Saudi Butuh Perubahan Mendasar


Keturunan Saud menginginkan Saudi bergerak ke arah liberal sebagaimana di Barat.

Sejak peristiwa 11/9, Arab Saudi melakukan beberapa kali pemolesan wajah  untuk memperbaiki citranya di kancah internasional. Sebagai sekutu lama Barat dan negara yang oleh banyak pengamat politik disebut-sebut sebagai negara yang tegar dan berkuasa di antara negara-negara Arab lainnya yang mengalami Arab Spring, Arab Saudi telah berusaha memoles wajahnya melalui reformasi di berbagai aspek perekonomian nasional, sistem sosial, dan pengadilan.

Baru-baru ini, para komentator memberikan tanggapan  terhadap gagasan  Putri Basma Binti Saud Bin Abdul Aziz. Putri Raja Saud, anak mantan penguasa negara itu, mengajukan sejumlah daftar perubahan yang diperlukan Kerajaan bagi kemajuan. Dia menyerukan melanjutkan kemajuan pembangunan ke arah yang sama dengan perkembangan yang dibuat oleh ayahnya.

Dia menyerukan perubahan dalam konstitusi dan penghapusan hukum yang berdasarkan penafsiran Alquran di mana konstitusi “harus terinspirasi oleh filosofi Alquran dengan prinsip-prinsip yang tidak lagi bisa berubah dan tidak terbuka bagi keinginan individu hakim seperti yang terjadi sekarang.”

Sistem di Saudi merupakan campuran yang ‘aneh’   dari kebiasaan pra-Islam, hukum buatan manusia dan hukum Islam. Saudi menggunakan istilah-istilah khusus untuk membedakan antara hukum Islam dan hukum buatan manusia. Dalam sebuah buku berbahasa Arab tentang konstitusi Arab Saudi, penulisnya  menyatakan, ‘Kata undang-undang  (qanun)’ dan ‘Legislasi (Tasyri’) ‘hanya digunakan di Saudi untuk merujuk pada aturan yang diambil dari Syariah Islam .. … Sedangkan hukum buatan manusia adalah seperti pada Sistem-sistem ‘(Andzimah) ‘atau’ instruksi (Ta’limat) ‘atau’ Fatwa (Awamir) ‘”. …… Dengan menyingkirkan sedikit hukum Islam yang saat ini masih diterapkan berarti menambah teka-teki tentang kerajaan ini dengan pandangan terbatas dari para penguasa Saudi .

Basma menjelaskan bagaimana sistem pendidikan saat ini di Saudi memaksa patuhnya kaum wanita dalam masyarakat. “Mereka benar-benar mengajarkan bahwa jika seorang wanita harus menyembah kepada siapapun selain Allah maka dia seharusnya menyembah kepada suaminya, dan bahwa para malaikat akan mengutuknya jika dia tidak tunduk pada kebutuhan suaminya,” ujarnya.

Bagi seseorang yang tinggal di Inggris,  tidaklah  mengejutkan kalau Basma meminta Saudi untuk lebih mendekat ke Barat. Warisan  Arab Saudi terletak pada Islam. Namun sejak jatuhnya Khilafah Usmani, para pemimpin Saudi yang berkuasa semakin menjauh dari Islam, meskipun beberapa hukum sosial Islam masih ada.

Masalah Mendasar

Sesungguhnya Saudi memiliki masalah-masalah mendasar yang solusinya harus muncul dari Islam. Pertama, perubahan konstitusi. Tidak diragukan lagi Islam menyatukan mayoritas rakyat di Arab Saudi,  di mana 97 persen dari populasi adalah Muslim. Dengan demikian wajar bila konstitusi baru didasarkan pada Alquran dan Sunnah. Jika memiliki konstitusi Islam tetapi hanya menjadi penghias di bibir saja maka hal ini pasti akan membuat Kerajaan Saudi—yang memiliki sumber daya paling strategis di dunia berupa minyak—tidak memiliki kedudukan di mata internasional.

Kedua, sistem perwakilan (representasi), akuntabilitas dan supremasi hukum. Konstitusi harus dengan jelas menyatakan adanya kewajiban bagi partai-partai politik dan pembentukan majelis umat. Mekanisme ini akan memungkinkan terkontrol dan terorganisirnya sistim representasi, dan akuntabilitas jika terjadi perselisihan.

Ketiga, ekonomi, pekerjaan dan pertumbuhan. Saat ini Arab Saudi, seperti juga banyak negara-negara lain di wilayah itu, memilik persoalan ekonomi yang tidak seimbang. Mereka hanya bergantung  pada sejumlah sumber daya fosil. Di sisi lain, Saudi hanya memiliki sedikit komplek industri dan akibatnya tidak mampu menciptakan pekerjaan. Cadangan minyak Saudi adalah milik umat di mana menurut aturan Islam, itu merupakan hak milik publik dan karena itu harus digunakan untuk melakukan lompatan pembangunan ekonominya. Saudi memiliki lapangan minyak terbesar di dunia yang terdiri atas cadangan yang lebih dari 262 milyar barel, yang merupakan terbesar di dunia. Kekayaan minyak ini harus digunakan untuk mengembangkan industri manufaktur setempat dan menciptakan lapangan pekerjaan yang beragam dan pertumbuhan ekonomi.

Keempat, keamanan/pertahanan independen. Menurut syariah,  tidak ada kedaulatan atas sebuah bangsa kecuali jika negara itu dapat mengamankan perbatasannya dan mandiri dalam hal ini. Negara monarki itu telah menjual jiwanya kepada Amerika Serikat. Karena itu, ikut campur militer Barat harus dihapuskan.

Kelima, Islam telah rinci aturan yang jelas tentang hak-hak perempuan. Ini adalah sesuatu yang jelas diatur dalam Islam. Islam meningkatkan status kemuliaan kaum wanita dibanding saat mereka di zaman jahiliyah. Sementara  Saudi masih berpegang pada banyak konsep jahiliyahnya yang secara jelas dilarang Islam. Dengan mematuhi aturan Islam, hak kaum wanita dilindungi dan  hal yang sangat penting  dalam masyarakat, yakni ibu, dapat memenuhi perannya.

(Zainab Ismail; sumber : www.khilafah.com,20/4/2012)

Box : Saudi Menuju Masyarakat Liberal

Kantor Berita HT (8/3/2010)  memublikasikan keinginan  Menteri Luar Negeri Saudi , Pangeran Saud al-Faisal untuk menjadikan Saudi menjadi lebih liberal. Dalam wawancara dengan surat kabar Amerika, New York Times tentang persepsinya untuk masyarakat Saudi dan yang harus dilakukannya Pangeran Saud al Faisal menyatakan:  “Masyarakat Saudi sedang menuju untuk menjadi masyarakat liberal yang berbeda dengan apa yang terjadi di masyarakat Israel.”

Lebih lanjut al-Faisal berkata: “Kita sedang bergerak menjauh dari batasan-batasan masa lalu, dan bergerak ke arah masyarakat liberal. Sementara apa yang sedang terjadi di Israel adalah sebaliknya, mereka menuju kebudayaan dan politik yang sangat kental dengan agama.” Ia menambahkan: “Bahwasannya lembaga-lembaga keagamaan di Israel itulah yang membunuh semua upaya untuk mencapai perdamaian.”

Menteri Luar Negeri Saudi menginginkan perdamaian dengan negara Yahudi. Bahkan ia menganggap para tokoh agama Yahudi sebagai penghambat untuk mencapai perdamaian. Ia juga menginginkan rakyat Saudi untuk mengubah agama mereka kepada liberalisme kapitalisme, karena agama adalah bagian dari masa lalu harus dibuang. Demikian ocehan gila yang keluar dari mulut sang Menteri.

Jika ini merupakan pandangan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, maka di manakah sikap para syeikh dan ulama yang selalu memuji rezim penguasa, bahkan mereka menyebutnya dengan sistem Islam, dan menganggap penguasanya sebagai waliyul amr (pemimpin) kaum Muslim?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: