Diboikot Media, Seruan Khilafah Semakin Menggema


Meskipun Diboikot Media, Seruan Khilafah Semakin Menggema di Timur Tengah

Upaya membajak arah perubahan Timur Tengah sangat serius dilakukan oleh negara-negara Barat dan pendukung-pendukungnya.  Negara-negara Barat mengklaim yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah angin perubahan menuju demokratisasi sejati, pengakuan terhadap nilai-nilai pluralisme, dan liberal (kebebasan).

Presiden Amerika, Barack Obama di Miami Jumat (4/3) mengatakan pemberontakan di kawasan Timur Tengah itu sangat membantu Amerika. Bahkan Obama yakin bahwa revolusi ini akan membuka cakrawala yang luas bagi generasi baru. Obama menyebut revolusi ini sebagai “angin kebebasan” . Ia mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan yang telah menggulingkan Presiden Hosni Mubarak harus bekerjasama dengan Amerika Serikat dan Israel. (aljazeera.net, 5/3/2011).

Senada dengan menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengakui di depan Komite Perubahan Anggaran Senat AS, Rabu (2/3/2011), bahwa Pemerintah AS melakukan kontak dan menawarkan bantuan kepada kelompok-kelompok oposisi di negara-negara yang sedang dilanda demonstrasi antipemerintah.(Kompas ,6/3)

George Friedman, pendiri lembaga kajian intelijen Stratfor Global Intelligence, menyatakan, AS punya tiga kepentingan utama di kawasan ini, yakni menjaga perimbangan kekuatan di wilayah rawan konflik, memastikan pasokan minyak, dan mengalahkan kelompok-kelompok islamis ekstrem yang berpusat di kawasan itu.

Kerry Raymond Bolton, seorang doktor teologi dari Academy of Social and Political Research, Mesir, menulis di forum Foreign Policy Journal (publikasi online khusus berisi analisis kritis terhadap kebijakan luar negeri AS) bahwa bukan tidak mungkin gejolak di Timur Tengah saat ini turut didanai pendiri Open Society Institute, George Soros.

Salah satu tokoh oposisi Mesir yang paling vokal saat terjadi aksi demonstrasi di Alun-alun Tahrir, Kairo, Mohamed ElBaradei, disebut memiliki kaitan dengan Soros karena ia pernah menjadi anggota dewan pengurus lembaga advokasi International Crisis Group (ICG). Soros sendiri menjadi satu dari delapan anggota komite eksekutif ICG (Kompas, 3/3).

Bukan Gelombang Demokratisasi

Pandangan pergolakan Timur Tengah merupakan gelombangan demokratisasi seperti yang diklaim Barat ditolak oleh Taji Mustafa. Aktifis Hizbut Tahrir Inggris ini dalam acara diskui yang dilakukan oleh Press TV menyatakan  menyatakan ada upaya sengaja menutup-nutupi faktor Islam dalam pergolakan di Timur Tengah.

Dalam diskusi yang bertema Islamic Awakenings in Egypt and Tunisia  , Taji Mustafa menyatakan sentimen Islam sangatlah kuat. Tampak dari menggemanya ucapan takbir, la ilaha illa Allah, gelar syahid bagi demonstran yang menjadi martir, hingga penggerakan yang dilakukan pada hari jumat yang dikenal dengan jumu’atul ghodob (jumat kemaharan). Di Libya para demonstran menerikakkan Qaddafi ‘aduwallah (Qaddafi musuh Allah ).

Kalaupun ada ucapan kebebasan bukanlah yang dimaksud dalam pengertian demokrasi sekuler dan liberal yang diklaim Barat. Apalagi diartikan masyarakat Timur Tengah tidak menginginkan syariah Islam. Tapi suara itu merupakan  keinginan alami rakyat Timur Tengah membebaskan diri dari pemimpin Arab yang diktator. Tuntutan agar pinta kebolehan berpendapat dan mengkritik lebih dibuka, serta pemilu yang terbuka dan berdasarkan pilihan rakyat. “ Dan ini tidak identitik atau hanya dimiliki oleh Barat”, tegas Taji.

Hizbut Tahrir sendiri telah melakukan aksi-aksi yang masif . Menyebarkan jutaan nasyarah (selebaran) menuntut penumbangan rezim diktator dan menggantinya dengan sistem yang hakiki , yakni Khilafah Islam. Aksi yang dilakukan di berbagai kawasan Timur Tengah mulai dari Tunisia, Mesir, Lebanon, Palestina, Inggris, Australia, hingga Indonesia.  Hizbut Tahrir juga melakukan kontak dan menyerukan kepada ahlul Quwwah (kelompok militer) di Timur Tengah untuk memberikan loyalitas mereka kepada Islam bukan kepada Amerika atau Israel.

Gema Seruan Khilafah

Meskipun berbagai media berupaya membungkam seruan-seruan Islam dalam perubahan di Timur Tengah, suara-suara umat menyerukan Khilafah semakin menggema. Hal ini terang menggelisahkan negara penjajah. Pernyataan tentang ketakutan ini telah disampaikan oleh Clinton, Cameron, Ashkenazi, Netanyahu dan Berlusconi. Bahkan media-media besar Barat seperti Fox News dan The Independent, semuanya telah membicarakan tentang ketakutan para politisi Barat terhadap revolusi ini,  pendirian Khilafah, serta implikasinya bagi Barat dan dunia. Sampai-sampai Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa untuk mengeluarkan pernyataan untuk menenangkan kecemasan Barat dan meredakan badai ketakutan .

Suara-suara dukungan terhadap Hizbut Tahrir di tengah-tengah kaum Muslim meningkat pesat terkait seruannya untuk menegakkan Khilafah. Di Tunisia, masîrah (longmarch) berlangsung di jalan-jalan menyeruakan :  “lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah … lâ dimoqrâthiyyah wa wathaniyyah … bal khilâfah Islâmiyyah (bukan Timur dan bukan pula Barat … bukan demokrasi dan bukan pula nasionalisme … melainkan Khilafah Islamiyah)”.

Di Mesir , suara-suara lantang yang diabaikan media, khotbah-khotbah Jum’at, channel-channel TV keagamaan, dan kelompok massa yang menyerukan penerapan Islam di Lapangan Tahrir, di berbagai pusat diskusi di kota Alexandria, dan wilayah-wilayah Mesir lainnya.Di Libya, berlangsung seruan-seruan untuk penerapan Islam, meskipun Gaddafi melancarkan kampanye untuk merusak citra  Islam.

Di Yaman, beberapa ulama terkemuka menyerukan kabar gembira akan kembalinya Khilafah.Beberapa kota diwarnai dengan kibaran bendera al-Uqab, yaitu al-Liwa’ dan ar-Rayah. Memberitakan hal ini media-media lokal dan Arab membuat judul: “Yaman berada di pinggiran “Khilafah Islam”, dan “ar-Rayah” telah berkibar di atas sekolah-sekolah di Aden”. Tegaknya Khilafah tinggallah menunggu waktu dengan pertolongan Allah SWT dan kerja keras para pejuangnya. (Farid Wadjdi, dari berbagai sumber)

Box : Umat Islam menuntut Syariah dan Khilafah

Sesungguhnya aspirasi untuk menegakkan syariah dan Khilafah sejak lama menjadi tuntutan umat Islam di  dunia Islam termasuk di Timur Tengah. Klaim Barat dan pendukungnya bahwa rakyat Timur Tengah menginginkan demokrasi sekuler dan tidak menginginkan Islam, adalah kebohongan. Berbagai survey yang dilakukan dikawasan dunia Islam menunjukkan hal yang bertolak belakang.

Pusat Kajian Strategis Universitas Yordania survey komprehensif  laporan tahun 2005 (“Revisiting the Arab Street” ): dua pertiga dari responden di negara-negara Arab merasa bahwa Syari’at harus menjadi sumber legislasi tunggal (persyaratan utama untuk Negara Islam), dan sepertiga sisanya merasa bahwa Syari’at harus menjadi sumber hukum

Universitas Maryland  hasil survey 4 negara Maroko, Pakistan, Mesir  , Indonesia pada April 2007 (‘Muslim Public Opinion on US Policy, Attacks on Civilians and al-Qaeda’ ) menyebutkan kecenderungan serupa: “Mayoritas responden (70 %)di sebagian besar negara-negara diatas mendukung penerapan Syari’at dengan ketat, menolak nilai-nilai Barat, dan bahkan menyatukan seluruh negeri Islam (Khilafah).” (FW)

 

One Response

  1. Perang jaman sekarang yang paling berbahaya adalah perang ide, ide yang paling berpengaruh adalah yang diucapkan oleh lidah-lidah yang tajamnya melebihi pedang. LIDAH jaman modern sekarang ini adalah media baik online-offline…semoga dengan pertolongan Allah SWT kita semua menjadi penyambung lidah ide2 khalifah…
    salam dari North Bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: