Mencari Boneka Baru di Yaman


Amerika Serikat dan Inggris berebut pengaruh di Yaman dengan kepentingannya masing-masing.

Nasib Presiden Yaman di ujung tanduk. Serangan mematikan terhadap kompleks istana kepresiden (3 /6) menyebabkan luka serius Presiden Ali Abdullah Saleh.  Sejumlah pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Ali Muhammad Mujawar dan Ketua Parlemen Abdul Aziz Abdul Ghani terluka. Keesokan harinya, Saleh diterbangkan dengan pesawat medis milik Arab Saudi ke Riyadh untuk menjalani perawatan atas luka bakar dan luka akibat serpihan roket.

Situasi Yaman pun semakin tidak menentu. Kepergian Saleh membuat posisinya menjadi semakin lemah. Lawan-lawan politiknya menuntut agar Saleh segera meninggalkan kekuasaan.  Namun dukungan militer, beberapa pemimpin suku, dan pengaruh anak-anaknya yang masih kuat, membuat Saleh tidak gampang ditumbangkan. Penjabat presiden, Abd-Rabbu Mansour Hadi, akan bertemu dengan para petinggi militer dan putra-putra Saleh, kata laporan televisi al-Arabiya mengutip berbagai sumber.

Situasi yang kacau menyebabkan Yaman diambang perang saudara  yang meluas. Sebelumnya, pertempuran dua pekan antara orang suku oposisi dan pasukan yang setia pada Saleh telah menewaskan hampir 140 orang, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas laporan-laporan petugas medis dan sumber suku. Kelompok suku yang setia pada pemimpin oposisi kuat Sheikh Sadiq al-Ahmar terlibat dalam pertempuran dengan pasukan pemerintah di Sana’a setelah Saleh menolak menandatangani perjanjian transisi yang ditengahi negara-negara Teluk.

Perjanjian itu menetapkan Saleh meninggalkan kekuasaan dalam waktu 30 hari dan sebagai imbalannya, ia akan memperoleh kekebalan dari penuntutan. Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun menghadapi protes sejak Januari menuntut pengunduran dirinya. Tuntutan itu disambut dengan tindakan keras aparat keamanan. Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari menewaskan lebih dari 300 orang.

Intervensi Asing

Konflik berkepanjangan di Yaman tidak bisa dilepaskan dari intevensi  dan perebutan kekuasaan negara-negara imperialis terutama Inggris dan Amerika Serikat. Meskipun tampak seperti sejalan, satu hal yang pantas dicermati, bahwa terdapat persaingan diam-diam antara Inggris dan AS di kawasan itu. Sebagai negara yang pernah menjadi penguasa nomor satu di kawasan Timur Tengah, Inggris tentu saja tidak ingin  pengaruhnya hilang sama sekali di kawasan itu.  Negara itu tidak ingin AS menjadi penguasa tunggal di Timur  Tengah.

Bagi kedua negara itu kawasan ini sangat penting baik secara politik maupun ekonomi. Laut Merah dan Teluk  Aden merupakan daerah perairan yang strategis. Lebih dari 30 persen minyak mentah dan lebih dari 10 persen perdagangan dunia melewati kawasan ini. Yaman juga strategis untuk menjamin kepentingan straegis AS di Afrika yang juga menjadi daerah konflik seperti Somalia, Ethopia, Djibouti. Wilayah panas ini secara geografis berdekatan dengan Yaman.

Untuk itu AS bekerja keras untuk membangun pangkalan militer permanen di Teluk Aden dan Djibouti. Berkaitan dengan itu perwira senior Prancis pernah menyatakan di Koran al Sharq al Awsat  (28/10/2008): Dengan menggelar pasukan di di Djibouti, Amerika bisa meraih tujuannya untuk menjamin secara permanen kehadirannya di kawasan Tanduk Afrika di kawasan panas (konflik) Yaman, Somalia maupun Sudan.

Tidak heran kalau Amerika Serikat tidak menyia-nyiakan konflik di Yaman untuk kepentingannya. Seperti biasa Amerika menggunakan alasan palsu perang melawan terorisme untuk menguasai negara itu. Laksamana Michael Mullen, komandan tertinggi pasukan AS, mengatakan konflik di negara Semenanjung Arab itu membuat jaringan teror Al Qaeda lebih berbahaya.

The New York Times mengutip beberapa pejabat, Rabu (8/6/2011) melaporkan Amerika Serikat secara diam-diam melancarkan serangan udara pada daerah yang mereka tuduh sebagai basis kelompok militan.  Serangan dilakukan dengan menggunakan jet tempur dan pesawat tanpa awak yang menewaskan banyak penduduk sipil. Duta Besar AS untuk Yaman Gerald M Feierstein menemui sejumlah pemimpin oposisi dan mereka meyakinkan operasi melawan Al Qaeda di Semenanjung Arab akan terus berlanjut siapa pun nanti yang memenangi kekuasaan di Yaman.

Sebelumnya, pada  Kamis (5/5/2011), pesawat tanpa awak Amerika menembakkan rudal ke sebuah mobil di distrik Nishab, Provinsi Shabwah. Serangan itu mengakibatkan tewasnya dua orang pengendara mobil dan menyebabkan mobil itu terbakar.

Amerika adalah negara buas yang tak punya  hati nurani terhadap umat Islam. Seperti yang mereka lakukan di Irak, Pakistan, dan Afghanistan, negara imperialis itu dengan mudah membunuh umat Islam dengan tuduhan militan atau al Qaeda. Meskipun bukanlah menjadi rahasia lagi, bahwa motif sebenarnya Amerika adalah untuk kepentingan ekonomi.

Negara itu sendiri sudah menggunakan pesawat tanpa awak di Yaman sejak Desember 2009. Semua berlangsung karena kerja sama dengan penguasa boneka mereka di Yaman. Wikileaks membocorkan dokumen bahwa Ali Abdullah Saleh berjanji kepada Amerika untuk menutupi serangan AS yang dilancarkan untuk membunuh penduduk Yaman. Kemudian, menimpakan tanggung jawab pembunuhan warganya kepada pasukan keamanan Yaman!

Boneka Baru

Kantor berita Yaman Saba mengatakan, Mansur Hadi mengadakan pertemuan dengan Duta Besar AS Gerald Michael Feierstein, Minggu (5/6). “Sejumlah masalah dibahas menyangkut perkembangan saat ini… dan cara-cara kerja sama untuk melindungi pelayanan dasar seperti minyak, gas dan listrik, serta melaksanakan gencatan senjata penuh,” kata Saba. Mereka juga membahas “pentingnya kerja sama dengan Forum Bersama”, sebuah aliansi oposisi parlemen, kata kantor berita itu.

Sementara, ICG (International Crisis Group) yang bermarkas di London menyerukan perluasan  partisipasi transisi  termasuk pemuda, perwakilan masyarakat sipil, anggota kepemimpinan lama Yaman selatan dan anggota-anggota gerakan selatan. Pada saat yang sama London membisikkan politisi Yaman untuk membentuk Dewan Militer “transisi”! untuk menggantikan Ali Abdullah Saleh di Yaman. Menyerupai Dewan Transisi Libya untuk bekerja bersamanya secara politik, mengakuinya dan menerima perwakilannya serta memilih alternatif pengganti.

Apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini termasuk di Yaman adalah upaya negara-negara imperialis asing  mempertahankan penjajahan mereka. Setelah sebelumnya mendukung rezim-rezim brutal di Mesir, Tunisia, Libya dan Yaman, mereka berusaha mencampakkan agen mereka sendiri yang tidak lagi bermanfaat. Amerika  dan negara-negara imperialis lainnya hadir bagaikan dewa penyelamat dengan menawarkan demokrasi dan keterbukaan.

Ali Abdullah Saleh merupakan contoh penguasa kaum Muslim yang berjalan dalam rencana Barat yang mengakibatkan kehancuran Yaman. Mereka juga menjadikan Yaman sasaran empuk penjajahan Barat. Perekonomian Yaman diserahkan di bawah kontrol Barat lewat kerja sama dengan Bank Dunia dan IMF. Cadangan devisa Yaman terkuras. Masyarakat Yaman sendiri tidak bisa mengambil manfaat dari minyak dan gas yang dijual dengan harga murah, kurang dari sepertiga harga internasionalnya.

Hizbut Tahrir Yaman dalam seruannya mengajak kepada para tentara untuk menghentikan peperangan saudara. Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah dari pembunuhan seorang Muslim (HR at-Tirmidzi). ”Dan tolonglah para aktivis dan pejuang untuk mengembalikan Islam ke pentas kehidupan di bawah Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian,” seru HT Yaman dalam selebarannya. (Farid Wadjdi; dari berbagai sumber)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: