Krisis Ukraina : Kenangan Pahit Muslim Crimea


6057-hlTahun 1944 Muslim Tatar yang sudah berabad-abad hidup di Crimea  dideportasi secara massal pada tahun1944 oleh rezim bengis Stalin.

“Saya tidak butuh referendum. Saya tidak akan pergi untuk memberikan suara. Kehidupan saya di sini sudah baik,” kata Seitvelieva yang saat ditemui akan menjalankan shalat di Masjid Mahmud Sami.

Sebagian besar kaum Muslim Tatar yang berdomisili di kota berpenduduk 25 ribu jiwa itu memilih untuk tidak keluar rumah saat referendum yang berlangsung Ahad (16/3) dalam cuaca dingin dan diguyur hujan.

Pilihan bergabung dengan Rusia mengingatkan kembali kenangan pahit Muslim Tatar. Tahun 1944 Muslim Tatar yang sudah berabad-abad hidup di Crimea  dideportasi secara massal pada tahun1944 oleh rezim bengis Stalin. Pengusiran ini dianggap sebagai bagian dari hukuman kolektif, karena mereka dituduh berkolaborasi dengan Nazi. Sekitar setengah penduduk Muslim Tatar harus kehilangan nyawa karena kelaparan atau penyakit.

Sky News dalam reportasenya bertemu dengan wanita berusia 88 tahun yang selamat dari perjalanan ke Uzbekistan ketika dia masih seorang remaja. Adik iparnya meninggal dalam perjalanan, bersama dengan bayi yang dia rawat. “Pagi-pagi sekali mereka datang dan membangunkan kami,” kata Beyan Edilerskaya .

“Tentu saja, kami takut. Mereka melarang kami untuk mengambil sesuatu, tidak ada makanan, tidak ada pakaian, kami harus meninggalkan semuanya, kami tersiksa seperti itu, mereka memasukkan kami ke mobil dan kereta api dan membawa kami ke Uzbekistan.”

25 tahun kemudian dia dan keluarganya kembali ke Crimea. Mereka kembali membangun rumah mereka di pinggiran ibukota, Simferopol. “Kami kembali karena Crimea adalah tanah air kami,” kata Edilerskaya.

Jadi Rebutan

Dalam   bahasa Slavia Ukraina berarti “daerah perbatasan”. Pada abad XVII dan XVIII, Ukraina dibagi di antara Polandia, Rusia dan Kekhilafahan Utsmani. Pada abad XIX, Ukraina dibagi antara Rusia dan Austria. Pada abad XX, Ukraina merupakan bagian dari Uni Soviet. Hari ini, Ukraina terletak di perbatasan antara Rusia dan Eropa.

Ukraina yang luasnya mencapai 603.700 kilometer persegi dengan populasi  48 juta jiwa menempati posisi strategis karena menghadap laut Hitam. Secara ekonomi, negara ini menjadi jalur jaringan energi khususnya jaringan pipa gas alam. Di samping Ukraina juga memiliki keunikan sebagai penghubung Eropa dengan Asia. Maka bisa dipahami geopolitik Ukraina bisa memengaruhi kondisi global dan keseimbangan regional. Karena itu Rusia, Amerika dan Uni Eropa sangat memperhatikan Ukraina.

Bagi Rusia Ukraina sangatlah penting. Mengingat  Rusia berbagi perbatasan darat dengan Ukraina sepanjang 700 km. Ukraina merupakan koridor pipa energi Rusia ke Eropa. Apalagi  mayoritas penduduk wilayah timur Ukraina menganut aliran Ortodoks dan berbahasa Rusia. Negara ini  juga memiliki pangkalan armada laut Hitam Rusia yang berdasarkan perjanjian akan berakhir tahun 2017.

Pasca revolusi Orange di Ukraina pada tahun 2004, hubungan dengan Rusia mengalami kegoncangan. Beberapa faktor penyebabnya antara lain muncul dari keinginan Ukraina untuk mendapatkan keanggotaan di Uni Eropa, sikap Ukraina terhadap armada laut Hitam Rusia yang ditempatkan di Sivastopol dan karena perselisihan seputar gas alam.

Rusia pun berusaha memanaskan atmosfir politik dengan menggerakkan aksi penentangan  terhadap pemerintahan Victor Yushchenko. Terutama di wilayah timur Ukraina dan beberapa daerah lainnya di Ukraina yang loyal ke Rusia. Hasilnya, dalam pemilu 2010  Victor Yanukovych yang pro Rusia muncul sebagai pemenang.

Rusia pun akhirnya bisa bernapas lega. Tidak lama Yanukovych menduduki kursi pemerintahan,  ia segera menandatangani sejumlah perjanjian dengan Moskow dalam berbagai bidang seperti energi, ekonomi, budaya dan media.

Adapun bagi Eropa, Ukrainia tidak kalah penting. Negara ini merupakan dinding pemisah antara Rusia dan Eropa Timur. Apalagi melalui wilayah Ukraina sebanyak 80 persen gas alam Rusia mengalir ke Eropa yang menyuplai seperempat konsumsi gas Eropa.

Amerika Serikat sebagai negara imperialis tentu saja berkepentingan di Ukraina.  Amerika tidak ingin pengaruh Rusia meluas dan terlampau kuat di kawasan ini. Amerika juga tidak begitu nyaman kalau Ukraina jatuh ke pelukan Eropa secara penuh. Tidak heran kalau Amerika oleh banyak pihak dituding dibalik revolusi Orange  yang menghantarkan Victor Yushchenko ke tampuk pemerintahan pada tahun 2004.

Pada era itu Ukraina menjadi partner strategis dan utama Amerika Serikat. Negara Paman Sam ini memberikan bantuan ekonomi ke Ukraina yang besarnya menduduki peringkat ketiga setelah Israel dan Mesir. Tujuannya untuk  memutus dependensi Ukraina terhadap Rusia secara ekonomi.

Namun krisis Ekonomi yang melanda Amerika, mengurangi kemampuan negara itu untuk mendukung Ukraina secara penuh.  Ditambah dengan semakin beratnya beban Amerika di Irak dan Afghanistan.

Di sisi lain, Amerika juga tidak ingin membiarkan Ukraina di bawah kontrol penuh Rusia atau Eropa dengan bergabungnya Ukraina ke Uni Eropa. Untuk itu Amerika punya kepentingan untuk menarik Ukrainia menjadi anggota NATO, di mana Amerika punya kendali besar dalam organisasi itu.

Di masa rezim Yanukovych yang pro Rusia, tekanan internal untuk bergabung dengan Uni Eropa menguat. Ikhwal ini memicu ketegangan dengan Rusia. Keputusan pemerintah untuk men’drop’ perjanjian asosiasi dengan Eropa sebagai langkah untuk bergabung dengan Uni Eropa menimbulkan kemarahan. Puluhan ribu demonstran turun ke jalan pada November 2013  yang berakhir dengan tumbangnya Yanukovych.

Tergulingnya rezim Yanukovych yang pro Rusia pada Februari 2014 tentu membuat negara itu marah. Rusia pun berupaya mengerahkan berbagai upaya untuk memperkuat kembali posisinya. Rusia melakukan berbagai monuver di antaranya  dengan menggerakkan tentaranya ke wilayah Ukrania. Tidak berhenti sampai di sana,  Rusia diduga sebagai aktor di belakang referendum yang menentukan nasib Crimea yang tidak diakui Barat.

Eropa dan Amerika pun melakukan reaksi balik. Walhasil, jadilah Ukraina terus bergejolak menjadi rebutan tiga negara ini. Kondisi yang membuat Ukraina terus bergejolak akibat tertawan dengan berbagai kepentingan negara lain.(Farid Wadjdi)

Box :  Crimea di Bawah Khilafah Islam

Wilayah Crimea ada di bawah Khilafah selama berabad-abad, hingga akhirnya diduduki oleh Rusia pada akhir abad ke-18.  Sebelumnya Crimea merupakan Emirat Islamiyah sejak 1430 M.  Kemudian menjadi salah satu wilayah (provinsi) daulah al-Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1521 pada masa Khilafah az-Zahir. Terakhir Crimea dipisahkan dari Daulah Utsmanniyah tahun 1783.

Rusia dan negara-negara Barat melakukan kejahatan-kejahatan di sana yang tidak dilakukan oleh binatang buas sekalipun.  Crimea kemudian dipaksa bergabung ke Rusia yang mengganti nama ibukotanya dari “ ’Aq Masjid” yang berarti Masjid Putih menjadi nama sekarang “Simferopol”.

Perlu diketahui bahwa Crimea (al-Qaram) berarti benteng dalam bahasa kuno penduduknya  (Tatar Muslim).  Begitulah, Crimea adalah bagian dari negeri Islam  yang diduduki Rusia tiga setengah abad lalu! Kestabilan Crimea dalam jangka panjang adalah  dengan kembali ke asalnya sebagai bagian dari wilayah Daulah al-Khilafah mendatang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: