Di Bawah Tekanan Rezim Cina. 11 Ribu Muslim Cina Tunaikan Ibadah Haji Tahun Ini


Di Bawah Tekanan Rezim Cina.

11 Ribu Muslim Cina Tunaikan Ibadah Haji Tahun Ini

Sekitar 11.000 Muslim Cina  berangkat dari Cina ke Mekkah di Arab Saudi tahun ini  untuk menunaikan ibadah haji. Sabtu lalu (5/10), kloter terakhir lepas landas dari Beijing. Sudah lebih dari lima dekade, pemerintah Cina mengorganisasi pemberangkatan Muslim Cina ke Tanah Suci.

Kloter yang terdiri dari 290 warga Muslim Cina  itu merupakan kloter terakhir dari 11 ribu Muslim Cina yang menunaikan ibadah haji tahun ini.

Islam adalah agama terbesar kedua di dunia, dengan lebih dari satu milyar pengikut. Di Cina sendiri terdapat lebih dari 20 juta Muslim, antara 1 dan 2 persen dari populasi negara itu.

Pemerintah Cina mengorganisi pengiriman jamaah haji sejak 1955 dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun .

Meskipun pemerintah Cina mengorganisasi pemberangkatan ibadah haji, secara umum kebijakan pemerintah Cina dikenal represif. Nasib umat Islam di Cina terutama di wilayah Xinjiang dalam kondisi yang menyedihkan.

Ada sekitar 8,5 juta jiwa Muslim di wilayah ini dengan bangunan masjid sebanyak 23 ribu buah. Penduduk Cina sendiri mencapai 1,3 miliar jiwa. Mereka terus-menerus didera penderitaan luar biasa dan dicap sebagai teroris.

Xinjiang merupakan negeri Islam yang dikenal dengan julukan Turkistan Timur. Sekarang menjadi sebuah daerah otonomi—bukan provinsi—di Cina. Xinjiang berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur, Rusia di utara, serta Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afganistan dan Kashmir di barat.

Penduduk  Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur (45,21 persen) dan suku Kazakh (6,74 persen). Selain itu, di Xinjiang juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.

Secara statistik, sebenarnya kaum Muslim Uighur mayoritas di Xinjiang, tetapi hari demi hari mereka kian terpinggirkan. Istilah ‘daerah otonomi’ yang ditetapkan Pemerintah Cina cuma sekadar nama.

Agama dan budaya mereka ditekan habis-habisan oleh Pemerintah Cina. Dalam bidang ekonomi, orang-orang dari suku Han-lah yang berkuasa, termasuk menguasai ladang-ladang minyak dan jalur-jalur perdagangan.

Selain kaya akan mineral, minyak bumi, dan gas—cadangan terbesar di Cina, Xinjiang sangat penting secara geopolitik. Maka dari itu, demi mengontrol Xinjiang, berbagai langkah dilakukan Pemerintah Cina, termasuk membelenggu hak warga Muslim untuk menjalankan ritual dan ajaran agamanya. Sekadar contoh, keberadaan sekolah Islam, masjid dan imam dikontrol secara ketat.

Dalam kurun waktu 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam.

Pemerintah juga menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini mencakup larangan shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Hubungan umat Islam dengan wilayah Cina terjadi saat Khalifah Uthman ibn Affan memulai kontak dengan Cina. Setelah menundukkan Romawi dan Persia, Khalifah Uthman bin Affan mengirim delegasi yang dipimpin Sa’ad ibn Abi Waqqas ra (paman Nabi Saaw) ke Cina pada tahun 29 H (651 M). Misi delegasi ini adalah mengundang kaisar Cina untuk memeluk Islam.

Delegasi muslim lalu membangun Masjid di kota Kanton. Masjid ini dikenal hingga hari ini sebagai ‘Masjid Memorial’. Ada beberapa laporang yang mengatakan bahwa Sa’ad juga dikubur di Cina.

Selama bertahun-tahun aktifitas perdagangan di Cina, membawa pendatang Muslim yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaut. Daerah di mana para pendatang Muslim tersebut bermukim dikenal sebagai pelabuhan Chen Aan pada masa Dinasti Tang.

Tidak lama setelah komunis mengambil alih kekuasaan di tahun 1949, pemerintah Mao membagi umat Islam ke dalam identitas suku bangsa, sehingga umat dipecah menurut ras mereka, dan bukan lagi oleh kesamaan aqidah, yaitu ‘identitas keislamannya’.

Menurut statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintahan Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah warga Muslim sebesar 48.104.240 orang.

Sejak diberlakukannya kebijakan Mao, angka tersebut menurun menjadi 10 juta warga saja. Tidak ada penjelasan resmi, ke mana hilangnya 38 juta nyawa.

Nasib umat Islam semakin menderita di masa Revolusi Budaya (1966-76), pemerintah Cina saat itu menyerukan penghapusan ritual Islam. Muslim juga dilarang untuk mempelajari bahasa tulis memiliki unsur huruf Arab dan dipengaruhi oleh Arab, Turki dan Persia.

Pada masa ini, kaum komunis menutup masjid dan menyebarkan fitnah tentang Islam dan Muslim . [] FW

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: