DAVID CAMERON , SALESMAN PENDUSTA BARANG BUSUK DEMOKRASI


Juru bicara Hizbut Tahrir  Indonesia melihat ancaman dari demokrasi itu justru datang dari orang-orang penganut demokrasi itu sendiri.

Seperti halnya pemimpin Barat yang lain , Perdana Menteri Inggris David Cameron dalam pidatonya di Universitas Al Azhar Jakarta Kamis (12/4), kembali  menyerukan dunia Islam untuk merangkul demokrasi dan mengingatkan bahaya apa yang dia sebut sebagai esktrimisme Islam yang menolak demokrasi.

Cameron kemudian menjelaskan betapa berbahayanya ekstremisme: “Ekstrimis – di antaranya menggunakan kekerasan – ingin memaksakan kehendaknya. Dan di dalam kelompok ekstrim Islam, mereka mengesampingkan pendapat orang lain. Penolakan mereka atas perbedaan dan demokrasi, seolah-seolah menunjukkan bahwa demokrasi dan Islam tidak berjalan seiring”.

Untuk menggambarkan bahayanya para ekstrimis ini Cameron dengan kecanggihan propagandanya  mengaitkan kelompok ekstrimis ini dengan serangan-serangan teror yang pernah terjadi seperti serangan 9/11 di Amerika dan 7/7 di London, dan  Bali.  Cameron juga menyerukan pentingnya melawan kekerasan keji dan penganiayaan terhadap minoritas  Kristen dan Ahmadiyah.

Namun semakin banyak Cameron berpidato, semakin tampak kebohongannya dan semakin jelas bahwa dia adalah penipu ulung. Cameron mengkritik apa yang dia sebut sebagai kelompok ekstrimis yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknnya. Sementara negara-negara Barat menjajah dan menduduki negeri-negeri lain atas nama demokrasi .

Inggris bersama Amerika Serikat dan sekutunya, melakukan pembunuhan massal yang telah mengorbankan jutaan umat Islam di negeri-negeri yang mereka jajah seperti Irak dan Afghanistan . Korbannya tentu lebih besar dibanding dengan serangan 9/11 di  New York atau 7/7 di London. Bukan hanya membombardir satu petak jalan seperti Bali, tapi satu negara!

Bagaimana pula dengan dukungan habis-habis Inggris terhadap kekejian negara penjajah Zionis Israel yang telah membunuh jutaan kaum muslim di sana, sejak berdiri hingga berlanjut kini?  Dan perlu dicatat  negara-negara pembunuh massal itu  dikenal dan mengklaim diri mereka sebagai negara demokrasi. Lantas siapa sebenarnya yang mengancam dunia ?

Kepedulian Cameron terhadap kemanusiaan pun layak dipertanyakan.  Kalau dia bicara tentang perlu perlindungan terhadap minoritas seperti Kristen dan Ahmadiyah, bagaimana dengan perlindungan terhadap jutaan korban kaum Muslim di seluruh dunia mulai dari Irak, Afghanistan hingga Palestina. Bukankan mereka menjadi korban dari kebijakan negara-negara imperialis seperti Inggris ?

Siapa yang Mengancam?

Menjawab pidato Cameron ini, juru bicara Hizbut Tahrir  Indonesia melihat ancaman dari demokrasi itu justru datang dari orang-orang penganut demokrasi itu sendiri. “Lihatlah siapa yang menjadi penghancur paling kuat dari tatanan negara demokrasi itu sendiri. Misalnya yang terjadi di Irak, Afghanistan, itu siapa yang menghancurkan itu? Itu kan negara yang mengaku bahwa mereka adalah negara demokrasi. Termasuk juga Inggris,” ujarnya.

Ismail Yusanto pun mempertanyakan sikap Cameron yang mengajak menentang dan memusuhi kelompok yang tidak sejalan dengan demokrasi, yang menginginkan pemerintahan Islam. “Kalau demokrasi itu diartikan sebagai pemerintahan rakyat, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, sesungguhnya ya berpulang kepada rakyat, rakyat maunya apa, kan begitu. Termasuk bila rakyat berkehendak untuk tegaknya kembali sistem politik dan pemerintahan Islam, itu dibangun sebagai bagian dari keniscayaan demokrasi, kan begitu,” katanya.

“Begitu juga kalau demokrasi diartikan sebagai sebuah sistem yang menghargai kebebasan, berpikir dan berpendapat mestinya itu juga harus dianggap sebagai bagian dari demokrasi itu sendiri. Kebebasan orang untuk menjadi seorang Muslim yang sejati. Termasuk diekspresikan ke dalam gagasan-gasan politiknya, begitu.”

Menurutnya semua ini menggambarkan ironi dan kedustaan dari demokrasi itu sendiri. Satu sisi mengatakan bahwa demokrasi itu menjamin kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat. Tetapi ketika pemikiran dan pendapat itu sampai kepada sesuatu yang tidak disukai atau tidak dikehendaki oleh demokrasi itu maka kemudian demokrasi menjadi diktator juga, karena dia menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Namun lepas dari propaganda busuk sistem demokrasi, Inggris mendapat keuntungan ekonomi dari kehadiran Cameron di Indonesia.  Negara itu sukses menjual 11 pesawat Air Bus A330 yang penandatangannya dilakukan di depan SBY senilai US$ 2,5 milyar atau sekitar Rp 22,5 trilyun.  Meski bermarkas di Perancis, sejumlah bagian pesawat Airbus dibuat di Inggris. Salah satunya adalah mesin yang dipasok dari raksasa otomotif Inggris, Rolls-Royce.

Sebelumnya saat Obama datang ke Indonesia November 2011, Amerika sukses menjual pesawat Boeing senilai US$ 21,7 milyar atau sekitar Rp 195 trilyun untuk Lion Air. Penandatangan pembelian pesawat bikinan Amerika ini disaksikan oleh Presiden Barack Obama saat kunjungan ke Bali. Sementara Indonesia, gigit jari . Merasa puas dipuji  sebagai negara demokrasi yang sukses, sembari mendengar pidato penuh kebohongan Cameron dan Obama . Siapa yang bodoh? (Farid Wadjdi)

Taji Mustafa : Empat Point Kedustaan Cameron.

Mengomentari pidato Cameron , Taji Mustafa, perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris mengatakan: “Sementara dia dengan nyamannya berdiam diri atas dukungan Inggris bagi diktator otoriter seperti di Arab Saudi, ia membuat lukisan yang tidak lengkap tentang demokrasi dan mengkritik empat jenis orang yang menentangnya. ”

“Ketika dia mengkritik ‘para pemimpin otoriter ‘, dia tidak menyebutkan bahwa pemerintah Inggris justru terus menerus telah mendukung rezim semacam itu untuk mencapai tujuan-tujuan mereka sendiri.  Dia (Cameron)  justru mengundang ’Raja’ Bahrain yang otoriter dalam rangka perayaan ulang tahun Ratu Inggris; pada bulan Februari 2012 pemerintahnya berkunjung menemui Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, salah satu tiran paling brutal dan paling kejam di dunia. ”

“Ketika dia mengkritik ‘kelompok elite yang korup’ dengan mengakui kebenaran bahwa ‘korupsi berbahaya bagi  ekonomi dan politik rakyat’ dia tidak mengatakan bahwa pemerintah demokratis – dari mulai Westminster hingga Islamabad dan Dhaka – adalah pemerintahan yang memelihara korupsi. Dia tampaknya telah lupa bahwa bulan lalu seorang anggota senior partainya sendiri tertangkap kamera sedang ‘menjual’ undangan makan malam pribadi bersamanya kepada sekelompok elite  dari perusahaan Inggris, di mana mereka bisa memengaruhi kebijakan, jika mereka memberikan sumbangan untuk partainya. ”

“Ketika dia mengkritik ‘tribalis’, dia tidak mengatakan bahwa di Inggris dan Eropa tumbuh intoleransi rasisme dan kekerasan terhadap kaum minoritas – termasuk terhadap kaum Muslim dan imigran. Memang, semakin sedikit orang di Inggris yang tampak terganggu atas hal ini karena mereka semakin memperlakukan kaum Muslim sebagai warga negara kelas kedua, dengan menangkap beberapa orang Muslim selama beberapa tahun, tanpa ada tuduhan atau pengadilan atas mereka atau bahkan menunjukkan bukti-bukti kepada mereka. ”

“Ketika dia mengangkat isu ‘ekstremisme’, ia sengaja mencampur adukkan sejumlah kecil kasus yang mendorong kekerasan, dengan kasus dari mereka yang mempromosikan pemerintahan Islam sebagai sistem yang lebih baik dan lebih benar dari sistim demokrasi . Meskipun terdapat kelompok Islam  (seperti Hizbut Tahrir) yang  tidak melakukan kekerasaan dan tidak percaya pada kekerasan sebagai metode perjuangannya , namun Cameron tetap saja menginginkan pelarangan terhadap kelompok Islam yang ingin mempromosikan pemerintah Islam!”

“Sistem pemerintahan Islam, di bawah Khilafah, mendorong terpilihnya pemimpin yang bertanggung jawab; di mana agama-agama kaum minoritas mendapatkan perlindungan berdasarkan konstitusi. Hukum berasal dari syariah, sehingga hukum tidak dapat dipengaruhi oleh kaum elite korporasi; di mana aturan hukum adalah hal yang terpenting dan berlaku bagi semua orang- termasuk khalifah, di mana korupsi harus dibasmi, tidak seperti dalam sistem demokrasi yang malah mendorong hal itu “.

“Rakyat Indonesia, Malaysia dan di manapun bukan tidak menyadari kesalahan dari pidato itu – dan itulah alasannya mengapa semakin banyak orang di semua wilayah mendukung kembali atas pendirian kembali khilafah yang tidak terelakkan.” (Farid Wadjdi dari berbagai sumber)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: