Umat Islam Denmark Tolak Asimilasi


Kaum muslim Denmark menolak upaya pemerintah melakukan asimilasi. Program pembauran yang  menuntut muslim untuk menerima nilai-nilai Eropa dianggap akan menghancurkan identitas keislaman muslim Denmark terutama para pemuda. Hal ini ditegaskan juru bicara Hizbut Tahrir di Denmark dan Skandinavia,  Chadi Freigeh.“Kami ingin mempertahankan identitas kaum Muslim. Oleh karena itu, kami menentang upaya asimilasi kaum Muslim ke dalam masyarakat Denmark,”tegasnya.

Namun Freigheh menambahkan  bukan berarti kaum Muslim tidak perlu bekerja sama dengan non-Muslim. Akan tetapi, yang ditentang adalah pemaksaan gaya hidup ideologi kapitalisme terhadap kaum Muslim di Denmark. Ia  mengecam  kebijakan jaminan sosial terbaru dan kampanye kabinet terhadap kontrol sosial pada keluarga minoritas.  Menurutnya , hal ini mencerminkan pemaksaan. Chadi Freigeh  juga mengecam pemerintah Denmark – dengan alasan memerangi ekstrimisme pemuda Islam-  membujuk lewat klub-klub para gadis dan hiburan murahan.

Chadi Freigeh menyampaikan hal itu dalam wawancara khusus dengan anggota HT Denmark dengan Karen Haekkerup  yang dipublikasikan  Situs surat kabar “Kristeligt Dagblad” . Disamping Chadi Freigeh  , Karen mewancara Ejaz Ahmed  (28 tahun) mahasiswa Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Lund dan Universitas Copenhagen Business School  dan Elijah Lamrabet (22 tahun) seorang mahasiswa Kedokteran.

Hizbut Tahrir (HT) merupakan salah satu kelompok Islam yang paling banyak mendapat sorotan di negeri itu. HT sempat dituduh mendukung kekerasan dan penggulingan rezim. Sejumlah politisi menghendaki  HT dilarang seperti di Jerman. Namun, kajian Jaksa Agung Denmark menyimpulkan Hizbut Tahrir tidak terbukti menggunakan kekerasan atau kejahatan apapun dalam dakwahnya.

Ejaz Ahmed  yang lahir dan dibesarkan di Denmark merupakan keturunan Pakistan. Ia menjadi aktivis Hizbut Tahrir sejak berusia 18 tahun.  Menurutnya Hizbut Tahrir menyerukan ide Khilafah yang akan  menyatukan kaum Muslim di bawah satu kepemimpinan politik. Sementara Hizbut Tahrir di Denmark bertujuan membela kepentingan kaum Muslim termasuk menolak program asimilasi. “Saya bertemu salah satu anggota Hizbut Tahrir, dan saya tertarik dengan apa yang diperjuangkannya,” ujarnya.

Ejaz enggan mengungkapkan jumlah anggota Hizbut Tahrir.  “Sama saja, apakah jumlah kami dua atau tiga puluh anggota, itu tidaklah penting. Namun yang penting adalah masalah nilai-nilai yang kami dakwahkan,” ujarnya.

Tentang Chadi Freigeh, Karen menggambarkan dirinya  sebagai sosok yang  berbicara lancar dan halus. Intelektualitasnya tampak  menonjol  dengan sering menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Menurutnya masyarakat Barat konsisten menyamakan Islam dan terorisme. Seperti pembantaian “Breivik” di Norwegia. Pada awalnya semua orang mengira umat Islam berada di balik itu.

Saat itu, tidak seorang pun membayangkan pelakunya ternyata Norwegia berkulit putih.  Ketika tersang bukti pembantai berkulit putih, dia hanya dijuluki anti-demokrasi. Tanpa mengkaitkan dengan pemikiran dan budaya Barat. Tentu berbeda kalau pelakunya  seorang Muslim . Langsung dituduh teroris dan mengkaitkannya dengan Islam.

Ketika ditanya kenapa menentang partisipasi kaum Muslim di Denmark dalam pemilu dan menuntut penghapusan demokrasi, Freigeh balik bertanya : “Kami ingin pertanyaan Anda lebih spesifik, seperti  anda bertanya kepada kami apa itu demokrasi? Jika Anda bertanya  apakah kami mendukung keberadaan otoritas peradilan yang independen,  pemberian hak perempuan untuk memilih, maka jawabannya adalah ya,  karena Islam telah menempatkan prinsip-prinsip ini sebelum 1400 tahun. Namun, kami tidak mendukung pemerintah sekuler yang memisahkan agama dari masyarakat.”

Menurut Freigeh ada perhatian yang terus bertambah pada Hizbut Tahrir karena pergolakan di Timur Tengah (Arab Spring). “Muncul kebencian kepada para penguasa Arab, krisis ekonomi dan ekonomi pasar di Barat secara keseluruhan, dan  kami juga melihat perhatian besar pada Hizbut Tahrir di antara warga Denmark yang memeluk Islam.”

Sementara Ejaz Ahmed menambahkan: “Revolusi di Timur Tengah telah menunjukkan masyarakat menginginkan Islam. Hal  ini akan memudahkan jalan menuju Negara Khilafah yang sedang kami perjuangkan.”

Berkaitan dengan krisis ekonomi Eropa, Ejaz membandingkan antara orang-orang Eropa pada abad ke-18 dengan kaum Muslim. Ia mengatakan: “Eropa pada abad ke-18 sedang dalam kemajuan, sementara kaum Muslim dalam kemunduran. Akan tetapi saat ini yang terjadi sebaliknya.”

Elijah menambahkan : “Ketika “Das Kapital”nya  Karl Marx berakhir,  ada sinyal bahwa kita membutuhkan beberapa jawaban. Sedang Islam menyediakan semua solusi untuk masalah-masalah ekonomi dan sosial saat ini.”

Ketika ditanya kenapa mengkritik demokrasi, sementara hidup dan bekerja di Denmark, Freigeh menjawab :  “Tujuan kami yang utama mempertahankan dan memperkuat identitas Islam di Denmark. Kami sebagai kaum Muslim di Denmark merupakan bagian dari komunitas umat Islam. Karena itu kami memiliki kewajiban yang penting untuk memberikan gambaran tentang Islam kepada masyarakat umum di Denmark.” (Farid Wadjdi dari berbagai sumber)

Box : Tidak Terbukti Bersalah

“The Copenhagen Post” Sabtu (9/4/2011) mempublikasikan hasil penyelidikan polisi tentang Hizbut Tahrir. Kelompok Islam ini tidak terbukti melakukan pelanggaran hukum dalam pertemuan januari 2011. Pertemuan itu sendiri menekankan kewajiban kaum Muslim melakukan perlawanan bersenjata di Afghanistan dan negara-negara sekitarnya. Hal ini  menuai kecaman dari para politisi. Apalagi, Hizbut Tahrir dalam undangannya meletakkan foto peti mati tentara negara-negara Skandinavia yang sedang pulang ke negaranya dari perang.

Sementara  itu Kejaksaan Denmark menolak tuntutan sejumlah anggota parlemen agar organisasi Islam Hizbut Tahrir yang ada di Denmark dibubarkan. Menurut Kejaksaan Denmark tidak ada alasan hukum yang bisa digunakan untuk membubarkan Hizbut Tahrir cabang Denmark. “Sepanjang organisasi ini tidak melakukan tindak kekerasan atau tindakan-tindakan lainnya yang melanggar hukum, sah-sah saja mengkampanyekan sebuah sistem yang secara mendasar sangat berbeda dengan sistem yang kita miliki di Denmark, ” kata jaksa Joergen Steen Soerensen dalam pernyataannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: