Erdogan Serukan Mesir Adopsi Sekulerisme


Erdogan kembali dengan jelas menunjukkan jati dirinya sebagai agen Barat, dalam kunjungannya ke Mesir , Erdogan dengan lantang menyerukan agar Mesir mengadopsi sekulerisme seperti Turki.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan pemerintah Mesir untuk menjadi negara sekuler. “Tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan sekularisme. Oleh karena itu, saya harap, Mesir akan menjadi negara sekuler,” kata Erdogan dalam wawancaranya dengan TV kabel “Dream”, seperti dilaporkan Guardian, Rabu (14/9).

Dalam pernyataannya Erdogan mencatat bahwa sekularisme tidak berarti meninggalkan agama.”Sebuah negara sekuler menghormati semua agama,” kata Erdogan dalam sebuah wawancara dengan saluran TV satelit swasta Mesir pada awal kunjungannya ke negara Afrika tersebut.

“Jangan terlalu waspada terhadap sekularisme. Saya berharap akan ada sebuah negara sekuler di Mesir,” kata Erdogan dalam sebuah pernyataan.Dia menekankan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih menjadi relijius atau tidak, sembari menambahkan bahwa ia adalah perdana menteri muslim untuk negara sekuler.

Hal senada disampaikan Erdogan dalam kunjungannya ke Tunisia . “Islam dan demokrasi tidak bertentangan. Muslim dapat menjalankan sebuah negara yang sangat berhasil,” kata Erdogan setelah pertemuan dengan mitra Tunisia nya, Beji Caid Essebsi. “Keberhasilan proses pemilu di Tunisia akan menunjukkan kepada dunia, bahwa demokrasi dan Islam bisa berjalan bersama-sama. “paparnya.

Pernyataan Erdogan semakin menegaskan bahwa dia dan partainya merupakan kaki tangan Amerika.  Amerika menggunakan rezim Erdogan untuk memuluskan kepentingannya di Timur Tengah.Untuk memperkuat posisnya di Timur Tengah, Erdogan tampil sepertinya menjadi pembela Palestina dan anti Israel.

Sebelumnya, salah satu petinggi AKP lainnya, Abdullah Gul, yang juga merupakan Presiden Turki mengusulkan Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) untuk mengakui eksistensi Israel.Kantor berita Fars (22/5) melaporkan, hal itu dikemukakan Gul dalam wawancaranya dengan koran Wallstreet Journal.

Gul juga menyatakan dukungan negaranya terhadap Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan kebijakannya.Menurutnya, usulan Obama soal pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967 merupakan sebuah langkah penting.

Sikap Turki yang mendorong Hamas mengakui keberadaan Israel, tidak bisa dilepaskan dari posisi Turki yang menjadi kaki tangan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Tampak dari sikap Turki yang mendorong pembentukan dua negara yang berdampingan (two states solution) dan kembali pada perbatasan 1967 .

Solusi ini pada prinsipnya hanya menjalankan kepentingan Amerika Serikat. Sebab two state solution berarti mengakui keberadaan negara penjajah Israel. Demikian juga kembali kepada perbatasan Palestina 1967, berarti mengakui keberadaan negara Israel yang berdiri tahun 1947.

Usulan ini berarti merupakan pengakuan terhadap legalitas negara penjajah. Apalagi negara merdeka yang dimaksud oleh AS adalah negara Palestina yang sekuler dan tidak mengancam keamanan Israel. Karena itu negara itu tidak akan dibiarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat, persenjataan yang canggih.

Sebelumnya, Partai AKP juga menolak untuk dikatakan sebagai partai Islam. Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, tepatnya di Johns Hopkins University Erdogan mengumumkan bahwa pintu partainya terbuka untuk menyambut keinginan siapapun, namun partai Keadilan dan Pembangunan Turki bukanlah partai Islam.

“Partai kami tidak pernah menjadi partai Islam, sebab tidak mungkin melakukan hal yang kurang memberikan rasa hormat terhadap agama kami seperti ini. Partai ini juga tidak mungkin berupa partai agama,” ujarnya.

Dia menambahkan: “Partai kami adalah sebuah partai konservatif dan demokratis. Bahkan kami bertekad untuk terus mempertahankan identitas ini.”Erdogan menolak mentah-mentah sebutan Utsmaniyin baru atas politik luar negeri Turki. Dia mengatakan bahwa “tidak dapat diterima pendekatan semacam itu.”(al-aqsa.org, 15/12/2009)

Erdogan juga pernah menegakan komitmennya mendukung negara sekuler Turki. Saat berbicara dengan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (17/4/2007), Erdogan mengingatkan agar kaum sekuler yang takut soal pencalonanny kembali saat itu .

“Demokrasi, sekularisme, dan kekuasaan negara yang diatur oleh undang-undang, adalah prinsip utama dalam sebuah negara republik. Jika ada salah satunya yang hilang, maka pilar bangunan negara akan runtuh. Tidak ada kelompok manapun yang meresahkan pilar-pilar itu. Dengan keinginan masyarakat, maka pilar-pilar itu akan hidup selamanya. “

Lantas, apa latar belakang  Turki menyerukan agar Mesir mengadopsi sekulerisme ?Laporan Rand Corperation (2008) bisa memperjelas hal ini. Dalam  laporan yang berjudul The Rise of Political Islam in Turkey, Rand menjelaskan tentang pentingnya peran Turki untuk menunjukkan bahwa sekulerisme dan Islam bisa menyatu untuk mencegah radikalisasi.  Kesimpulan RandCorporation : Hal ini penting, karena masuk ke jantung masalah kompatibilitas Islam dan demokrasi. Kemampuan partai dengan akar Islam untuk beroperasi dalam kerangka sistem demokrasi sekuler dengan  menghormati batas-batas antara agama dan negara akan membantah argumen bahwa Islam tidak dapat didamaikan dengan demokrasi sekuler modern. Di sisi lain, jika percobaan gagal, bisa menyebabkan polarisasi sekular-Islam lebih mendalam. Pada gilirannya akan mengurangi jalan tengah yang dibutuhkan untuk membangun benteng Muslim moderat yang dibutuhkan untuk mencegah penyebaran radikal Islam. Entitas Mainstream di Turki, oleh karena itu, harus didorong untuk bermitra dengan kelompok dan lembaga tempat lain di dunia Muslim untuk menyebarkan interpretasi moderat dan pluralistik Islam.

Seruan Erdogan ini tentu saja ditolak oleh aktivis Islam Mesir. Dr Mahmoud Ghuzlan, juru bicara Ikhwanul Muslimin Mesir, menganggap komentar Erdogan itu sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri Mesir.Ghuzlan dikutip oleh sebuah surat kabar Mesir mengatakan bahwa eksperimen di negaranya tidak boleh dikloning ke negara lain.”Kondisi Turki berbeda dengan Mesir, Turki berurusan dengan konsep sekuler,” katanya menegaskan.

Walhasil, lagi-lagi ini adalah kepentingan Amerika, negara itu sangat khawatir dengan dukungan yang besar dari rakyat Mesir yang menginginkan syariah Islam akan berdiri negara Islam di Mesir. Erdogan dipakai untuk menghambat itu pendirian negara  Islam. Sebab negara Islam akan mengancam tiga kepentingan Amerika di Timur Tengah: menjaga suplay minyak murah, menjaga eksitensi Israel, dan mencegah bangkitnya ideologi Islam yang menerapkan syariah Islam di bawah naungan Khilafah. (Farid Wadjdi)

Box

Turki Sekuler : Model Keberhasilan Ekonomi ?

Salah satu yang dibanggakan Erdogan untuk menjadikan Turki sebagai model negeri Islam lainnya adalah keberhasilan ekonomi. Memang Turki dibawah rezim Partai AKP mengalami pertumbuhan ekonomi yang  cukup signifikan. Laju pertumbuhan ekonomi  negara itu mencapai 8,9 persen pada tahun 2010. Ketika partai AKP mengambil alih kekuasaan produk domestik bruto (PDB) Turki baru senilai 230 milyar dolar pada tahun 2008 dan meningkat menjadi 742 milyar dolar.  Namun PDB Turki tentu masih jauh dibanding dengan negara-negara Eropa. Peningkatan PDB atau pertumbuhan tinggi itu tidak lantas menjamin dan menunjukkan bahwa secara individu per individu masyarakat negara itu sejahtera. Sebab kekayaan bisa menumpuk pada segelintir orang saja.  Perlu juga dicatat, pertumbuhan ekonomi Turki tidak bisa dilepaskan dari program liberalisasi ekonomi yang dicanangkan Erdogan. Karena itu ekonomi Turki sangat tergantung kepada ekonomi kapitalisme global  dunia yang rapuh . Kalau Amerika dan Negara Eropa sebagai pionirnya saja bisa goncang, tentu bukan mustahil hal yang sama terjadi di Turki. Itu tinggal menunggu waktu. Seperti Indonesia, oleh Barat pernah dipuji sebagai kekuatan ekonomi baru sebelum terjadi krisis ekonomi di era Suharto, bahkan disebut-sebut neo macan ekonomi asia. Tapi apa yang terjadi, hanya dalam waktu singkat ekonomi Indonesia bangkrut, setelah terjadi krisis ekonomi regional saat itu.

 

Turki juga menghadapi masalah kapitalisme yang sama, kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, angka kemiskinan di Turki pada 2009 justru meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut laporan terbaru oleh Institut Statistik Turki atau TurkStat, persentase orang Turki yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat dari 17,79 persen pada tahun 2008 menjadi 18,08 persen atau 12.750.000 orang. Pada Rabu (2/3/2011), Harian Hurriyet Daily News & Economic Review mengutip pendapat sosilog Aykut Toros menyatakan bahwa  berdasarkan penelitian TurkStat tidak terlihat adanya perbaikan dalam distribusi pendapatan dan hal itu akan menyeret ke budaya konflik dan ketidaksetaraan. (FW dari berbagai sumber)

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: