Laporan Kebebasan Baragama AS : Kehilangan Otoritas


Departemen Luar Negeri AS, kembali meliris laporan tahunannya tentang  kebebasan beragama di seluruh dunia pada selasa (13/9 2011). Laporan tersebut mengulasl kebebasan beragama di seluruh dunia. Laporan tahunan diperlukan berdasarkan peraturan 1998 Kongres, dan negara-negara melanggar kebebasan beragama dapat dikenakan sanksi AS.

Penganiayaan terkait agama di beberapa negara di sebut memburuk. Dari hampir 200 negara dinilai dalam laporan, delapan terdaftar sebagai Negara-negara diperhatikan secara khusus (Countries of Particular Concern/CPC): Burma, Cina, Eritrea, Iran, Korea Utara, Arab Saudi, Sudan dan Afghanistan.

Berkaitan dengan Indonesia, dinyatakan selama 2010 terdapat 50 serangan terhadap Ahmadiyah dan 75 serangan terhadap umat kristen. Dinyatakan meski Indonesia secara umum menghormati kebebasan beragama tetapi dalam sejumlah kasus negara telah gagal melindungi orang dari diskriminasi dan pelecehan berdasarkan agama.

Laporan tersebut juga mengecam Pakistan karena telah gagal mereformasi undang-undang tentang penghujatan yang digunakan untuk menganiaya umat dari agama minoritas dan dalam sejumlah kasus juga menyiksa kaum Muslim yang mempromosikan toleransi.

Catatan penting  kita tentang laporan ini adalah tidak layak , kehilangan otoritas, dan bias. Amerika sesungguhnya telah kehilangan otoritas bahkan sekedar otoritas moralitas untuk menyoroti  palaksanaan  HAM di negara-negara lain. Bagaikan kata pepatah gajah diseberang lautan kelahatan, namun semut di pelupuk mata tidak.  Di Amerika Serikat sendiri pelecehan berkaitan dengan agama meningkat, tapi luput secara membahas dibahas. Semakin perkembanganya Islamophobia terutama pasca serangan 911, tentu saja merupakan pelanggaran HAM.

Jangan lupakan kontroversi pembangunan masjid yang ditolak karena diklaim masih berada di Ground Zero  . Belum lagi  provokasi murahan yang penuh kebencian terhadap Al Qur’an oleh pendeta Terry Jones hingga pembakaran Al Quran oleh pengikutnya. Tidak ada sanksi yang tegas dari pemerintah Amerika dengan alasan kebebasan berekspersi. Termasuk kita mempertanyakan tidak jelasnya sikap Amerika terhadap larangan pemakaian pakaian muslim di beberapa negara Eropa seperti Perancis dan Belanda, larangan sholat berjamaa’ah di tempat umum di Perancis, termasuk sikap anti Islam kelompok ultranasionalis Eropa yang terus meningkat.

Negara ini semakin kehilangan muka bahkan tampak hipokrit dalam masalah penegakan HAM, ketika mereka membunuh lebih dari satu juta orang di Irak, ribuan orang di Pakistan dan Afghanistan atas nama perang melawan terorisme dan menegakkan negara demokrasi. Di satu sisi Amerika Serikat menyoroti kebebasan beragama di Pakistan dan Afghanistan , di sisi lain negara buas ini terus melakukan pembunuhan terhadap rakyat sipil dengan pesawat tanpa awak yang juga tanpa nurani. Lebih buruk mana pelanggarannya kemanusiaannya, pelarangan pendirikan rumah ibadah atau pembunuhan massal  yang dilakulkan negara-negara imperialis dunia?

Sama menggelikannya, sikap negara itu kaitannya dengan Zionis Yahudi. Laporan itu mengkritik Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan tudingan terus mengkampanye anti-Semit  dan mempertanyakan kebenaran pembantaian Nazi terhadap orang-orang Yahudi dalam perang dunia kedua . Termasuk mengkritik buka-buku teks dan refrensi di Saudi disebut-sebut bersifat negatif dan sterotif terhadap kristen dan Yahudi. Di sisi lain, pemerintah Paman Sam menutup mata terhadap sikap keji zionis Yahudi terhadap kaum muslim di Palestina.

Penangkapan, penyiksaan , hingga pembunuhan yang sistematis yang berjalan hingga kini dengan korban yang sangat besar, nyaris tidak tersentuh oleh Amerika Serikat. Bahkan saat Gaza dibombardir oleh Zionis Yahudi yang hanya dalam beberapa hari telah membunuh lebih dari 1500 orang rakyat sipil Palestina 400 diantaranya adalah anak-anak, negara imperialis ini diam seribu bahasa. Bahkan menganggap apa yang dilakukan zionis-yahudi ini adalah legal untuk mempertahankan diri. Dimana letak logikanya penjajah yang menduduki negara lain dikatakan melakukan serangan untuk membela diri ?

Sikap hipokrit negara ini dan juga negara-negara Barat lain semakin tampak di depan mata, melihat dukungan mereka terhadap rezim-rezim brutal , diktator dan represif di dunia Islam selama ini . Untuk kepentingan minyak, melindungi Israel, dan memberangus gerakan Islam , rezim-rezim brutal seperti Husni Mubarak, Assad, Raja-raja Arab, termasuk Moammar Gaddafi  dipelihara dengan berbagai bentuk oleh Amerika Serikat .

Dalam kasus Libya, ggen rahasia Badan Pusat Intelijen AS dan Barat, termasuk M16 Inggris, memiliki kedekatan emosional, bersahabat karib dengan agen intelijen rezim Libya, Moammar Khadafy. Mereka bekerja sama dalam banyak hal, termasuk penangkapan dan pengiriman pihak-pihak yang dituduh sebagai  teroris.Masalah itu terungkap dalam sejumlah dokumen rahasia yang ditemukan di Tripoli seperti dilaporkan AFP, Sabtu (3/9). Memalukan, disaat Barat sekarang berbalik arah seakan mendukung rakyat dan berbicara tentang HAM dan demokrasi di Libya yang  baru,  mereka justru selama ini telah berkerjasama dengan para rezim brutal itu yang  bersikap keji terhadap rakyat mereka sendiri.

Laporan ini juga tampak bias , tidak utuh  dan tidak komprehensip dengan menutupi banyak fakta-fakta penting lainnya. Dalam kasus Indonesia misalnya, dilaporkan tentang serangan terhadap Ahmadiyah dan pihak kristen. Tanpa dijelaskan latar belakang dan faktor-faktor lain yang menyebabkan penyerangan itu.  Dalam banyak kasus serangan terjadi tidak bisa dilepaskan dari sikap arogansi, provokasi dan melanggar hukum yang dilakukan pihak Ahmadiyah dan pihak Kristen. Korbannya juga bukan hanya pihak Amadiyah atau kristen  tapi juga dari umat Islam. Seperti yang terjadi di Cikeusik dan Bekasi. Sikap pemerintah yang tidak tegas juga merupakan pemicu.

Adapun sikap muslim terhadap penolakan rumah ibadah agama lain, bukanlah berarti  menolak kebolehan beribadah bagi agama lain. Hal ini adalah dua hal yang berbeda. Buktinya di Indonesia berdiri banyak gereja, di kota-kota besar, di pinggir-pinggir jalan juga terdapat gereja-gereja megah yang sudah ada sejak jaman Belanda. Namun umat Islam tidak mempersoalkannya. Yang dipersoalkan umat Islam pendirian bangunan gereja yang ilegal, tidak sesuai aturan, dan yang melakukan gerakan-gerakan misionaris atau pemurtadan. Jadi bukan menolak kebebasan untuk beribadah.

Dalam kasus rencana pembangunan Gereja Yasmin di Bogor misalkan terbukti pihak gereja menghalalkan segala cara termasuk dengan cara penipuan. Beberapa warga  menyatakan tidak pernah menandatangani surat pernyataan tidak keberataan terhadap pembangunan gereja, beberapa diantara mereka juga tidak hadir. Pihak pembangunan gereja ternyata memanipulasi daftar hadir dan tanda tangan penerimaan uang sebagai pengganti uang transport  dalam sebuah pertemuan sebagai bukti ketidakberatan warga. Mereka juga memanfaatkan pejabat setempat dan orang-orang tertentu untuk menekan dan melakukan penipuan. Hal-hal seperti ini tidak diungkap

Adanya aksi kristenisasi  yang  agresif di Indonesia yang berujung pada reaksi umat Islam , juga tidak diungkap.  Untuk kasus Bekasi, ICG Indonesia  (13/01/2011) membeberkan fakta bahwa di pihak Kristen terdapat beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim juga ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pentakosta yang paling bonafide serta aktif, menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan sepuluh orang sebagai syarat kelulusan.

Benarkah di Indonesia tidak ada kebebasan beragama ? Benarkah di Indonesia pembangunan gereja terhambat ? Kenyataannya tidaklah seperti itu. Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar pertumbuhan tempat ibadah yang terjadi sejak 1977 hingga 2004 justru meningkat. Pertumbuhan rumah ibadah Kristen justru lebih besar dibandingkan dengan masjid. Rumah ibadah umat Islam, pada periode itu meningkat 64,22 persen, Kristen Protestan 131,38 persen, Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika: 18 Februari 2006).Laporan Majalah Time juga berbicara lain, dalam tulisan yang berjudul Christianity’s Surge in Indonesia(http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1982223,00.html) majalah itu menunjukkan gelora peribadahan pemeluk Kristen di Indonesia. Walhasil  hasil laporan-laporan HAM seperti ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan penjajahan Amerika Serikat. (Farid Wadjdi)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: