Jokowi “The Next President “?


Jokowi-9Jan-aPencitraan Jokowi sebagai calon presiden terpopuler memang luar biasa. Berbagai survey yang dilakukan berbagai pihak menunjukkan Jokowi sebagai calon presiden yang paling popular.  Media massapun – entah kenapa nyaris tanpa kritik- saat memberitakan Jokowi. Terutama media-media yang dikenal sekuler dan liberal, sangat gencar mengkampanyekan Jokowi dalam pemberitaannya.

Tidak hanya dalam negeri, media asingpun demikian semangat memblow-up Jokowi. The Economist memulai laporannya dengan kalimat : “Ketika sejumlah partai politik tengah mencari calon presiden, sebagian besar orang Indonesia bilang hanya Jokowi orang yang tepat.” Tidak mengherankan kalau sosok Jokowi menjadi capres  paling diunggulkan oleh PDIP. Jokowi dinilai Megawati memiliki getaran jiwa seperti proklamator Bung Karno.

Memang dengan berbagai kelebihannya dibanding dengan calon-calon presiden yang lain, Jokowi menjadi sosok yang paling memungkinkan untuk menang dalam pemilu 2014. Elektabilitasnya paling tinggi.Namun kita perlu ingat, yang menjadi persoalan di Indonesia bukanlah sekedar masalah individu, tapi juga sistem.

Dua hal inilah yang diingatkan Syekh Taqiyuddin an Nabhani, ketika menjelaskan pangkal persoalan di dunia Islam termasuk Indonesia saat ini dalam kitabnya Nida ul Har . Pertama adalah penguasa-penguasa di dunia Islam yang menjadi boneka negara-negara penjajah. Kedua, diterapkannya sistem kufur yang bukan berasal dari syariah Islam.

Karena itu, sejauh mana, Jokowi akan berhasil menjadi pemimpin negeri ini, bisa diukur oleh dua hal diatas. Apakah Jokowi bisa muncul sebagai pemimpin yang tidak tunduk kepada Barat. Beranikah Jokowi melawan keinginan negara-negara Barat terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Keberanian pemimpin menentang Barat ini penting, sebab tunduk kepada negara-negara imperialis Barat, berarti sama saja melanjutkan penjajahan Barat yang justru menjadi biangkerok penderitaan di dunia Islam. Seperti yang ditunjukkan oleh penguasa negeri Islam di Mesir, Pakistan, Saudi, termasuk Indonesia sekarang.

Ketertundukan mereka kepada Barat menjadikan mereka menjadi pelayan-pelayan setia yang siap mengorbankan rakyatnya sendiri, membiarkan kekayaan alam negerinya dirampok oleh negara-negara imperialis meskipun rakyatnya harus hidup dalam kemiskinan.

Keberanian sosok pemimpin seperti Hugosavez melawan Amerika dalam beberapa hal telah memberikan keuntungan kepada rakyatnya. Keberaniannya melakukan nasionalisasi terhadap korporasi Barat yang merampok minyak negaranya,membuat dirinya bersebrangan dengan negara-negara Barat penjajah. Namun Chavez tetap kokoh menentang neo-liberalisme yang memiskinkan negaranya.

Untuk hal ini keberanian Jokowi masih dipertanyakan. Sikapnya yang tidak jelas, bahkan cendrung mengizinkan membiarkan pembangunan kedubes Amerika di Jakarta, membuat kita ragu apakah Jokowi berani melawan Amerika. Padahal sudah jelas, kedubes Amerika dimana-mana menjadi salah satu tempat penting aktifitas intelijen, propaganda, maupun lobi-lobi politik, maupun militer  yang berujung pada pengokohan penjajahan Amerika di kawasan itu.

Namun sosok invidividu saja tidak cukup. Sebab, penjajahan terhadap suatu negeri,  bisa kokoh lewat sistem kapitalisme yang diadopsi oleh sebuah negara. Sistem kapitalisme ini melahirkan kebijakan politik dan ekonomi yang memberikan jalan bagi pengokohan penjajahan Barat.

Di Indonesia, penjajahan Barat masuk lewat sistem demokrasi yang dikontrol oleh pemilik modal. Lewat sistem demokrasi yang menjadikan uang sebagai panglima inilah lahir berbagai uu  yang menguntungkan penjajah Barat. Lahirlah UU Migas, UU SDA, UU Kelistrikan dan lain-lain yang lebih berpihak kepada  pemilik modal.

Sebagai contoh carut marut minyak dan gas (migas) di Indonesia berpangkal pada kesalahan undang-undang yang amat fatal. Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Migas yang disahkan Pemerintahan Megawati itu meliberalisasi seluruh kegiatan usaha migas, mulai dari sektor hulu hingga sektor hilir.

Melalu UU Migas Nomer 22 Tahun 2001, liberalisasi migas di Indonesia berjalan kokoh. Sejak saat itu, kisruh pengelolaan migas di negeri ini selalu terjadi.   Liberalisasi pengelolaan migas dan kekayaan alam lain, membuat kekayaan alam negeri ini dijarah Asing.

Hal ini terjadi karena UU yang memang liberal. Juga kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan asing.  Hingga tahun 2021, ada 29 blok dari 72 blok Minyak dan Gas (Migas)  seperti Blok Siak, Blok Mahakam, Blok Tangguh, yang akan habis masa kontraknya.

Tapi alih-alih diserahkan kepada BUMN, pemerintah dengan berbagai dalih malah justru memperpanjang kontrak atau masih memberi porsi kepada asing.  Pembubaran BP Migas  tidak menghentikan liberalisasi ini.

Dan perlu kita catat, satu-satunya sistem memiliki watak perlawanan terhadap kezoliman terhadap penjajah kapitalisme , menjadi pengganti, bahkan akan menghancurkan sistem kapitalisme adalah sistem Islam. Berupa syariah Islam yang diterapkan secara total oleh negara Khilafah.

Karena itu, amat menyedihkan kalau umat Islam, rakyat Indonesia, tertipu dengan sosok-sosok yang dijagokan oleh Barat, didukung oleh partai liberal/sekuler, maupun kelompok-kelompok yang menjadi boneka Barat dengan dukungan media sekuler.

Sebab pemimpin seperti itu akan kembali menjerumuskan Indonesia ke dalam jurang penjajahan Barat yang telah membuat rakyat menderita. Pemimpin seperti itu akan mengulangi kesalahan pemimpin sebelumnya yang lahir dengan cara yang sama, kembali menjadi pembebek negara imperialis.

Umat Islam dan rakyat Indonesia, seharusnya tidak lagi tertipu dengan popularitas seorang tokoh tanpa disertai dengan perubahan sistem kapitalis menjadi sistem Islam. Sebab tidak akan terjadi perubahan yang mendasar tanpa diterapkannya syariah Islam secara menyeluruh.

Karena itulah, umat Islam seharusnya fokus pada perjuangan untuk menggantikan sistem sekuler kapitalisme dinegeri ini, dengan menegakkan kembali Khilafah yang menerapkan seluruh syariat Islam. Inilah yang akan membawa perubahan yang nyata dan memberikan kebaikan  bukan hanya untuk Indonesia tapi juga dunia. (Farid Wadjdi)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: