidak ada yang menghalangi AS untuk membuat kebijakan yang sama terhadap Indonesia. Bagi negara ini yang penting adalah jaminan kepentingan politik dan ekonominya.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: