Relasi Iran-Saudi: Kenapa Saudi Berubah Sikap ?


Jumat 16 Rejab 1435 / 16 Mei 2014 10:2

Oleh: Farid Wadjdi

Koordinator Forum on Islamic World Studies dan Alumnus Hubungan Internasional FISIP Unpad

Beberapa media massa mengungkap keinginan Saudi untuk memperbaiki hubungan dengan Iran. Di tengah kunjungan Menhan Amerika Chuck Hagel, Menlu Saudi Pangeran Saud al  Faisal Selasa (13/5/2014), menyatakan : “Iran adalah negara tetangga,kami memiliki hubungan dengan mereka

Relasi Iran-Saudi berjalan pasang surut. Pada tahun 1929 Iran dan Kerajaan Saudi menandatangani Saudi-Iran Friendship Treaty. Pada tahun 1966, Raja Faisal dari Saudi mengunjungi Iran untuk memperkokoh hubungan kedua negara. Shah Iran pun melakukan kunjungan balasan. Kedua negara pun terlibat aktif dalam  pembentukan lembaga-lembaga solidaritas Islam seperti Liga Muslim Dunia dan Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Perjanjian demarkasi penting ditandatangani pada tahun 1968. Menyusul pengumuman Inggris untuk mundur dari Teluk Persia pada akhir 1960-an. Iran dan Saudi pun mengambil alih tanggung jawab perdamaian regional.

Hubungan dua negara itu kembali memanas, terutama setelah pecahnya Revolusi Iran pada tahun 1979.  Khomeini saat itu secara terbuka mengkritik  legitimasi agama rezim Saudi. Sebaliknya Saudi menganggap Khoimeni dengan ajaran syiah yang dianutnya akan mengancam stabilitas regional Timur Tengah. Iran dituding ingin mengekspor revolusi Iran. Saat itu Isu konflik Sunni dan Syiah menguat.

Lebih kurang 3 tahun belakangan ini hubungan Iran dan Saudi kembali menegang di tengah pergolakan regional. Saudi mengkhawatirkan perkembangan program nuklir Iran yang dianggap akan mengancam Saudi. Perang Suriah juga membuat dua negara ini berhadap-hadapan. Riyad diklaim  mendukung kelompok perlawanan/oposisi , sementara Taheran secara terbuka  mengerahkan segala kemampuannya untuk mempertahankan posisi Bashar Asad, termasuk memobilisasi Hizbullah dari Lebanon.  Apa yang sebenarnya mempengaruhi kebijakan dua negara ini ?

Penting dipahami, Saudi dan Iran bukanlah dua negara yang independen. Monuver kedua negara dipengaruhi oleh negara payungnya. Keamanan elit-elit keluarga Saudi sangat tergantung kepada negara Barat terutama Amerika dan Inggris. Sikap Saudi akan sangat dipengaruhi kebijakan politik Amerika atau Inggris di kawasan itu. Sebab, kerajaan Saudi pada prinsipnya dikontrol oleh dua negara ini secara bergantian. Sederhana, untuk membaca kebijakan Saudi bacalah kebijakan Amerika dan Inggris!

Dari sini kita bisa memahami kenapa Saudi berubah sikap terhadap Ikhwanul Muslimin. Sebelumnya Saudi sangat ‘welcome’ terhadap Ikhwan. Beberapa aktifis Ikhwan pun bergerak leluasa di Saudi. Namun naiknya Sisi yang mengkudeta Mursi, membuat Saudi berubah arah. Ikhwan pun dimasukkan dalam kelompok teroris. Sikap ini tidak lain untuk memperkuat kebijakan Amerika di Mesir yang mendukung penuh jenderal as Sisi untuk menyikat potensi gerakan Islam.

Dalam perang Afghanistan(1975-1998) , kebijakan Saudi terhadap kawasan tersebut juga undercontrol Amerika. Amerika saat itu mengggap penting untuk menjebak Soviet untuk masuk dalam kubangan perang Afghanistan, untuk menguras sumber daya Soviet. Karena itu perang harus berlangsung lama dengan perlawanan yang kuat. Dalam posisi seperti ini bantuan Saudi menjadi penting untuk membackup perlawanan terhadap Soviet. Perang Afghanistan pun memberikan sumbangan penting bagi tumbangnya imperiumkomunis Soviet.

Dalam perang Irak (1991 dan 2003), peran Saudi penting untuk memuluskan kebijakan Amerika pasca ‘coldwar’  (perang dingin). Amerika menginginkan menjadi pemimpin tunggal dunia dalam strategi unipolar. Negara itu tidak mengingingkan eksistensi negara lain yang berpotensi untuk menjadi pemimpin baru dunia.

Kawasan Timur Tengah menjadi sangat penting bagi Amerika. Disamping untuk melemahkan peran tradisional Inggris, Amerika ingin mendapatkan garansi penuh suplay minyak murah dari negara-negara Teluk. Invasi Irak ke Kuwait menjadi jalan masuk Amerika untuk mengokohkan kedudukan politiknya dengan membangun pangkalan militer di kawasan tersebut termasuk di Saudi.

Tidak hanya itu, negara-negara teluk termasuk Saudi juga diminta untuk membiaya  perang Irak. Bagi Amerika ‘ No Free Lunch’, tidak ada makan siang gratis. Dengan alasan telah melindungi Kuwait dan negara-negara Arab, Amerika meminta Saudi untuk menutupi biaya perang sebesar 36 milyar US dollar.

Dalam konflik di Suriah, kebijakan Amerika sangat jelas, menggantikan Bashar Assad dengan rezim yang masih bisa dikontrol Amerika. Justru disitu persoalannya, hingga saat ini belum ada pengganti itu,yang bisa diterima oleh Amerika dan juga kelompok perlawanan. Di sisi lain Amerika tidak ingin mengambil resiko dengan keberadaan kelompok mujahidin yang menginginkan penegakan syariah Islam dan Khilafah, yang jelas-jelas akan mengancam kepentingan jangka panjang Amerika. Bukan hanya di Timur Tengah tapi juga dunia.

Tidak mengherankan, Amerika meskipun dalam retorika politiknya tampak bersebrangan dengan Bashar, tapi pada hakekatnya ingin tetap mempertahankan rezim Bashar. Untuk itu Amerika membiarkan Rusia dan Iran untuk secara terbuka membantu Bashar. Kalaulah tidak ada dukungan Rusia dan Iran dengan Hizbullah-nya dari Lebanon, Bashar akan lebih mudah jatuh.

Namun, Amerika juga tidak menginginkan keberadaan kelompok pejuang berseberangan dengan kepentingannya. Dalam konteks ini, Amerika menggunakan Saudi untuk membentuk dan membantu, kelompok perlawanan yang diharapkan bisa dikontrol oleh Saudi ke depan. Saudi juga menanamkan pengaruhnya pada Koalisi Nasional Suriah untuk meminimalisai peran Inggris yang bermain lewat Qatar. Melalui Saudi, Amerika mengarahkan aliran senjata kepada kelompok pendukung Paman Sam.

Berkaitan dengan isu nuklir Iran, Amerika tidak akan sungguh-sungguh menghancurkan program nuklir negara mullah tersebut. Amerika hanya mengontrol, agar program nuklir Iran tidak mengarah kepada kemampuan senjata nuklir. Amerika juga berusaha keras untuk menyakinkan Israel untuk tidak khawatir dan menyerang Iran. Isu nuklir Iran, dimanfaatkan dengan baik oleh Amerika sebagai faktor pengancam (threat factor)   di kawasan itu. Faktor yang akan mengikat negara-negara teluk termasuk Saudi untuk berlindung payung keamanan (security umbrella) Amerika.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: