Pengakuan Negara Palestina, Penyesatan Politik


ImagePengakuan Palestina menjadi negara tidak akan membawa perubahan yang signifikan, hanya sekadar memperpanjang penderitaan rakyat Palestina

Peningkatan status Palestina dari ‘entitas’ menjadi negara anggota tidak akan membawa perubahan yang nyata bagi Palestina. Status baru ini tidak lebih dari sekadar penyesatan politik yang akan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.

Pangkal persoalan di Palestina sesungguhnya adalah keberadaan ‘entitas’ Zionis Yahudi yang telah menjajah Palestina,mengusir, dan melakukan pembunuhan massal terhadap umat Islam di sana.

Segala bentuk solusi yang tidak mengarah kepada persoalan pokok ini yaitu mengusir keberadaan penjajah di sana, bukanlah solusi yang sejati. Solusi selain ini sekadar untuk kepentingan elite politik Arab dan upaya memperpanjang penjajahan Palestina. Sekadar memberikan harapan-harapan palsu lewat perdamaian dan janji kemerdekaan.

Sebagaimana diketahui, Sidang Majelis Umum PBB, Kamis, 30 November 2012 dengan suara mayoritas mengesahkan peningkatan status Palestina di PBB dari “kesatuan/entitas” jadi “negara non-anggota”. Peningkatan status ini menjadi pengakuan simbolis dan tersirat badan dunia itu terhadap negara Palestina.

Pengakuan Palestina menjadi negara merupakan bagian dari langkah usulan Amerika terhadap problem Palestina yaitu adanya dua negara merdeka di Palestina (two states solution) dengan batasan negara berdasarkan garis batas 1967 yang berarti mengakui keberadaan entitas penjajah Yahudi.

Usulan Amerika ini pernah ditegaskan pada tahun 2009 oleh George Mitchell (utusan khusus AS untuk Timur Tengah) usai bertemu Presiden Mesir Husni Mubarak saat itu. Mitchell menyatakan: ‘Telah menjadi kebijakan AS bahwa solusi bagi konflik Israel-Palestina adalah solusi dua negara’ (Kompas,21/04/2009).

Presiden AS Barack Obama sendiri menegaskan untuk pertama kalinya, pada  Kamis (19/5/2011), bahwa perbatasan antara Israel dan negara mendatang Palestina harus berdasarkan atas garis batas 1967 dan diselesaikan dengan pertukaran wilayah.

“Perbatasan Israel dan Palestina harus berdasarkan atas garis-garis 1967 dengan pertukaran wilayah yang disepakati secara timbal-balik, sehingga batas-batas yang aman dan diakui bisa terbentuk bagi kedua negara,” kata Obama dalam sebuah pidato utama mengenai Timur Tengah. (www.antaranews.com, Jumat, 20 Mei 2011)

“Two states solution “ berarti merupakan pengakuan terhadap keberadaan penjajah Israel di Palestina. Solusi ini bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap umat Islam tapi juga pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena tanah Palestina adalah milik umat Islam, merupakan tanah kharajiyah yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Tidak ada satu pihak pun, baik Hamas ataupun Fatah, atau pun penguasa Arab yang berhak memberikannya kepada penjajah.

Di samping itu, pengakuan Palestina menjadi negara ini juga merupakan bagian dari strategi negara-negara Barat untuk mengangkat popularitas kelompok Fatah yang diwakili oleh Mahmud Abbas, mengingat  popularitas Abbas semakin menurun.

Sementara itu, Amerika sangat membutuhkan Abbas dan kelompok Fattahnya yang sekuler untuk menjadi operator bagi kepentingan Amerika di Palestina. Lewat Abbas dan Fattahnya, Amerika menawarkan harapan semu yang  tidak berujung.

Tidak hanya itu, istilah negara untuk Palestina pun patut dipertanyakan secara de facto. Mengingat, Palestina saat ini sesungguhnya belumlah memiliki kedaulatan penuh layaknya sebagai sebuah negara. Keamanan belum benar-benar di tangan ‘negara’ Palestina.

Palestina masih dalam cengkraman penjajah Yahudi, yang bisa melakukan apapun sekehendak hatinya dan kapan saja untuk menyerang, menghancurkan, dan melakukan pembantaian terhadap umat Islam Palestina. 

Karena itu, bagi Israel, pengakuan negara Palestina tidak akan memberikan pengaruh apapun, karena tidak mengancam eksistensi mereka sebagai penjajah. Bahkan kalaupun Palestina menjadi anggota tetap PBB, Israel tetap akan aman. Karena di sana ada Amerika serikat yang menjadi pembela sejatinya dengan  senjata hak veto. PBB tetap saja lembaga impoten yang tidak bisa melakukan apa-apa kalau berhubungan dengan kepentingan Amerika dan negara-negara pemilik hak veto lainnya.

Dan Israel sangat menyadari hal ini. Harian Yedioth Ahronoth (30/11) meremehkan pengakuan status negara Palestina dengan menyatakan : “Majelis Umum PBB, sebuah badan impoten tanpa otoritas apapun, mengeluarkan resolusi konyol dan benar-benar tidak logis yang memberikan status pengamat ke negara yang bahkan tidak ada–dan tidak akan pernah ada kecuali mencapai kesepakatan dengan Israel. Bukan dengan PBB dengan Israel. Tanpa persetujuan Israel tidak ada negara Palestina, terlepas dari berapa banyak negara mendukungnya di Majelis Umum”

Satu-satunya yang mengancam eksistensi  ‘entitas’ penjajah Israel adalah bersatunya umat Islam di bawah naungan Khilafah yang akan menyerukan jihad fi sabilillah, mengusir aggressor ini. Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Islam dan menggerakkan  tentara-tentara dari Mesir, Turki, Saudi, Irak, Pakistan, dan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Inilah solusi sejati yang benar-benar akan menyelesaikan persoalan Palestina. (Farid Wadjdi)

Box :

KOMITE FATWA AL AZHAR (18 Jumadal Ula 1375 H/Januari 1956 M) :  HARAM BERDAMAI DENGAN ISRAEL

Pada Ahad, 18 Jumadal Ula 1375 H/Januari 1956 M, Komite Fatwa Al-Azhar mengadakan pertemuan khusus yang diikuti oleh anggota dewan ulama-ulama senior Al-Azhar dan dipimpin oleh Prof. Sheikh Mohammed Hassanein Makhlouf, salah seorang ulama senior Al-Azhar, yang juga mantan mufti Mesir. Pertemuan itu dihadiri oleh Syaikh Isa Manun, Dekan Fakultas Syariah dari Mazhab Syafi’i, Syaikh Mahmoud Shaltout, dari Mazhab Hanafi, Sheikh Mohamed Thaneikhi, Direktur Lembaga Dakwah dan Bimbingan Keagamaan, dari mazhab Maliki, Syaikh Muhammad Abdullathif As-Subki, Direktur Tim Inspeksi di Universitas Al-Azhar dari mazhab Hanbali dan Syaikh Zakaria Al-Birri, Sekjen Komite Fatwa.

Komita Fatwa mengeluarkan beberapa pernyataan penting antara lain:

Perdamaian dengan Israel–sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang yang menyeru kepada hal tersebut–tidak diperbolehkan secara hukum syara’, karena di dalamnya terdapat pembenaran terhadap penjajah untuk meneruskan upaya penjajahannya, pengakuan keberhakannya terhadap tanah jajahannya, dan dukungan kepada mereka untuk meneruskan agresinya. 

Komite juga menyerukan kepada pemilik hak (rakyat Palestina, red) untuk membela dan merebut haknya. Karena di dalam hadits ditegaskan, “Barang siapa yang terbunuh karena membela kehormatannya maka ia syahid.” Dalam hadits lain, “Bagi tangan (pemilik) apa yang diambilnya (dimilikinya) sampai dikembalikan.”

Maka tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk upaya damai dengan Yahudi—yang merampas tanah Palestina, menzalimi rakyatnya dan mengambil secara paksa harta benda mereka—upaya yang mengokohkan Yahudi untuk tetap tinggal di tanah Palestina dan mendirikan sebuah negara di atas tanah suci negeri Islam ini.

Bahkan wajib bagi kaum Muslimin semuanya untuk saling membantu—tanpa memandang suku, bangsa, perbedaan bahasa dan warna kulit—untuk mengembalikan rakyat Palestina ke negeri mereka, menjaga kesucian masjid Al-Aqsha yang merupakan tempat turunnya wahyu, tempat shalatnya para nabi yang diberkahi oleh Allah SWT, dan menjaga peninggalan-peninggalan sejarah Islam dari tangan para penjajah.

Wajib juga bagi mereka untuk menolong para mujahidin dengan senjata dan kekuatan untuk berjihad, dan hendaknya mereka mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki untuk menyucikan negeri Islam dari tangan penjajah yang zalim.

Tidak diragukan lagi bahwa mendukung musuh dan mencintai mereka sama dengan membantu mereka dengan sesuatu yang dapat menguatkan posisi mereka baik dengan pikiran, senjata dan kekuatan, baik secara tersembunyi atau terang-terangan, langsung atau tidak langsung, semua itu diharamkan bagi setiap muslim apapun alasannya. (eramuslim.com,  30 Januari 2009)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: