Muslim Gujarat : Warga Kelas Dua Di Negeri Sendiri


Mereka mengungsi dan telantar, tanpa perhatian pemerintah.

Kerusuhan komunal tahun 2002 tidak hanya mendorong kaum Muslim ke dalam kampung-kampung kumuh kaum minoritas (ghetto) di seluruh negeri, tapi juga mengurangi status mereka menjadi warga negara kelas dua yang tidak tercatat di pemerintahan. Demikian  temuan dari LSM Janvikas yang melakukan survei tentang status komunitas minoritas di India setelah terjadinya kerusuhan.

Survei itu mengungkapkan kaum Muslim menjadi orang-orang buangan baru. Mereka  lebih sering ditolak untuk mendapatkan fasilitas mendasar yang disediakan dibanding komunitas lain. Korban kerusuhan diabaikan oleh pemerintah. Mereka tidak tercatat dalam data pemerintah sebagai orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Sedikit sekali upaya yang dilakukan untuk memukimkan mereka kembali dan memberikan mereka akses atas skema pemerintah, fasilitas kesehatan dan pinjaman. Sebanyak 16.000 kaum Muslim yang telantar akibat kerusuhan itu masih tinggal di barak-barak korban kerusuhan. Mereka tidak mendapat fasilitas yang paling dasar sekalipun.

Sebanyak 200.000 orang telah menjadi korban kerusuhan di seluruh negara bagian. Selama hampir dua tahun setelah peristiwa tahun 2002 itu masih banyak yang telantar. Namun, LSM-LSM dan organisasi-organisasi bantuan Islam telah menempatkan kembali sebanyak 16.087 orang di 83 barak bantuan yang berbeda. “Merekalah orang-orang yang tidak dapat atau tidak berani pulang kembali ke tempat tinggal asalnya dan telah tinggal di tempat penampungan selama 10 tahun terakhir,” kata Vijay Parmar, CEO Janvikas.

“Kondisi para janda sangat rentan karena mereka tidak memiliki jaminan ekonomi atau sosial,” kata Khatunben, penduduk Nagar, sebuah koloni bantuan di Ahmedabad.

Disamping itu ada penurunan tajam dalam pendapatan dari hampir setiap individu pengungsi. Survei mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan rata-rata pengungsi Muslim di Ahmedabad telah turun sebesar 31 persen dibandingkan dengan pendapatan mereka sebelum terjadinya kerusuhan. Demikian pula, pendapatan pengungsi Muslim di Anand telah menurun 30 persen dan bahwa di Bharuch turun sebesar 21 persen.

Rumah-rumah di mana para pengungsi itu telah tinggal sejak tahun 2002 belum secara resmi dipindahkan namakan kepada mereka. Para korban kerusuhan itu khawatir tentang hal ini karena mereka takut mereka akan dipaksa untuk pindah lagi. “Kami telah tinggal di rumah-rumah itu namun belum memiliki akte kepemilikan rumah atas nama kami. Pemerintah dapat memaksa kami keluar dari rumah ini lagi,” kata seorang penduduk koloni.( fw/rz/sumber:  http://www.dnaindia.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: