Dilema Amerika di Suriah


Farid Wadjdi

Forum on Islamic World Studies (FIWS)

Kesediaan kelompok oposisi terbesar bernegoisasi dengan rezim Bashar al Assad pada Senin (11/11), menjadi harapan baru Amerika tentang masa depan Suriah. Dalam tanggapannya Menlu John Kerry menyatakan keputusan yang diambil  pihak oposisi-Koalisi Nasional-  merupakan langkah besar.

Rezim Assad sendiri memberikan tanda-tanda untuk menghadiri konferensi Jenewa yang akan membahas perdamaian di Suriah. Namun menegaskan pengunduran diri Assad dari kekuasaan bukan merupakan bagian dari pembicaraan.

Sementara itu Koalisi Nasional  dalam pertemuan dua hari di Istanmbul Turki itu , menyaratkan pembicaraan damai di Jenewa didasarkan kepada transisi kekuasaan secara penuh yang menolak partisipasi Assad.

Dalam penyelesaian krisis di Suriah, Amerika sendiri mengalami  banyak dilema. Di satu sisi Amerika menyadari dengan berbagai catatan kriminalnya terhadap rakyat Suriah, Assad sulit dipertahankan. Namun Amerika sendiri belum mendapatkan pengganti yang tepat untuk  Bashar Assad. Hal inilah yang membuat krisis Suriah menjadi berlarut-larut.

Bagi Amerika mendapatkan pengganti yang tepat adalah sangat penting di Suriah. Mengingat salah satu, batu pijakan kepentingan Amerika di negeri-negeri Islam, selama ini adalah penguasa yang loyal kepada Negara Paman Sam ini. Demikian pula untuk Suriah, untuk bisa melanggengkan kepentingannya di Suriah , Amerika harus memastikan pengganti Assad yang loyalitalisnya masih bisa dikontrol.

Paling tidak ada tiga kepentingan abadi utama Amerika di Timur Tengah termasuk di Suriah. Pertama, mempertahankan suplay minyak murah dari kawasan Timur Tengah. Kedua, menjamin eksistensi entitas negara Zionis Israel di Palestina. Dan yang ketiga mencegah munculnya kekuatan Islam ideologis di  kawasan Timur Tengah apalagi dalam wujud negara Islam (Islamic-State) atau Khilafah.

Untuk Suriah sendiri,yang paling dicemaskan Amerika adalah berdirinya Islamic State (Negara Islam).  Munculnya negara Islam baru dalam bentuk Khilafah di Suriah, bukan hanya akan mengancam keberadaan entitias Zionis Israel yang berbatasan dengan Suriah, namun juga mengancam negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Saudi Arabia,dan negara-negara Teluk lainnya. Sebab Khilafah yang menegasikan nation-state (negara bangsa) akan berupaya melebur negara-negara itu menjadi satu di bawah naungan Khilafah.

Jatuhnya rezim-rezim monarki Arab yang selama ini menjadi penjamin bagi akses Amerika untuk sumber minyak raksasa di regional itu, tentu akan mengancam ‘interest’ suplay minyak murah untuk Amerika. Pada gilirannya akan berpengaruh besar terhadap kekuatan ekonomi Amerika dan merubah konstelasi internasional yang selama ini masih di bawah dominasi Amerika.

Persoalannya bagi Amerika , pihak perlawanan yang menentang rezim Assad dari kalangan Islam (mujahidin) yang ada di grassroots justru memiliki tendensi yang kuat untuk menegakkan negara Islam . Sebagian besar mereka juga menolak tawaran negara demokrasi sebagai jalan solusi yang ditawarkan Barat.

Di sisi lain, eksistensi oposisi yang tidak bisa dilepaskan dari peran Amerika dalam pembentukannya, seperti Koalisi Nasional, belum efektif untuk bisa menggantikan posisi Assad. Koalisi Nasional masih dianggap tidak memiliki dukungan kuat dari grassroots masyarakat Suriah.

Para mujahidin sendiri sebagian besar menolak oposisi ini dengan tudingan bentukan Barat. Sementara rakyat Suriah lebih dekat dengan para mujahidin yang hidup berdampingan dengan rakyat melakukan perlawanan nyata terhadap rezim Assad. Mereka juga turun langsung di lapangan membantu rakyat Suriah dengan memberikan bantuan pangan dan pelayanan kesehatan. Berbeda halnya dengan elit Koalisi Nasional yang banyak hidup di luar Suriah.

Tidak heran, akibat belum adanya pengganti Assad, membuat Amerika sepertinya  mengulur-ulur waktu untuk menyelesaikan krisis Suriah.  Meskipun perang ini telah menyebabkan korban yang sangat besar, lebih kurang 100 ribu telah terbunuh, rezim Assad sendiri diduga kuat menggunakan zat kimia, termasuk banyaknya kecaman lembaga HAM internasional terhadap Assad, namun Amerika tidak begitu sungguh-sungguh untuk melengserkan Assad.

Tindakan hati-hati pun menjadi pilihan Amerika, untuk menghindari jatuhnya Suriah kepada kelompok oposisi Islam yang berseberangan dengan kepentingannya. Tampak dari pernyataan Leon Panetta mantan Direktur CIA dan Menhan AS , dalam wawancara dengan CNN (Juli 2012) :  “Saya kira penting ketika Assad hengkang—dan dia akan hengkang—untuk mencoba menjaga stabilitas di negara itu. Cara terbaik untuk mempertahankan stabilitas ini adalah dengan mempertahankan militer dan polisi sebanyak mungkin yang anda bisa lakukan, bersama dengan pasukan keamanan, dan berharap bahwa mereka melakukan transisi kepada bentuk pemerintahan yang demokratis. Itulah kuncinya.”

Terkait dengan opsi serangan militer pasca dugaan penggunaan senjata Kimia oleh rezim Bashar, Gedung Putih seperti yang dilangsir Wall Sreet Journal (2/09) menekankan Gedung Putih ingin memperkuat oposisi namun tidak ingin mereka menang, juga tidak menginginkan opsi serangan udara akan mengubah keseimbangan konflik karena khawatir kekosongan pasca Assad jatuh akan diisi kelompok Islam. Sejalan dengan itu Menlu AS mengkonfirmasikan intervensi militer terbatas yang dilakukan bukanlah untuk pergantian rezim.

Dari sini bisa dipahami kenapa Amerika tampak membiarkan Rusia memperkuat rezim Assad. Termasuk membiarkan masuknya tentera Hizbullah Lebanon yang didukung Iran memperkuat Assad. Padahal kalau Amerika sungguh-sungguh pastilah Amerika bisa melakukan tindakan militer nyata untuk menghentikan intervensi Rusia, Iran dan Hizbullah.

Paling tidak hingga mendapatkan pengganti,  Assad yang kuat masih dibutuhkan Amerika. Meskipun hal ini harus dibayar rakyat Suriah dengan kematian, kelaparan, dan penderitaan yang luar biasa. Lagi-lagi, terbukti kepentingan pragmatism negara-negara adi daya dalam konstelasi internasional, menjadi panglima dibanding dengan terjaganya nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sekaligus menjadi bukti, bagaimana sistem internasional dengan segala perangkatnya saat ini gagal menjadi solusi. Pertanyaannya, sampai kapan komunitas internasional membiarkan penderitaan rakyat Suriah berkepanjangan ? (dimuat di Republika )

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: