Kebohongan Jihad ‘Seksual’


Sebuah snapshot video yang diklaim sebagai “mujahidah Tunisia” ternyata merupakan snapshot video para pejuang perempuan Chechnya, yang dibuat pada tahun 2010.

Berbagai upaya untuk memberikan citra negatif  terhadap perjuangan mulia umat Islam Suriah melawan Bashar Assad dilakukan media pro rezim Suriah. Termasuk melakukan fitnah keji dengan judul yang juga keji: jihad ‘seksual’ atau jihad pernikahan. Namun kebohongan demi kebohongan akhirnya terbongkar. Dan wartawan yang memiliki hati nurani, menolak melakukan fitnah keji ini.

Seperti yang dilaporkan situs observers.france24.com (1/10/), penipuan ini telah menyebabkan sejumlah wartawan keluar dari pekerjaannya. Malika Jabbari mengundurkan diri dari pekerjaannya di saluran TV Lebanon “Al-Mayadin”. Pasalnya, ia dipaksa untuk “mengarang cerita jihad pernikahan yang tidak ada faktanya.”

Daftar kebohongan dari fitnah jihad pernikahan sangat jelas. Sebuah snapshot video yang diklaim sebagai “mujahidah Tunisia” oleh sejumlah saluran televisi yang dekat dengan rezim Suriah, ternyata merupakan snapshot video para pejuang perempuan Chechnya, yang dibuat pada tahun 2010.

Isu  “Jihad Pernikahan” pertama kalinya disebutkan pada  September 2012, di twitter seorang ulama asal Arab Saudi, Muhammad al-Arifi. Ia seorang syeikh yang begitu dihormati di kalangan mujahidin, dan dikenal dengan khutbahnya yang vokal.

Jika diperhatikan dari awal sudah terlihat janggal, bahwa pesan di twitter itu berisi 200 karakter, padahal jumlah maksimal yang diperbolehkan dalam akun twitter adalah 140 karakter saja.

Syeikh al-Arifi segera membantah fitnah ini dan mengatakan sumber pesan itu tidak benar. Ia menekankan bahwa “fatwa seperti itu belum pernah dipublikasikan di akun resminya, baik di facebook ataupun di twitter”.

Meskipun semua itu adalah kebohongan semata, namun isu “jihad pernihakan” terus beredar di sejumlah media dan jejaring sosial. Tanpa  ada bukti, isu itu terus berkembang.

Sejak Januari 2013, saluran televisi yang dekat dengan rezim Suriah kembali memunculkan cerita ini. Saluran televisi ini menggunakan foto-foto mujahidah Chechnya yang diambil di Chechnya. Mereka mengklaimnya sebagai para perempuan Tunisia yang pergi untuk memberikan tubuh mereka kepada para mujahidin Suriah.

Persoalan ini kembali memanas, lewat pernyataan bodoh yang dibuat pada 20 September 2013 oleh Menteri Dalam Negeri Tunisia, Luthfi bin Jeddo. Di hadapan Majelis Konstituante Nasional negaranya, ia memunculkan kembali isu “jihad pernikahan” di depan media.

Perlu dicatat Menteri Dalam Negeri Tunisia itu adalah orang yang kontra dengan “An-Nahdhah”, yaitu partai yang berkuasa di negeri itu. Konyolnya, sang menteri itu tidak mampu memberikan argumen apapun untuk mendukung pernyataannya.

Laporan terakhir tentang hal ini disiarkan oleh saluran televisi Suriah “Al-Ikhbar”, pada 22 September 2013. Televisi ini mengonfirmasikan seorang gadis berusia enam belas tahun  telah mendapatkan kekerasan seksual oleh ayahnya sebelum ia dikirim ke para mujahidin.

Ia menjelaskan secara rinci kekerasan seksual yang diterimanya. Akan tetapi, saluran televisi ini adalah pendukung rezim Suriah, yang setiap harinya bekerja untuk mencoreng citra kelompok oposisi bersenjata Suriah.

Dalam rekaman di stasiun tv lokal, seorang wanita mengaku dijual ayah mereka pada pejuang Suriah dan jadi budak seks. Salah satunya adalah wanita bernama Sarah Khaled al-Alawo dan Rawan Qadah yang nama dan wajahnya muncul di televisi nasional Suriah.

Namun, dari rekaman yang belum diedit yang diperoleh Al-Arabiya, wanita-wanita ini dipaksa membacakan pengakuan mereka. Al-Arabiya juga memuat pengakuan orang tua Qadah yang mengaku putri mereka diculik aparat Suriah di wilayah Deraa dan dipaksa menceritakan kisah bohong.

Pengakuan yang sama disampaikan keluarga Alawo, bahwa putri mereka diculik dari Universitas Damaskus saat menggelar demonstrasi menentang kekejaman Assad.

Kebohongan lainnya berusaha disampaikan kantor berita Iran, Press TV pekan lalu yang tersebar luas. Dalam beritanya, dikatakan bahwa wanita Suriah membakar dirinya dan anak-anaknya setelah diperkosa oleh para pejuang di kamp pengungsi di Turki.

Kepada Buzzfeed, kelompok kemanusiaan Turki dan petugas pemerintah di kamp itu membantah cerita yang menurut mereka tidak berdasar tersebut. Usut punya usut, berita itu datang hanya dari satu orang, yaitu jurnalis Turki bernama Adil Haciomerogl, yang memang dikenal sering mendiskreditkan pejuang Suriah dalam blog dan akun twitternya.

Dalam beritanya, Press TV menampilkan gambar wanita yang terbakar, yang mereka klaim dari Turki. Namun, gambar itu ternyata diambil dari artikel BBC soal terbakarnya tubuh manusia secara spontan (spontaneous human combustion). (FW dari berbagai sumber)

Box : Leila : “Kami Bertemu dan Menikah”

Wanita ini hanya ingin dipanggil Leila, 23, sedang hamil tua. Dia masih tersipu-sipu saat membicarakan kemesraannya dengan suaminya, seorang pejuang di kota Homs, Suriah. Sebelumnya, dia Muslimah Tunisia yang taat, tidak akan berjabat tangan dengan pria yang bukan mahram.

“Saya datang dari desa, saya wanita sederhana yang punya iman. Suami saya dan saya sama-sama lugu ketika kami menikah. Itulah mengapa cerita soal jihad seks ini sangat-sangat mengejutkan kami,” kata Leila, dilansir situs berbahasa Arab dari Mesir, Masrawy.

Dia adalah satu dari ratusan wanita Tunisia yang difitnah pergi ke Suriah untuk melakukan jihad seks. Dalam sebuah rekaman di stasiun televisi lokal Tunisia, orang tua Leila berbicara soal “kehilangan putri mereka”. Ibunya hanya diam saat ayahnya sambil menangis mengatakan bahwa putrinya telah menjadi melacurkan diri pada para “anjing-anjing Suriah”.

Video inilah yang kemudian digulirkan oleh Menteri Dalam Negeri Tunisia Lotfi Ben Jeddou di hadapan parlemen. Jeddou mengatakan, wanita-wanita Tunisia berhubungan seks dengan 20-100 militan sebelum akhirnya pulang dalam keadaan hamil.

Leila membantah berita tersebut. Dia mengatakan satu-satunya kebenaran dalam berita itu adalah bahwa dia jadi sukarelawan medis dari Tunisia ke Suriah, membantu perjuangan pejuang melawan rezim Bashar al-Assad. Saat bertugas di desa kecil di Homs, dia bertemu pujaan hatinya.

“Kami bertemu dan menikah – dalam sebuah pernikahan Islami yang diakui pengadilan – dan kami membangun rumah sendiri. Keluarga saya di Tunisia tidak menerimanya, dan ini menyakitkan saya. Tapi mereka tahu saya telah menikah dan bukanlah pelacur dalam jihad seks!” tegasnya.

“Ini adalah skandal dan beberapa orang mungkin mempercayai kebohongan ini. Tapi banyak yang tahu bahwa hal menjijikkan akan dikatakan rezim untuk membuat para pejuang kami, suami-suami kami, terlihat kotor,” ujar Leila. (FW)
 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: