Monuver Dibalik Sanksi Barat Terhadap Iran


Uni Eropa akhirnya mengikuti AS,  menjatuhkan sanksi kepada Iran sebagai tekanan agar program nuklir Iran dihentikan. Eropa sendiri rencananya akan melarang seluruh impor minyak dari Iran mulai 1 Juli 2012. Kebijakan ini secara resmi harus menunggu persetujuan 27 negara yang akan bertemu di Brussel. Namun tidak semua negara Eropa setuju terhadap sanksi ini. Mengingat dampak ekonominya. Apalagi beberapa negera Eropa sedang mengalami krisis.

Di samping larangan impor minyak, Eropa akan menjatuhkan sanksi terhadap bank sentral Iran.  Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton berharap sanksi ekonomi bisa melemahkan Iran untuk kembali ke meja perundingan. “Saya ingin sanksi dapat mengakibatkan terbukanya kembali upaya negosiasi,” ujar Ashton seperti dikutip Reuters, Senin, (23/1).

Sebelumnya, pada awal Desember 2010 Senat Amerika Serikat secara bulat mendukung sanksi ekonomi yang lebih berat atas Iran dengan suara 100 dibanding nol. Perubahan undang-undang yang disahkan tersebut mencakup sanksi atas perusahaan-perusahaan asing yang melakukan bisnis dengan Bank Sentral Iran. Dengan sanksi baru ini maka bank-bank asing yang melakukan bisnis dengan Bank Sentral Iran akan dikeluarkan dari sistem keuangan Amerika.

Pemerintah Obama sendiri memiliki kepentingan sendiri terhadap sanksi terhadap Iran ini. Terutama untuk mencegah serangan Israel terhadap Iran. Negara Paman Sam selama ini memegang kebijakan untuk mencegah serangan militer langsung Israel terhadap Iran. Untuk itu Amerika menyakinkan Israel solusi terbaik saat ini adalah dengan pemberian sanksi ekonomi terhadap Iran, bukan serangan militer.

Serangan militer Israel dikhawatirkan akan membawa dampak yang tidak terduga secara ekonomi maupun politik, terutama dikawasan Timur Tengah. Sementara Israel sendiri sudah sangat bernafsu untuk menyerang Iran , terutama menghancurkan fasilitas nuklir negara itu. Bagaimanapun peningkatan kemampuan nuklir Iran akan membahayakan entitas zionis itu.

Tampaknya Amerika melihat belakangan ini ada upaya yang serius dari Israel untuk melakukan serangan militer ini. Pada bulan November, Presiden Israel, Shimon Peres mengatakan bahwa serangan militer ke Iran sangat mungkin terjadi. Pernyataan ini dikeluarkan Peres beberapa hari menjelang laporan PBB soal program nuklir Iran (BBC Indonesia, 6/11).

Upaya Amerika untuk mencegah serangan Israel tampak dari kunjungan Penasehat militer tertinggi AS, Presiden Barack Obama ke di Israel pekan ini. Pejabat penting militer AS memulai serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Israel, Jumat (20/1/2012), di tengah kekhawatiran internasional yang meningkat bahwa Israel bisa bertindak sendiri untuk menggagalkan program nuklir Iran.

Kunjungan tersebut merupakan upaya Obama dan pejabat AS untuk memperingatkan setiap langkah militer sepihak dari Israel, yang dianggap akan melemahkan sanksi terhadap Iran dan memicu konsekuensi yang lebih lanjut, seperti diberitakan dalam laman independent.co.uk, Senin (16/1).Kunjungan Dempsey ke Israel saat ini secara luas dipandang sebagai upaya AS untuk meyakinkan Israel agar biarkan dulu sanksi-sanksi itu diterapkan dan untuk mencegah setiap tindakan militer sepihak Israel terhadap Iran.

Dalam kepentingan pemilu presiden Amerika mendatang.  serangan Israel akan memberikan masalah bagi Obama. Penolakan Obama terhadap serangan Israel kalau terjadi akan dianggap sebagai  sikap tidak mendukung  entititas Yahudi itu. Sementera Obama sendiri masih sangat membutuhkan dukungan dari  kelompok Yahudi Amerika Serikat . Sulit bagi siapapun di Negara Paman Sam itu bisa siapapun untuk menjadi presiden negara itu tanpa ada dukungan penuh dari lobby Yahudi.

Amerika juga khwatir, nafsu Israel untuk menyerang Iran akan dimanfaatkan Eropa terutama Inggris . AS melihat ada upaya kuat dari Inggris untuk menggeser pengaruh Amerika. Ketidakstabiilan akibat serangan Israel , sangat mungkin akan dimanfaatkan Inggris untuk merusak pengaruh Amerika dikawasan itu. Pengaruh Inggris sendiri di kawasan ini memang semakin melemah , terutama setelah revolusi Iran tahun 1979 dengan jatuhnya antek Inggris Shah Mohammed Reza Pahlevi.

Negera Eropa sepertinya  mendorong entitas Yahudi melakukan serangan dengan cara membekali Israel. Prancis dua tahun lalu telah meluncurkan satelit di atas kawasan itu untuk memata-matai Iran dan mensuplay Yahudi dengan citra dan informasi tentang situs-situs militer Iran dan instalasi serta aktivitas nuklir Iran. Jerman membekali entitas Yahudi dengan kapal selam yang mampu membawa rudal.

Upaya Inggris bekoordinasi secara militer dengan entitas Yahudi  ini semakin menguat. Menteri pertahanan Inggris Philips Hammond mengancam Iran kalau menutup selat  Hormuz.  Media Eropa pun  memanaskan keadaan dan  mengobarkan opini melawan Iran. Surat kabar The Guardian (3/11/2011) menyatakan militer Inggris mempercepat persiapan bagi kemungkinan dilakukannya operasi militer terhadap Iran dengan dalih kekhawatiran terhadap program nuklir Iran.

Tidak hanya itu, para pejabat Inggris secara intensif melakukan kontak dengan Israel belakangan ini.  Kantor berita Amerika United Press Internasional  (UPI) pada  2/11/2011 melaporkan kepala staf militer Inggris jenderal David Richard melakukan kunjungan rahasia ke Israel selama tiga hari. Sementara menteri pertahanan Israel Ehud Barak pergi ke Inggris pada 2/11/2011. Bersamaan dengan itu pembicaraan tentang opsi serangan militer Israel terhadap Iran semakin memanas.

Surat kabar Daily Mail Inggris  (10/11/2011 ) melansir ucapan pejabat Inggris yang menegaskan ada kesepahaman  dengan Israel untuk menargetkan instalasi nuklir Iran cepat atau lambat.  Media massa Israel pada awal bulan Nopember 2011 juga melansir pesawat tempur zionis telah melakukan manuver udara di salah satu pangkalan NATO di Italia. Manuver itu mencakup semua formasi udara yang mungkin dibutuhkan dalam serangan jangka panjang.

Dampak Serangan Militer

Untuk mewujudkan kepentingannya ini, Amerika berupaya membangun opini bahayanya serangan militer terhadap Iran , apalagi sampai memicu perang berkepanjangan. Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Amerika Serikat (AS), Martin Dempsey mengatakan bahwa keputusan berkonflik militer dengan Iran adalah sebuah keputusan yang ‘prematur’ dan memiliki efek yang tidak stabil pada keamanan dan ekonomi dunia.

“Konflik dengan Iran akan sangat tidak stabil, dan aku tidak hanya berbicara dari perspektif keamanan. Ini akan mendestabilisasi ekonomi,” kata Jenderal Dempsey dalam sebuah wawancara dengan National Jurnal, Kamis (26/1).
Ia mengatakan bahwa pilihan itu terlalu dini untuk diputuskan, walaupun pendekatan ekonomi dan diplomatik tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta mengatakan serangan militer ke Iran sangat mungkin menghasilkan konsekuensi yang tidak diharapkan.Panetta mengatakan hasil terbaik serangan militer hanya akan menghentikan program nuklir Iran untuk sementara maksimal selama tiga tahun.”Dan yang lebih penting, serangan militer bisa memberikan dampak serius untuk kawasan dan kekuatan Amerika Serikat di Timur Tengah,” kata Panetta kepada wartawan.

Panetta menambahkan serangan militer tetap dipikirkan sebagai opsi terakhir. Amerika Serikat, kata dia, lebih memilih pemberian sanksi yang lebih berat untuk Iran.”Sangat penting bagi AS untuk memastikan pemberian sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik yang lebih kuat terhadap Iran agar negara itu mengubah sikap,” kata Panetta.

Apalagi Iran mengancam akan menutup selat Hormuz yang  jelas akan mengancam lalu lintas minyak mentah  dunia. Hampir sepertiga pasokan minyak dunia melalui selat ini. Penutupan rute tersebut akan menimbulkan konsekuensi serius bagi perekonomian dunia. Meskipun kemudian Iran melunak dengan mengatakan itu hanya salah satu opsi. Iran tidak akan mencoba untuk memblokir Selat Hormuz kecuali jika kekuatan asing berusaha untuk “mengetatkan jerat” dalam pertikaian nuklir yang terus meningkat dengan Barat, kata  utusan Teheran untuk PBB, Kamis (19/1/2012).

Alhasil, monuver Amerika untuk memberikan sanksi terhadap Iran, tidak lain dalam rangka mencegah serangan militer sepihak Israel, mencegah campur tangan Eropa terutama Inggris untuk menggeser pengaruh Amerika di kawasan itu, dan menyelamatkan posisi Obama dalam pemilu presiden Amerika mendatang. Lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa dunia Islam hanya menjadi obyek permainan dari negara-negara besar ini. Hal ini disebabkan karena umat Islam memang tidak memiliki kekuatan politik untuk berhadapan  langsung secara terhormat dan berwibawa di depan negara-negara imperialis. Dan kekuatan politik ini akan terwujud kalau umat Islam memilik negara Khilafah yang akan menjadi negara adi daya baru dunia.  (Farid Wadjdi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: