Masa Depan Suriah Pasca Konferensi Jenewa II


1476454_781417525207925_1799658967_nOleh Farid Wadjdi

Forum On Islamic World Studies (FIWS)

Mata dunia tertuju pada Konferensi Jenewa II  di Swiss yang berjalan alot.Dari konferensi ini diharapkan akan terbentuk pemerintahan transisi yang bisa diterima semua pihak. Banyak pihak berharap pemerintah transisi ini akan menciptakan iklim politik Suriah yang lebih damai.

Namun harapan ini memang tidak mudah, mengingat konflik Suriah yang multikompleks. Beberapa titik kritisnya adalah sejauh mana hasil Jenewa II ini bisa diterima oleh semua kalangan dan bagaimana exit strategi untuk posisi Asad.

Masalah kritis yang pertama adalah, keberadaan Koalisi Nasional Suriah yang diklaim sebagai representasi  oposisi Suriah belum diterima penuh terutama dari kalangan  kelompok mujahidin(jihadis).

Terdapat kecurigaan besar, Koalisi Nasional Suriah dikontrol oleh Barat. Koalisi Nasional Suriah dianggap bukan merupakan ‘orang lapangan’ yang bertempur langsung di medan tempur konflik Suriah.

Disamping itu ada perbedaan visi antara Koalisi Nasional Suriah dengan kelompok Muhajidin. Koalisi yang dibentuk di Doha Qatar pada November 2012 ini menginginkan Suriah yang sekuler dan demokratis. Beberapa pendiri Koalisi ini dikenal sebagai aktifitis demokrasi yang sekuler seperti Riad Seif dan Suheir Atassi.

Sementara tokoh yang diharapkan mewakili Islam, Moaz al Khatib, mantan Imam masjid Umayyah di Damaskus, dianggap berpandangan terlalu moderat.  Di sisi lain sebagian besar kelompok mujahidin dengan tegas-tegas menolak tawaran demokrasi sekuler dan menyuarakan pendirian negara Islam (khilafah)  yang menerapkan syariah Islam di Suriah.

Eksistensi kelompok Mujahidin ini juga menjadi batu ganjalan bagi Amerika Serikat . Negara ini sangat khawatir kalau Suriah jatuh ke tangan mujahidin. Karena dengan visi negara Islam globalnya, bukan hanya mengancam kepentingannya di Suriah tapi juga mengancam negara-negara regional di Timur Tengah yang selama ini sejalan dengan negara Paman Sam. Lebih-lebih lagi, mengancam eksistensi negara Israel yang menjadi mitra sejatinya di Timur Tengah.

Saudi dan negara-negara Teluk pun berada dalam posisi yang sulit. Membiarkan berdirinya negara Islam apalagi dalam bentuk Khilafah, jelas akan mengancam  posisinya sebagai negara kerajaan keluarga . Meskipun dituding membantu beberapa kelompok mujahidin,  Saudi sendiri tidak benar-benar ingin di Suriah berdiri negara Khilafah.

Sangat mungkin bantuan Saudi  meskipun secara diam-diam, dalam rangka menanamkan pengaruhnya pada beberapa kelompok Mujahidin. Sehingga kedepan masih bisa dikontrol oleh negara  petro dolar itu.

Tidak mengherankan pula, kalau Amerika meskipun dalam retorika globalnya kerap  mengecam rezim Assad, namun kenyataannya  AS cenderung melakukan pembiaran terhadap kondisi yang semakin memburuk di Suriah. Meskipun telah menelan korban jiwa yang sangat besar,lebih dari 100 ribu orang  terbunuh, diperkirakan 2 juta orang terpaksa keluar menjadi pengungsi ,dan 6,5 juta orang terlantar di dalam negeri.

Kondisi pembiaran ini diperkirakan terus berlangsung sampai Amerika benar-benar mendapatkankan pengganti yang tepat  untuk Assad, yang bisa dikontrol oleh Amerika.

Dalam proses mencari  solusi di Suriah, Amerika berusaha keras meminggirkan peran  kelompok mujahidin dengan isu terorisme. Seperti yang dinyatakan John Kerry sebelum konferensi , isu terorisme akan menjadi agenda utama.  Sebutan teroris sendiri kerap ditujukan oleh para elit politi Barat termasuk rezim Suriah terhadap kelompok-kelompok mujahidin.

Isu yang sama dimainkan oleh Rusia. Seperti yang diberitakan Raialyaoum.com (14/12), menlu Rusia Sergei Lavrov dalam interview  dengan TV Channel “Rusia 24” menekankan kepada rakyat Suriah apakah mereka berjuang di pihak yang ingin mengubah Suriah menjadi negara Khilafah atau berpihak kepada negara federasi sekuler. Menurutnya, Khilafah atau sekuler merupakan topik yang harus dibahas dalam konferensi tentang Suriah.

Persoalan kedua adalah mencari exit strategy yang  tepat untuk Basyar Assad. Tentu sangat sulit bagi Assad untuk tetap bertahan selamanya. Mengingat besarnya korban konflik Suriah selama ini yang sulit dipisahkan dari peran Assad. Mundurnya Assad menjadi harga mati yang nyaris disepakati oleh seluruh kelompok perlawanan termasuk Koalisi Nasional.

Namun, Assad tentu tidak menginginkan nasibnya seperti Khadafi, yang dibunuh dengan cara mengenaskan. Karena itu kalaupun Assad harus mundur, namun dengan kepastian dia aman dari kematian ataupun lepas dari jeratan hukum.

Tampaknya, exit strategy ala eks presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menjadi pilihan yang terbaik, baik bagi Assad maupun Barat. Setelah Abdullah Saleh mundur, diadakan pemilu (yang lebih terkesan sebagai rekayasa).Mansur Hadi (orang lingkaran dalam  Abdullah Saleh) yang  tadinya wakil presiden terpilih menjadi  presiden Yaman.  Posisi Ali Abdullah Saleh pun aman, paling tidak hingga saat ini.

Pertanyaannya apakah Assad mau menerima jalan ini , mengingat Assad masih ngotot untuk ikut dalam pemilu Suriah ke depan. Diragukan juga apakah pihak oposisi mau menerima orang dekat Assad berikutnya.

Bisa disebut, pasca konferensi Jenewa II, harapan untuk Suriah yang stabil masih merupakan jalan yang panjang. Yang jelas berlarut-larutnya penyelesaian Suriah , berarti memperpanjang penderitaan rakyat Suriah. Sesuatu yang tentu saja tidak kita harapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: