Rezim Assad Semakin Melemah, Barat Sibuk Mencari Pengganti


Amerika Semakin Khawatir dengan Perkembangan Suriah, Karena Rakyat Suriah Cenderung Menolak intervensi  Asing dan menginginkan Pemerintahan Islam

Rezim bengis Basyar Assad kelihatan semakin melemah. Adanya pembicaraan intensif antara Rusia dan Amerika untuk menentukan masa depan Suriah mengindikasikan hal itu.  Tanda-tanda itu diperkuat dengan pengumum kantor berita Interfax Rusia tentang dua kapal Rusia berlayar menuju Suriah. Kehadiran kapal ini mendekati wilayah perairan Suriah ditujukan untuk melindungi warga dan kekayaan milik Rusia di sana.

Sementara itu rezim Basyar terus berusaha untuk menutupi kelemahannya dengan meningkatkan perang terhadap rakyatnya sendiri. Bashar ingin menunjukkan bahwa dirinya masih kuat dengan menakut-nakuti rakyatnya.

Iran juga berusaha memperkuat Basyar yang sudah lemah dengan memunculkan informasi palsu adanya monuver  bersama China, Rusia, dan Iran yang melibatkan sejumlah tentera untuk memperkuat rezim ini. Namun rakyat Suriah tidak lagi memiliki rasa takut dihadapan pemimpin bengis seperti Basyar.

Saat ini Amerika dan Rusia sendiri sibuk mencari model transisi  Suriah yang tetap menguntungkan mereka. Menlu AS Hillary Clinton menggelar pertemuan pendahuluan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov di St Petersburg.  Konferensi membahas penyelesaian damai krisis di Suriah, yang digagas utusan PBB untuk Suriah Kofi Annan, akan dibuka Sabtu (30/06) di Jenewa, Swiss.

Barat sendiri tampaknya lebih cenderung kearah model transisi Yaman. Dimana Wakil presiden Yaman, Abd al-Rab Mansur Hadi menjadi penjabat presiden menggantikan Saleh lewat pemilu rekayasa yang sudah ditentukan pemenagnya. Transisi yang didukung oleh negara regionalnya seperti Saudi ini berjalan mulus tanpa perlawanan berarti dari rakyat. Saleh pun tampak aman tidak tersentuh.

Pemilu yang diadakan pada Februari 2012, dimenangkan secara telak oleh al-Hadi, yang mengawasi pembentukan konstitusi baru dan seharusnya akan menjabat hanya dua tahun hingga pemilu yang benar-benar bebas dapat dilakukan

Kekhawatiran Amerika

AS awalnya terjebak dengan posisinya bahwa Assad adalah seorang reformis dan harus diberi waktu melakukan reformasi, ketika negara-negar Eropa menyerukan penggulingannya. Namun saat pembantaian yang dilakukan rezim itu terungkap ke seluruh dunia, posisi mereka menjadi tidak bisa dipertahankan. Amerika Serikat berusaha untuk menampilkan Dewan Nasional Suriah (SNC) dan Komite Koordinasi Daerah (LCC) sebagai alternatif-alternatif. Namun, kelompok-kelompok itu memiliki sedikit dukungan dari massa dan pemberontakan terus terjadi.

AS terus menunda pergantian kekuasaan hingga mereka bisa membangun sebuah alternatif bagi al-Assad. AS bisa menggunakan Rusia dan misi pengamat dari Liga Arab untuk menunda pergantian kekuasaan yang sesungguhnya. Dengan memanfaatkan dukungan Rusia bagi rezim Suriah, AS menampilkan negara-negara Eropa dan dirinya di satu sisi yang menyerukan al-Assad untuk hengkang sementara Rusia dan Cina di sisi lain berusaha mempertahankan Assad. AS melakukan ini sambil menjaga al-Assad berkuasa karena mereka masih mencoba untuk membangun Suriah tanpa Assad.

Meskipun pilihan berat, ada kecendrungan AS sekarang secara terbuka menyerukan intervensi militer sebagai pilihan. Dalam pernyataan pentingnya pada bulan Mei 2012, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey mengatakan: “Pentagon siap melakukan opsi intervensi militer untuk mengakhiri kekerasan di Suriah.” Namun, AS telah gagal dalam membangun seorang pemimpin alternatif penggati al-Assad

Hal ini tidak lain karena kepentingannya sedang terusik. Mengingat ada kecendrungan  umat di Suriah menolak perpanjangan tangan Amerika. Umat Islam sedang bekerja untuk menggantikan Assad dengan pemerintahan Islam yang tulus.

Di sisi lain, Rezim Assad belum mampu memadamkan pemberontakan di Homs, Hama, dan Idlib-yang telah mencapai wilayah pinggiran Damaskus – tempat bercokolnya rezim. Hal ini membuat AS serta rezim al-Assad khawatir sehingga terjadi pembantaian seperti Qubair dan Houla karena rakyat Suriah akan menggantikan Assad dengan pemerintahan yang tulus dan bukan pemerintahan boneka.

Dalam perkembangan terakhir kita melihat bahwa bukan rakyat Suriah melainkan AS dan Eropa yang terus-menerus menyoroti kemungkinan perang saudara. Jika terjadi perang saudara akan merupakan perang antara Sunni dan Alawi dan akan membelokkan tujuan untuk menggulingkan rezim Assad.

Hal ini tidak hanya akan memberi AS lebih banyak waktu untuk membangun rezim pasca al-Assad – suatu strategi AS yang digunakan di Irak- melainkan juga akan menjadi dalih intervensi asing. Ini sudah dapat dilihat saat Barat menuduh gerilyawan asing yang mendukung Tentara Pembebasan Suriah sekaligus menodai perjuangan FSA. Tuduhan yang sama terhadap  mujahidin Sunni di Irak yaitu dengan mengatakan mereka dibantu oleh al Qaeeda. (Farid Wadjdi dari berbagai sumber)

Box : Menolak Internvensi Asing

Berbagai model transisi yang ditawarkan Barat sesungguhnya merupakan upaya mereka untuk membelokkan revolusi Arab (Arab Spring). Barat tidak ingin perubahan Timur Tengah lepas dari kendali mereka. Sementara mereka melihat besarnya keinginan rakyat Arab untuk membebaskan diri dari rezim diktator baik yang sekuler maupun monarki tribal yang mengatasnamakan agama.

Di Mesir dan Tunisia Barat menawarkan konsep negara madani (negara sipil) lewat pemilu yang demokratis.  Negara Madani yang intinya adalah negara sekuler namun tetap dikontrol oleh militer. Dengan tawaran ini Barat berusaha menjauhkan kaum muslimin dari cita-cita sejati mereka untuk menegakkan pemerintah Islam (Khilafah).  Sadar bahwa semangat keisalmanan  yang kuat dari rakyat,Barat memanfaatkan partai-partai Islam yang telah dikebiri ideologinya agar sejalan dengan Barat.

Namun semuanya ini akan gagal. Sebab akar utama problem di Timur Tengah adalah sistem sekuler yang dikawal oleh rezim diktator dan intervensi asing . Sementara model Yaman, Libya, maupun Mesir, tidak merubah apa-apa kecuali sekedar pergantian rezim. Sistemnya masih sekuler dan intervensi asing masih kuat melalui militer yang dikooptasi oleh Barat .

Intervensi asing dan penjajahan akan tetap berlangsung di negeri Muslim, selama kaum muslimin masih mau berkerjasama dengan negara-negara penjajah itu. Menerima bantuan asing apapun bentuknya merupakan  pengkhianatan dan bunuh diri politik.

Amerika dan Rusia, keduanya adalah pihak yang sangat dengki kepada kaum Muslim.  Kejahatan-kejahatan keduanya menjadi saksi atas keduanya di Chechnya, Serbia, Irak, dan Afganistan . Untuk selamanya,  keduanya tidak boleh menjadi hakim pemutus dalam menyelesaikan masalah kaum Muslim.  Memenuhi tawaran mereka adalah pengkhianatan kepada Allah, agama-Nya dan kaum Muslim.

Jalan satu-satunya membebaskan kaum muslim dari penderitaan dan sebagai titik awal kebangkitan umat Islam adalah kembali ke jalan Islam.  Bukan menerima negara madani yang intinya sekuler, tapi membentuk khilafah Islam.  Negara syari’i yang akan menyatukan kaum muslimin di seluruh kawasan Timur  Tengah dan Dunia. Negara yang akan membebaskan negeri-negeri Islam dari penindasan Barat. (Farid Wadjdi)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: