‘Muslim Cleansing’ Rezim Budha Myanmar


Tanpa Khilafah, umat Islam terus mengalami penderitaan, seperti nasib  umat Islam Rohingnya yang mengalami penderitaan panjang tanpa pelindung.

Dalam krisis terbaru, menurut surat kabar pemerintah New Light of Myanmar lima puluh orang tewas dan 54 orang cedera dalam bentrokan antar-masyarakat di Myanmar barat. Jumlah korban jiwa meningkat akibat kerusuhan itu, lebih dari 30 ribu orang mengungsi. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih dari itu, mengingat pemerintah Myanmar—juga dikenal sebagai Burma—cenderung menutup-nutupi peristiwa ini.

Konflik baru ini dipicu oleh tudingan pemerkosaan yang dilakukan oleh Muslim. Menyusul hal itu terjadi penyerangan yang sistematis terhadap umat Islam. Segerombolan warga Budha pada 4/6/2012 menyerang sebuah bus yang membawa peziarah kaum Muslim dari Arakan. Sembilan Muslim terbunuh.

Konflik terus memanas. Pihak keamanan Myanmar cenderung mendiamkan terjadi pembantaian, bahkan terlibat melakukan kejahatan. Sumber-sumber Rohingnya melaporkan 10 Muslimah Rohingnya diperkosa pada Kamis 14/6 oleh tentara rezim budha. Korban pemerkosaan ini antara lain Hamidah (18 tahun), Rahena (19 tahun), Baggona Hasina (18 tahun), Nur Kaida (17 tahun).

Tentara juga menjarah desa-desa yang didiami Muslim Rohingnya. Mereka merampok uang, emas, dan perak dari penduduk desa. Militer juga memeras penduduk untuk membayar mereka, kalau tidak mereka akan dibunuh.

Sebanyak 12 kantong mayat Muslim Rohingya terlihat di bawah jembatan yang menghubungkan bangsal 5 dan nomor 3 di Maungdaw. Kaki mayat terlihat di atas air. Ketika penduduk Rohingya berusaha mengambilnya, polisi yang datang.

Pada Sabtu (16/6), aparat keamanan justru menangkapi Muslim Rohingnya dengan tuduhan teroris di Maungdaw.  Beberapa yang ditangkap antara lain Younous, Ketua Asosiasi Pembangunan Daerah (RDA) , Kaseim bin Rahim Ullah, Berahaman bin Hussein, Molana Islam, Anis Ullah putra Molana Rashid, Ahmed Rafique bin Syed Islam.

Pada hari yang sama, sumber-sumber dari Muslim Rohingnya juga melaporkan petugas keamanan membakar rumah-rumah penduduk Thayai Gonetan  dan menjarah harta-harta mereka sebelum dibakar.

Kejahatan Sistematis ‘Muslim Cleansing’

Tudingan pemerkosaan sesungguhnya hanyalah pemicu saja. Penyerangan terhadap umat Islam Rohingnya sebelumnya secara massif sering terjadi. Hal itu dilakukan oleh masyarakat Budha atau pihak keamanan.  Gerombolan yang menyerang justru dilindungi oleh aparat keamanan. Rezim Budha secara sistematis memprovokasi masyarakat menyerang umat Islam dengan membangun opini buruk terhadap Muslim Rohingnya.

Tidak lama setelah penyerangan terhadap bis yang membawa Muslim Rohingnya muncul, provokasi jahat pun diarahkan kepada Muslim Rohingnya. Beredar komentar yang di internet “Membunuh Kalars adalah baik!” Kalars adalah kata ejekan yang populer untuk merendahkan kaum Muslim keturunan Asia Selatan.

Sikap permusuhan ini ditampakkan oleh tokoh-tokoh senior pemerintahan—yang merupakan perwakilan Myamnar di PBB, Ye Myint Aung. Dia pernah menggambarkan Rohingya, minoritas Muslim di negara bagian Arakan yang menjadi sasaran perlakuan kejam, sebagai ” raksasa yang jelek”. Sejak 1982 pemerintah menghalangi Muslim untuk mendapatkan kewarganegaraan, dan mengklaim mereka sebagai “imigran Bengali yang ilegal “.

Penganiayaan dan perendahan martabat terhadap Muslim Rohingnya telah berlarut-larut dan terjadi dalam waktu yang lama. Tidak heran kalau,  Medicins San Frontieres menggambarkan Muslim Rohingnya sebagai salah satu kelompok minoritas dunia “yang paling terancam punah”.

Rezim Budha ini juga melakukan proyek ‘Burmaisasi’. Memaksa orang Muslim menjadi orang Burma. Dengan cara yang sangat keji antara lain melakukan pemerkosaan secara sistematis terhadap Muslimah Rohingnya oleh pasukan keamanan agar bayi yang lahir dari Muslimah Rohingnya menjadi etnis Burma. Muslim Rohingnya juga dipaksa belajar bahasa Myanmar di sekolah-sekolah etnis.

Sebaliknya, pasangan Muslim Rohingya  dipersulit untuk menikah. Umat Islam harus membuat permohonan terlebih dulu sebelum menikah. Namun, seringkali pemerintah menolak. Kebijakan ketat dua anak juga diperuntukkan bagi Muslim Rohingya untuk menekan populasi Muslim.  Kelompok HAM mengatakan rezim Myanmar memang secara sengaja dan perlahan berusaha memusnahkan Muslim Rohingnya.

Di masa pemerintah sipil Unu pasca kolonial awal tahun 1950an, Kongres Muslim Burma diusir dan menjadikan Budha agama negara. Muncullah diktator pertama Myanmar, Ne Win, yang menggunakan propaganda anti-Muslim yang kuat selama pengusiran massal orang-orang India pada tahun 1960an. Dia mencap puluhan ribu orang yang dibawa untuk bekerja oleh Inggris sebagai kaki tangan kolonial dan mengeksploitasi sentimen anti-Islam untuk melarang Muslim menjadi tentara.(Farid Wadjdi dari berbagai sumber)

Box : Arakan Negeri Islam Sejak Khilafah Harun Al Rosyid

Tudingan bahwa Muslim Rohingnya merupakan imigran asing merupakan tuduhan palsu yang dicari-cari. Muslim Rohingnya yang merupakan 20 persen dari 55 juta penduduk Burma merupakan penduduk asli di provinsi Arakan dan menjadai warga mayoritas di sana.

Provinsi Arakan adalah negeri Islam. Islam telah masuk ke provinsi itu  pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid,   abad ke-7 Masehi. Dan dari provinsi Arakan inilah Islam menyebar ke seluruh penjuru Burma. Kaum Muslim telah memerintah wilayah ini selama lebih dari tiga setengah abad, yaitu antara (834 – 1198 H atau 1430 – 1784 M).

Raja Burma yang beragama Budha kemudian menduduki wilayah Arakan. Mulailah terjadi pembunuhan atas kaum Muslim, penghancuran harta bendanya, dan mengirim Muslim Rohingnya  ke penjara-penjara. Akibatnya tidak sedikit dari mereka yang meninggal dan mengungsi. Pada tahun 1824, kaum kolonialis Inggris datang dan menduduki negeri itu, kemudian memasukkannya  ke pemerintah kolonial Inggris di India.

Pada tahun 1937 Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Burma (yang saat itu merupakan koloni Inggris yang terpisah dari pemerintah Inggris di India). Untuk menundukkan kaum Muslim, agar bisa dikuasai dan dijajah, Inggris mempersenjatai umat Budha. Mulailah terjadi terjadi penyerangan terhadap umat Islam pada tahun 1942.

Mereka membantai kaum Muslim dengan brutal hingga lebih dari 100 ribu kaum Muslim meninggal, yang sebagian besar perempuan, orang tua dan anak-anak. Serangan umat Budha yang kejam dengan dukungan Inggris telah membuat ratusan ribu kaum Muslim mengungsi ke luar negeri. Kemudian, umat Muslim mengalami pembantaian baru menyusul kudeta militer tahun 1962, dengan kekuasaan bercorak komunis yang didukung Cina dan Rusia.

Rezim yang baru ini sangat berambisi menghabisi Islam di Burma. Mereka mengusir lebih dari 300 ribu kaum Muslim ke Bangladesh. Pada tahun 1978 lebih dari setengah juta kaum Muslim diusir dari Burma. Pada tahun 1982, ada operasi penghapusan kebangsaan kaum Muslim karena dinilainya sebagai warga negara bukan asli Burma. Pada tahun 1988 lebih dari 150 ribu kaum Muslim mengungsi. Pada tahun 1991 lebih dari setengah juta kaum Muslim juga mengungsi.

Meskipun demikian umat Islam Rohingnya masih berpegang teguh dengan agama mereka. Penganiayaan, penyiksaan dan ketidakadilan menimpa mereka di semua tingkatan, bahkan pembunuhan dan pembantaian tak menggerus keimanan mereka. Umat Islam termasuk Muslim Rohingnya tidak punya pilihan lain kecuali kembali menegakkan Khilafah yang akan melindungi umat Islam termasuk Muslim Rohingnya. Seperti di masa Khalifah Harun ar Rasyid. Saat gemilang ketika Muslim Rohingnya mendapatkan ketentraman, keadilan, dan keamanan sejati. (FW/RZ)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: