Invasi Mali : Babak Lanjut Perang Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam


Awal bulan ini, pada tanggal 11 Januari 2013, Presiden Prancis Francois Hollande mengumumkan intervensi militer Prancis di Mali dalam bentuk serangan udara dan pengerahan pasukan darat. Pasukan ini-seperti yang dinyatakan Hollande- akan tetap ada di sana “selama diperlukan” untuk mencapai “keamanan di Mali, otoritas yang sah, proses pemilu, dan tidak ada lebih banyak teroris yang mengancam keutuhan negara.

Perang ini menjadikan  perang global terhadap negeri Islam yang dipimpin oleh Perancis. Invasi ini lagi-lagi di dukung oleh PBB, Negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris, Kanada Jerman dan Australia. Pemimpin Prancis dan Afrika Barat meminta  masyarakat internasional termasuk negara-negara teluk yang kaya untuk membantu logistik dan keuangan guna mengatasi  apa yang mereka klaim sebagai kelompok-kelompok Islam bersenjata di Mali.

Jerman berjanji memberikan bantuan keuangan. Pemerintah Australia mendukung serangan terhadap Mali, dimana Menteri Luar Negeri Bob Carr mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaannya kepada peminpin Perancis itu.Perdana Menteri Inggris David Cameron telah merestui penggunaan pesawat-pesawat C-17 untuk mendukung intervensi militer Perancis di Mali.

Dalam membenarkan serangan militer ini, klaim dari Perancis, Inggris dan negara-negara Barat lainnya – sekali lagi – adalah bahwa serangan militer ini untuk memerangi ‘terorisme’ dan melindungi rakyat Mali. Agar mendapatkan simpati dari masyarakat Barat, media menekankan perlawanan dari aspek ‘Islamis’.

Istilah perang melawan terorisme Islam, disamping merupakan cerminan kebencian terhadap Islam, juga merupakan upaya menutupi motif kerakusan ekonomi dari negara-negara Barat untuk merampok kekayaan alam negeri-negeri Islam atau membeli dengan sangat murah.

Bagi Perancis , uranium Afrika Barat adalah seperti minyak Timur Tengah bagi pihak lain. Dua pertiga listrik Perancis berasal dari tenaga nuklir, yang memerlukan impor uranium yang signifikan dari negara tetangga Nigeria. Bekas koloni-koloni Perancis di Afrika Barat adalah penting bagai negara itu untuk bisa mengakses bahan baku (Mali adalah produsen emas ketiga terbesar di Afrika) dan pasar produk Perancis. Oleh karena, tidak heran ada kehadiran militer Prancis di wilayah itu.

Dalih negara Barat bahwa perang ini adalah untuk kemanusiaan dan membantu warga sipil adalah bohong belakan. Negara-negara penjajah seperti Perancis dan Inggris tidak mengirim pasukan mereka untuk berperang membantu warga sipil. Tentara mereka bukanlah organisasi kemanusiaan. Tindakan mereka di Mali atau Libya pada tahun 2011, kontras dengan tindakan mereka yang lamban di Republik Demokratik Kongo dan Bahrain, di mana telah nyata terdapat  pelanggaran HAM yang dilakukan rezim penguasa yang ada.

Klaim Barat bahwa mereka ingin membantu rakyat Mali atau membangun demokrasi adalah omong kosong.  Perancis dan sekutu-sekutunya telah mendukung para diktator di Dunia Islam selama puluhan tahun dan terus melakukannya hingga hari ini di Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, dan tempat-tempat lain. Negara-negara Barat seperti Perancis, AS dan Inggris adalah kekuatan-kekuatan imperialis yang terbukti dengan catatan buruk penjajahan yang mereka miliki.

Invasi Perancis ke Mali yang dibantu oleh sekutu-sekutu globalnya, merupakan tindak lanjut dari perang-perang imperialism mereka lainnya terhadap dunia Islam yang didorong oleh motif kerakusan kolonialisme . Seperti yang mereka lakukan di Irak, Afghanistan, Pakistan, dan Yaman.

Hal ini sebagai upaya mencoba mempertahankan perbudakan politik dan militer atas umat Islam dan negeri Islam  dalam rangka memfasilitasi eksploitasi ekonomi mereka. Sembari menggunakan retorika basi yang penuh propaganda, basi dan menipu seperti ‘perang melawan teror’, ‘Islamisme’, ‘ekstrimisme’ dan ‘terorisme’.

Oleh karena itu kita harus dengan tegas menentang segala bentuk intervensi asing oleh negara-negara penjajah kapitalis  terhadap dunia Islam. Mereka telah menebarkan teror kepada rakyat Afghanistan, dan Irak, dan sekarang menambahkan Mali ke dalam daftar ini.

Mali adalah negeri Islam. Suatu serangan terhadap Muslim Mali dianggap sebagai serangan terhadap umat Islam di manapun, karena umat Muslim adalah satu. Garis-garis batas buatan yang dibuat di atas pasir telah memecah belah kaum muslimin dalam batasan nasionalisme dan etnis – yang merupakan produk dari warisan kolonial – dan tidak memiliki nilai dalam Islam atau dengan umat Islam.

Ketiadaan Khilafah sekali lagi menjadi penyebab mulusnya penjajahan Barat atas dunia Islam. Tanpa Khilafah negara-negara Muslim dipandang sebagai depot bahan bakar negara-negara penjajah Barat, dieksploitasi dan diedarkan diantara negara-negara penipu yang menyebut dirinya ‘negara-negara demokrasi kapitalis yang beradab’.

Oleh karena itu seruan Hizbut Tahrir tentang kewajiban mendirikan kembali Khilafah Islam menjadi sangat penting dan relevan. Hizbut Tahrir tanpa kenal lelah menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk melanjutkan pekerjaan mereka untuk menyingkirkan para penguasa boneka di bekas koloni negara-negara Muslim dan mendirikan kembali Khilafah Islam yang akan mengakhiri kebijakan-kebijakan kolonial sedang berlangsung. (Farid Wadjdi)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: